
...šššš...
Amarta membuang nafasnya dengan kasar, "Akan saya buka Nona." ucap Amarta sebelum membuka pintu di mana Prans berada.
Ceklek.
Nampak Samuel yang duduk di sofa dekat tempat tidur, di mana Prans tengah terbaring dengan pergelangan tangan kanannya menacap selang infus.
"Ada apa, sus? Kenapa kau meninggalkan Nona sendiri?" tanya Samuel tanpa menoleh, siapa yang membuka pintu.
"Maaf dokter, Nona ingin bertemu dengan Tuan Muda." cicit Amarta yang membuat Samuel menoleh ke arahnya.
Samuel menutup majalah yang ia baca, lalu meletakkannya di sofa yang tadi ia duduki.
Naura menatap dengan penuh selidik, cairan infus yang mengalir ke dalam tubuh Prans lewat pergelangan tangannya.
"Apa yang terjadi dengan ka Prans, dok?" tanya Naura yang menggerakkan sendiri kursi rodanya mendekati ranjang di mana Prans berada.
"Tuan tidak apa apa Nona. Hanya butuh istirahat nanti juga akan seperti sedia kala. Saya memberinya infus hanya untuk mengganti cairan yang harusnya masuk ke dalam tubuhnya." ujar Samuel yang mengerti akan tatapan Naura.
Naura mengingat kembali, apa yang terjadi dengan Prans saat di jalan menuju puncak.
Naura menelan salivanya dengan sulit, ia menghapus bulir bening yang menerobos pelupuk matanya, aku harus tau alasannya kenapa keluarga ku bisa tiada.
"Ka Prans sakit apa?" tanya Naura datar, menatap tajam Samuel, jangan bilang ini salah satu sandiwara mu ka, hanya untuk menghindari pertanyaan dari ku.
Sementara Prans yang sejak tadi sudah sadar, terus pura pura tertidur, bagus sayang. Ayo katakan apa yang ingin kau katakan! Aku tahu hati mu sudah kuat untuk mendengar apa yang harus kau dengar!
"Tuan Muda kehilangan banyak cairan, Nona. Sementara Tuan Muda melewatkan sarapannya. Belum lagi tekanan yang harus Tuan hadapi, Tuan juga tampak stres dengan beberapa hal ia sedang ia pikirkan, itu yang menyebabkan Tuan ambruk." terang Samuel panjang kali lebar mengenai kondisi Prans.
"Dokter Samuel serius kan? Atau dokter sedang membantu ka Prans, melindunginya untuk menghindari ku?" tuduh Naura, menatap sinis Samuel.
Samuel menggelengkan kepalanya, menatap perut Naura yang masih datar, dasarrr kau, baru sebesar biji kacang hijau saja kau sudah berani menuduh ku. Apa lagi jika kau sudah tumbuh menjadi janin! Mungkin saja kau akan bersikap kejam seperti papa mu!
"Kalian ke luar lah!" ucap Prans dengan mata yang masih terpejam, ia memijat pangkal hidungnya dengan tangan kirinya.
Samuel berjalan mendekati Prans, "Kau sudah sadar rupanya? Banyak banyak lah bersabar, sepertinya calon bayi mu akan menyulitkan hidup mu! Kalian berdua sama saja!" ucap Samuel dengan berbisik di telinga Prans, sementara pandangannya mengarah pada Naura.
"Apa kalian tidak dengar, apa yang ka Prans katakan barusan?" tegur Naura, saat melihat Samuel dan Amarta belum meninggalkan ruangan.
Prans membuka ke dua matanya, rasa pusing kini bersarang di kepalanya, wajahnya tampak memerah menahan suhu tubuhnya yang kini demam. Tidak ada lagi wajah sangar dari wajah Prans, yang ada hanya wajah Prans yang tampak pucat.
__ADS_1
"Jika kalian butuh sesuatu, panggil lah aku atau Amarta. Kami berdua akan menunggu kalian di luar!" ucap Samuel dengan menepuk bahu Prans.
Samuel dan Amarta meninggalkan ke duanya di dalam ruang itu. Untuk sesaat ruang itu menjadi hening, nampak Prans yang mengamati wajah Naura yang tidak baik baik saja. Begitu pun dengan Naura, menatap tajam Prans. Menunggu kata apa yang akan di ucapkan Prans padanya.
"Apa kau sudah lebih baikan, sayang?" Prans melepasss dengan paksa jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya.
Sreek.
Naura menatap sinis tindakan Prans, kini sulit baginya untuk dapat mempercayai Prans yang sudah membohonginya, akan kebenaran akan keluarganya selama ini.
Paling hanya sebagian kecil dari sandiwara yang sedang kau mainkan pada ku, ka! Aku tidak akan terpengaruh oleh mu.
Prans melangkah menghampiri Naura, sementara Naura menggerakkan kursi rodanya menuju jendela yang ada di ruang itu, menatap langit malam lewat jendela.
"Katakan pada ku, apa yang ingin kau tanyakan, sayang?" tanya Prans dengan ke dua tangannya yang menyentuh bahu Naura.
Naura merasakan suhu tubuh Prans yang demam, saat telapak tangan Prans menyentuh bahunya. Namun emosi menguasai hati Naura, ia mengabaikan kondisi Prans saat ini.
"Katakan pada ku, apa yang terjadi pada orang tua ku dan Dito! Jangan ada yang kau sembunyikan dari ku, ka!" ucap Naura dengan datar, tanpa menoleh sedikit pun pada Prans.
Prans meraih tangan Naura, ia menggenggamnya, menghujaninya dengan kecupan. Prans menatap Naura dengan teduh.
Naura melepaskan tangannya dari genggaman Prans dengan kasar, "Katakan yang sejujurnya ka, apa yang terjadi pada mereka! Jika kaka tidak ingin mengatakannya, aku yang akan mencari tahunya sendiri!"
Prans tersenyum getir melihat tatapan dan perlakuan Naura padanya, "Mereka tewas karena terkena tembakan dari Jasen. Pria gila yang mengacaukan resepsi pernikahan kita. Jasen menembakkan senjata apinya secara membabi buta pada tamu undangan yang hadir saat itu, sayang! Dan Serli juga ada di antara korban terluka."
Naura menoleh ke arah Prans, jadi bukan hanya orang tua ku, Dito, tapi ada Serli juga yang menjadi korban saat itu?
"Serli menghembuskan nafas terakhirnya, saat di larikan ke rumah sakit." Prans melanjutkan perkataannya dengan tangan kiri mengelusss bahu Naura Naura.
"Kenapa Jasen melakukan ini semua pada ku, ka? Apa dia salah satu musuh kaka?" tuduh Naura.
"Mungkin bisa di bilang begitu. Tapi percaya lah pada ku! Aku tidak tahu apa apa soal ini. Penjagaan yang sudah aku berikan saat itu, masih bisa di lewatinya dengan mudah, karena Jasen menyamar sebagai seorang pelayan. Dia juga memberikan mu minuman kan! Sekarang kau jadi lumpuh, karena minuman yang kau minum itu sudah di beri obat yang akan menyerang syaraf kaki mu." ujar Prans terus terang dengan sedikit berdalih agar Naura tidak menyalahkan dirinya sepenuhnya.
"Apa alasan Jasen melakukan ini semua pada ku? Sasarannya aku atau kau, ka?" tanya Naura dengan tatapan penuh selidik.
Prans menelan salivanya dengan sulit, mendapati pertanyaan dari sang istri.
Sreek.
Naura menepis tangan Prans yang kini mencengram bahu Naura, bukan jawaban yang ia dengar dari bibir Prans.
__ADS_1
Naura menggerakan kursi rodanya menjauh dari Prans, membawa kursi rodanya menuju balkon, ia meluapkan kekesalannya pada pria yang berstatuskan suaminya.
"Jasen mengincar mu kan? Kenapa sih... kau senang sekali mencari musuh? Apa yang sudah kau lakukan padanya kali ini ka! Hingga membuatnya hilang akal, dia tega menghabisi semua keluarga ku! Sahabat ku! Apa dia juga bisa menghabisiii ku, jika kau tidak berhasil menemukan ku saat itu, ka? Jawab aku ka!" seru Naura dengan suara yang meninggi.
Prans mengerutkan keningnya, menatap Naura tidak kalah tajam, ia melangkah mendekati Naura, "Aku tidak salah dengan setiap keputusan yang ku buat, Naura! Hanya saja keberuntungan sedang tidak memihak ku untuk melindungi nyawa keluarga mu! Kau tahu, aku berani membayar berapa pun seseorang untuk menutup mulutnya dari mu! Begitu pun dengan mu, aku sanggup melakukan apa pun untuk mu tetap berada di sisi ku!"
"Jangan mimpi! Kaka pikir aku akan tetap bersama kaka... setelah tau kaka lah orang yang harus bertanggung jawab atas apa yang menimpa keluarga ku?" ucap Naura dengan sinis.
Sreek.
Prans menarikk tangan kiri Naura dengan tangan kanannya, membuat wanita itu bangkit dari kursi rodanya.
"Aakkkhhh!" pekik Naura berbarengan dengan kursi rodanya yang bergerak mundur dan berhenti saat membentur benda yang ada di tabraknya.
Brak.
Deru nafas Naura tidak karuan, dadanya naik turun, hati kecilnya takut menghadapi Prans yang seperti hilang akal. Tidak ada lagi tatapan hangat dari sorot mata Prans. Yang ada hanya tatapan memburu, tatapan menyeramkan dengan seringai di sudut bibirnya.
"A- apa yang akan kaka lakukan pada ku? A- apa kaka akan membunuh ku heh!" tantang Naura dengan tangan kanannya yang berada di bahu Prans, mencoba menjauhkan diri dari tubuh Prans.
Naura menoleh ke belakang, saat Prans melangkah maju dan ia melangkah mundur dengan kakinya yang berat untuk melangkah mundur.
Naura menatap Prans dengan rasa takut, kenapa? A- ada apa dengan ka Prans?
"Jika aku ingin membunuh mu, kau bisa apa, sayang? Mau berteriak? Teriak lah! Kita lihat, apa ada orang lain yang berani menolong mu dari tangan maut ku?" Prans menyeringai.
Prans dapat merasakan rasa takut Naura, saat berada dekat dengannya.
"Ja- jangan ma- macam ma- macam ka! A- aku masih istri mu, ka! A- aku ingin kita berpisah ka! A- aku tidak bisa lagi menjadi istri mu! Lepas ka!" Naura mencoba melepaskan diri dari tangan kiri Prans yang merekat pada pinggulnya, sementara tangan kanannya merekat erat pada lengan kiri Naura.
Sreek.
"Akkkhhh, ka... apa yang kaka lakukan? Kaka bisa membunuh ku!"
bersambung...
...ššš...
Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.
Abaikan kalo ga suka ya š š
__ADS_1