Sangkar Suami Kejam

Sangkar Suami Kejam
Cara ku untuk membalas


__ADS_3

...šŸ’–šŸ’–šŸ’–šŸ’”šŸ’”šŸ’”...


Ayo sayang, kamu pasti bisa, aku yakin! Kamu pasti bisa, demi aku, demi buah cinta kita, kamu bisa sayang!


Bugh.


Naura jatuh ke dalam pelukan Prans, saat ke dua kakinya tidak bisa menopang bobot tubuhnya.


"Aku kan sudah bilang, kau tidak bisa jauh dari ku!" Prans menatap Naura dengan tatapan yang genit, ke dua tangannya merekat pada pinggul Naura.


Bugh.


Naura memukulll dada bidang Prans.


"Dasar rubahhh mesummm, sekali mesummm tetap aja mesummm! Ayo sekarang antar aku ke kamar mandi! Jangan buang waktu ku ka!" celoteh Naura dengan kesal, lagi lagi aku membutuhkan bantuan ka Prans, bisa apa aku tanpa mu, ka! Dasar rubahhh besar kepala!


Hap.


Prans menggendong Naura dengan ke dua tangannya, membawanya ke kamar mandi, "Bukan aku yang besar kepala, tapi kau sayang... yang besar kepala! Kau membutuhkan ku, tapi aku tidak mendengar kau mengatakan tolong pada ku?"


"Kaka tidak ikhlas membantu ku? Dasar perhitungan!" Naura mengalihkan pandangannya, rasa gengsinya jauh lebih besar, untuk mengatakan tolong pada Prans.


Bukannya mendudukkan Naura di bathtub, Prans justru menurunkan Naura di bawah keran shower.


😊


Yang puasa di skip dulu, hehehe kehaluan bebas sampe kembang ya gays.šŸƒšŸ¼ā€ā™€ļøšŸƒšŸ¼ā€ā™€ļøšŸƒšŸ¼ā€ā™€ļø


"A- apa yang kaka lakukan? Ka, jangan bodoh ihs, aku mau subuh ka!" ucap Naura dengan wajah piasss dan gugup, lantaran Prans langsung melorotkan celananya dan kain segi tiga yang menutupi goa miliknya.


"Anggap ini balasan... karena kau sudah mengerjai ku untuk menghabiskan makanan yang semalam aku makan. Cukup adil kan sayang, cara ku untuk membalas setiap perlakuan mu!" Prans menyeringai dengan tangannya yang melepasss helai demi helai kain yang menutupi tubuh atletisnya.


"Astagaaa ka Prans! Jangan bertingkah seperti anak kecil ka! Sadar ka, kamu itu pria dewasa!" Naura mencoba melangkah perlahan dengan ke dua tangan yang sedikit merentang, mengimbangi gerak ke dua kakinya.


Grap.


Prans mendekap tubuh Naura yang menyisakan pakaian atasnya, lalu menyalakan keran shower yang membasahi tubuh ke duanya.


"Ka Prans! Lepas! Aku tidak ingin di sentuh oleh mu ka!" Naura berontak menjauhkan kepala Prans yang menyusuri leher jenjangnya dengan tangan Naura.

__ADS_1


"Sudah lah sayang, bibir mu berkata tidak... tapi tubuh mu menginginkan setiap sentuhan ku, apa lagi calon anak kita. Sudah menanti di jenguk papanya!" ucap Prans dengan sesekali menyesapp leber Naura, meninggalkan jejak jejak kepemilikan, yang membuat tubuh Naura bergetar merasakan sensasinya.


"Ka Prans! Dasar rubahhh gila, rubahhh mesummm! Awas kau ya ka!" Naura memaki Prans saat tubuhnya di gendong Prans, ke dua kaki Naura melingkar di pinggang Prans, dengan tangan kiri Prans yang menopang bokong Naura, sementara tangan kanannya sibuk membuka kancing piyama Naura.


Prans membungkam bibir Naura dengan bibirnya, hingga Naura tidak bisa lagi mengumpat Prans dengan bibirnya. Bukan Naura jika ia tidak bisa mengumpat, Naura mengumpat Prans dalam hatinya, meski tubuh tidak bisa ia pungkiri menikmati setiap sentuhan yang Prans berikan padanya.


"Hmmmmppppphhh, ka mmmpphhh!" dasar rubahhh, maunya enak sendiri, aku masih kesal ka! Dasar pria tidak punya perasaan.


Prans benar benar membalas Naura dengan kenikmatan, membuat Naura berkali kali merasakan larva hangat yang di muntahkan Prans di dalam goa miliknya.


🌹🌹


Acara Naura berantakan karena Prans.


Prans membuat Naura kelelahan di kamar mandi, yang berakhir dengan Naura yang kembali memejamkan ke dua matanya, setelah Prans memandikan dan memakaikan Naura pakaian kembali.


Prans menyelimuti tubuh Naura dengan selimut, membuat wanitanya itu menjadi nyaman dalam tidurnya.


Prans mendudukan dirinya di sofa yang ada di dalam kamar, meski di depannya layar laptop menyala, pandangan Prans sesekali melirik ke arah Naura yang sesekali menggeliat di atas tempat tidur.


"Kenapa aku sulit jauh dari mu, sayang! Seakan aku tidak akan bisa tenang jika kau menghilang dari pandangan ku." gumam Prans dengan tangannya yang menari nari di atas papan keyboard.


Dreet dreet dreet.


"Ada apa Dev?" tanya Prans begitu sambungan telponnya ia jawab.


[ "Begini Tuan, ada yang ingin bermain main dengan anak perusahaan yang ada di cabang Lampung. Mau di bereskan sampai ke akar, atau mengikuti cara main mereka, Tuan?" ] tanya Dev.


"Apa itu perusahaan yang di pimpin oleh Lubis? Orang tua dari Serli?" tanya Prans dengan kening mengkerut.


[ "Benar Tuan. Mereka sudah mulai bergerak, mengoplos barang yang kita pesan dengan kualitas yang jauh dari standar hotel" ]


"Buat mereka mengganti rugi apa yang sudah mereka curangi! Jika masih tidak berubah, buat nama perusahaan, jika perlu nama keluarga itu lenyap dari muka bumi ini!" ucap Prans dengan tegas.


[ "Tapi Tuan, bagaimana jika Nona mengetahui ini semua? Nona pasti akan sangat kecewa pada Tuan." ]


"Jangan bersikap lembek Dev! Siapa pun yang berani main main dengan ku, mereka harus di lenyapkan sebelum menggerogoti perusahaan ku yang lainnya! Kau mengerti kan?"


[ "Baik Tuan, akan saya kerjakan saat ini juga." ]

__ADS_1


Dev tidak berani membantah Prans lagi, ia menyanggupi apa yang di perintahkan Prans padanya.


Naura yang samar samar mendengar pembicaraan Prans dengan Dev di telpon, tidak bisa lagi memyembunyikan rasa penasarannya.


Kenapa ka Prans ingin melakukan itu pada orang tua Serli? Mereka sudah kehilangan anak semata wayangnya, lalu sekarang apa ka Prans benar benar tega ingin melenyapkan keluarga itu?


Prans membuang nafasnya dengan kasar, ia menyimpan hapenya di saku celana yang tengah ia kenakan. Melangkah menghampiri Naura yang masih dalam posisi terlentang di atas tempat tidur.


"Apa kau menguping pembicaraan ku, hem? Katakan apa yang ingin kau katakan, sayang?" Prans mendudukkan dirinya di tepian kasur, mengelusss kepala Naura dengan kasih sayang.


Naura beranjak dari tidurnya, sementara Prans membantu Naura menyelipkan bantal di punggung sang istri, membuat Naura bersandar pada kepala ranjang, yang sudah di lapisi dengan bantal yang empuk.


Grap.


Naura menggenggammm tangan Prans, dengan tatapan memohon, ia berkata, "Jangan lakukan hal keji pada orang tua Serli, ka!"


"Aku tidak akan melakukan hal keji, jika mereka tidak menyinggung ku, sayang!" kilah Prans.


"Apa yang membuat kaka tersinggung dengan mereka?" tanya Naura dengan polosnya.


"Mereka ingin merusak nama baik hotel ku, dengan sengaja mereka mengirimkan barang barang yang sudah ku pesan dari mereka dengan barang lain yang di bawah kualitas hotel ku! Apa itu namanya kalo bukan tersinggung? Mereka dengan sengaja melakukannya! Mereka tidak profesional, sayang! Wajar saja bukan, jika aku akan membuat perusahaannya mengganti rugi, kerugian hotel ku!" terang Prans.


"Mereka pasti tidak sengaja ka, atau bisa saja bagian pengiriman yang melakukan kesalahan. Aku percaya mereka orang yang jujur ka." terang Naura yang membela orang tua almarhum Serli.


"Keadaan pasti sudah merubah seseorang Naura, dari yang baik bisa saja menjadi jahat. Dari yang jujur, bisa saja menjadi penghianat! Tidak jauh halnya dengan mereka, orang yang sudah kau bela saat ini." cicit Prans.


"Tapi ka! Bisa kan aku bertemu dengan orang tua Serli! Aku bisa menjelaskan pada mereka, mereka melakukan ini pasti karena Serli ka, Serli lah satu satunya harapan mereka. Tapi sekarang Serli sudah meninggal. Kaka mengerti maksud ku, kan?" Naura berusaha membujuk Prans, untuk menghentikan rencananya yang akan membuat Yenny dan Lubis bangkrut.


Prans beranjak dari duduknya, menggendong Naura dengan ke dua tangannya, "Sudah waktunya kita berangkat!"


Hap.


Naura mengerutkan keningnya, menatap Prans dengan penuh selidik, ke dua tangan yang melingkar di leher Prans.


"Kita mau kemana lagi ka? Apa yang ingin kaka rencanakan sekarang? Kaka tidak akan bersikap bodoh kan?" cecar Naura.


Bersambung...


...šŸ’–šŸ’–šŸ’–...

__ADS_1


Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.


Abaikan kalo ga suka ya šŸ˜…šŸ˜…


__ADS_2