Sangkar Suami Kejam

Sangkar Suami Kejam
Kelelahan


__ADS_3

...šŸ’”šŸ’”šŸ’–šŸ’–...


"Ka, jangan ngaur... umur itu rahasia ilahi ka, jangan percaya dengan mimpi hanya karena kaka mimpi buruk. Mimpi itu hanya kembang tidur ka!" ucap Naura yang kini mengelusss punggung Prans.


"Tapi mimpi ku itu seperti nyata, kau tau nyata? A- aku melihat kau tenggelam, meminta tolong pada ku! Tapi saat itu ke dua kaki mu bisa di gerakkan." ucap Prans dengan tatapan sendu, bayangan Naura yang tenggelam masih terngiang di kepalanya.


"Sudah lah ka, sekarang aku tidak apa apa kan ka? Aku baik baik saja!" Naura menangkup pipi Prans, ia menatap Prans meyakinkan suaminya yang tengah di liputi rasa khawatir.


"Janji pada ku! Jauhi kolam renang!" pinta Prans dengan ke dua tangannya yang menggenggammm bahu Naura dengan lembut.


"A- apa? A- aku tidak bisa! A- aku suka biar pun sesekali bermain air." ucap Naura dengan alisnya yang naik turun.


Hap.


Dalam sekali tarikan, Prans mendudukkan Naura di atas ke dua pahanya. Ke dua tangan Prans melingkar di pinggang Naura. Dengan dada bidangnya yang menempel pada punggung Naura.


"Sudah lah, aku tidak ingin berdebat, kau harus menurut dengan kata kata ku. Sekarang jam berapa?" tanya Prans.


"Pukul 7 pagi. Ada apa? Apa kaka ada janji dengan seseorang?" dengan isengnya, Naura berkali kali mencubit kecil punggung tangan Prans.


"Aku ingin melahap mu lagi! Biar kata aku yang lebih aktif, tapi aku suka dengan suara suara lenguhann mu, sayang!" Prans menggigit kecil ceruk leher Naura, kembali meninggalkan tanda tanda kepemilikan di sana.


"Ihsss dasar rubahhh mesummm, sekali mesummm... tetap aja mesummm!" sungut Naura dengan berusaha melepaskan diri dari jerat pelukan tangan kekar Prans.


Bugh.


Prans membuat Naura berada di bawah kungkungannya.


"Ka! Ayo bangun! Aku lapar! Aku butuh makan! Yang lain, di bawah pasti sudah menunggu kita untuk turun!" Naura memainkan jarinya di dada bidang Prans.


"Mereka tidak akan menunggu kita turun, ada Haikal yang akan menangani mereka semua!" kilah Prans dengan bibirnya yang menjelajahi leher Naura, tangannya perlahan melepasss apa yang melekat pada tubuh Naura.

__ADS_1


"Tapi aku lapar ka!" ucap Naura dengan tatapan memohon.


"Maaf ya sayang, kali ini aku yang akan melahap mu dulu. Hehehe baru setelah itu kita makan bersama!" Prans melepasss apa yang melekat pada tubuhnya.


"Kaaaaaa!" rengek Naura, yang membuat Prans semakin bersemangat untuk menjelajahi kenikmatan surga dunia.


"Apa sayang! Hanya sebentar!" dengan perlahan Prans mengecap gunung kembar Naura yang membusung padat.


Naura menggeliat, merasakan sesuatu yang menusuk bagian intinya yang masuk dengan perlahan.


"Emmmmhhhhh emmmppp." Prans melumattt bibir Naura dengan menuntut.


Aku tidak akan membiarkan sesuatu hal buruk terjadi lagi pada mu, sayang! Apa lagi sekarang ada yang sedang tumbuh di dalam rahim mu. Kita akan menjadi keluarga yang sangat bahagia, aku menantikan kelahiran calon anak kita, sayang!


Prans menggerakkan pinggulnya, memaju mundurkan senjatanya pada bagian inti Naura, semoga apa yang papa lakukan ini tidak menyakiti mu, sayang!


Bukan Prans jika hanya bermain sejenak, apa yang di ucapkannya tidak lah sesuai dengan kenyataannya.


"Sayang, ayo buka mata mu! Kita mandi... baru setelah itu kita sarapan ya!" ucap Prans dengan bersemangat, karena adik kecilnya sudah puas menjenguk goa Naura.


"A- aku lelah ka! A- aku seperti tidak punya tenaga lagi!" ucap Naura sebelum ke dua matanya terpejam.


Prans menanggapinya dengan biasa saja, tanpa menaruh curiga. Karena dirinya dan Naura acap kali bersandiwara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.


"Jangan bercanda sayang! Katanya kau lapar, ayo kita bermain air dan busa!" Prans menggendong tubuh Naura.


Prans mengerutkan keningnya, mendapati jika Naura tidak dalam keadaan bercanda.


"Ah sialll, ada apa lagi ini!" gerutu Prans dengan mengurungkan niatnya untuk mandi.


Prans membaringkan Naura kembali di atas tempat tidur. Dengan tubuh yang ia selimuti.

__ADS_1


Prans mengenakan kembali pakaiannya, memanggil Samuel lewat hape-nya.


"Cepat ke kamar ku sekarang juga!" titah Prans dengan suara yang tergesa gesa, kekawatiran tampak dari suaranya.


Prans menggosokkan jemari tangan Naura, dengan tangannya, "Ayo sayang, buka matamu. Jangan membuat ku takut!" gumam Prans dengan menatap Naura nanar, apa yang menyebabkan Naura jadi seperti ini! Apa mungkin Naura salah makan? Tapi pagi ini Naura belum sarapan.


Tok tok tok.


"Apa aku boleh masuk?" tanya Samuel yang kini mengetuk pintu kamar Prans.


"Masuk lah! Cepat kau periksa keadaan Naura. Aku rasa ada yang salah dengan makanannya!" ucap Prans pada Samuel, sementara ia enggan beranjak dari duduknya.


Samuel menatap curiga pada Prans, "Bagaimana aku bisa memeriksa keadaan Nona, jika Tuan saja masih betah duduk di sana?"


"Jangan banyak alasan Samuel! Cepat lakukan tugas mu! Aku tidak ingin terjadi apa apa dengan istri ku! Jika sampai terjadi hal karena kau telat memeriksanya, aku kirim kau ke negara yang tengah berseteru!" seru Prans dengan dingin.


Samuel mengindai wajah Naura yang tampak kelelahan, keningnya mengkerut, matanya menatap tajam Prans, ia pun mendorong bahu Prans hingga ia berhasil menggeser duduknya Prans.


Sreeek bugh.


"Kurang ajarrr kau! Berani menggeser duduk ku!" sungut Prans dengan kesal.


"Dasar Tuan rubahhh bodoh, aku akan memeriksa keadaan istri mu! Ini pasti karena mu!" decak Samuel, dengan memeriksakan keadaan Naura.


"A- apa? Kau bilang Naura jadi seperti ini karena aku? Yang benar saja kau dokter gadungan!" maki Prans.


Bersambung...


...šŸ’–šŸ’–šŸ’–...


Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.

__ADS_1


Abaikan kalo ga suka ya šŸ˜…šŸ˜…


__ADS_2