
...šš„š...
"Aku ingin ke luar dari kamar ini ka! Biar kan aku ke luar dari kamar ini! Kenapa kaka harus mengurung ku di kamar ini? Aku bukan seekor burung yang bisa kaka sembunyikan di dalam sangkar, aku ingin ke luar!" seru Naura dengan suara yang naik satu oktaf.
Sreeek.
Prang.
Prans membanting nampan yang ada di tangannya ke lantai.
"Akhh."
Naura menutup ke dua telinganya dengan tangannya, mendapati reaksi Prans, membuatnya menciut.
Prans menatap Naura dengan tajam, dadanya naik turun, deru nafas Prans tidak beraturan, ingin rasanya ia membuat Naura bungkam, dan menuruti apa yang ia katakan tanpa membantahnya.
"Apa kau benar benar ingin ke luar dari rumah ini? Apa aku mengikat kaki mu dengan rantai? Apa aku melarang mu untuk ke luar dari kamar ini? Katakan pada ku, Naura! Jangan diam saja kamu hah!" bentak Prans.
Naura menatap Prans dengan bulir bening yang menerobos dari kelopak mata indahnya, "A- aku maaf ka, aku hanya ingin tahu keadaan mama, papa, dan Dito. Aku rindu mereka ka!"
Dug.
Hati Prans seakan terpukul, tanpa sadar sikapnya membuat Naura menangis.
Prans mengepalkan tangannya, sialll kenapa hati ku seakan terluka, setiap kali melihat ia menangis.
Hap.
"Kau istirahat lah, aku akan menemani mu di sini!" seru Prans dengan membaringkan tubuh Naura di atas tempat tidur.
Naura menelan salivanya dengan sulit, ia menatap wajah Prans yang tampak banyak pikiran, "Apa kaka masih marah pada ku?"
__ADS_1
Prans ikut naik ke atas tempat tidur, ia menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Naura yang melihatnya langsung beranjak dari posisinya, ia menyandarkan tubuhnya pada Prans. Prans melingkarkan ke dua tangannya di pinggang Naura
"Pertanyaan mu sangat konyol, Naura! Kau tahu Naura, aku sangat marah pada mu, aku sangat kesal pada mu... kau tidak mau menuruti ku, itu membuat ku murka! Tapi aku tidak tega saat mata ini menangis!" cicit Prans dengan jujur, ia mendaratkan bibirnya pada pucuk kepala Naura.
Naura mengadahkan wajahnya, menatap Prans dengan penuh harap, "Maaf ka, jika aku menurut... apa kaka akan mengabulkan ke inginan ku, untuk bertemu dengan orang tua ku? Kita bisa ke Bandung bersama, jika kaka sudah senggang dengan pekerjaan kaka."
Prans tidak menjawab pertanyaan Naura, ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Naura, hingga bebda kenyal Prans menyatu dengan bibir Naura.
Prans mengecup sekilas bibir Naura, melumattt bibir bawah Naura. Dengan tatapan Prans yang penuh damba, aku merindukan permainan panas kita, sayang!
Naura mengerucutkan bibirnya, "Kaka belum menjawab pertanyaan ku, bisa kan jika kaka memiliki waktu senggang kita jalan jalan ke Bandung? Kita jenguk papa dan mama."
Prans tidak mendengarkan pertanyaan Naura, ia sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Entah sampai kapan, aku bisa menyembunyikan kematian orang tua serta adik laki laki mu dari mu, Naura! Aku juga sudah menyembunyikan kematian Serli, sahabat mu dari mu, sayang!
"Kaka diam, aku anggap kaka setuju dengan perkataan ku!" ucap Naura yang langsung melingkarkan ke dua tangannya di pinggang Prans.
"Kaka juga tidur lah, kaka harus banyak istirahat biar otak kaka gak ngebul sama pekerjaan. Orang seperti kaka ini, paling membutuh kan banyak istirahat, biar meredam emosi kaka. Tingkat amukan kaka!" cicit Naura yang mulai berani berkicau.
Prans mencondongkan tubuhnya semakin dekat dengan wajah Naura, memberikannya tatapan tajam.
"Kau sudah berani menceramahi ku?" tanya Prans dengan dingin.
Naura menarik leher baju Prans, membuat tubuhnya semakin condong dengan tubuh Naura.
"Aku tidak menceramahi mu, aku hanya mengatakan yang sebenarnya! Itu ke benarannya ka! Kau sibuk kerja, hingga lupa istirahat, membuat kadar emosi mu sulit untuk di kendalikan!" ucap Naura dengan tatapan yang menggoda Prans.
Prans membatin, anak ini benar benar membuat ku gila. Belum lama ia menangis, meminta bertemu dengan orang tuanya, sekarang sudah berani mengejek ku? Astaga lihat itu, tatapan matanya sudah mulai berani menggoda ku, benar benar... bocah ini, wanita ini, sudah berani menguji ke sabaran adik kecil ku!
Dreeet dreeet dreeet.
__ADS_1
Prans memaki dalam hati orang yang menelponnya, salll... siapa lagi yang menghubungi ku! Cari matiii, awas jika tidak ada hal penting! Ku habisiii kalian yang menggagu ku!
Cup.
Prans mengecup kening Naura, setelah ia melihat siapa yang menghubunginya.
"Istirahat lah. Aku harus menjawab telpon ku." ujar Prans, sedangkan Naura mengangguk patuh.
Naura melihat Prans yang beranjak dari tempat tidur, Prans melangkah meninggalkan kamar, siapa yang menghubunginya? Kenapa tidak menjawab di sini saja!
Di luar kamar, sudah ada seorang bodyguard yang berjaga di depan pintu kamar Prans, "Panggi Dedi, minta seseorang untuk membereskan ke kacauan di dalam kamar ku!" titah Prans yang langsung menuju ruang kerjanya.
"Siap bos!" sang bodyguard langsung menghubungi pak Dedi lewat hape-nya, mengatakan apa yang di perintahkan Prans padanya.
Sementara di dalam ruang kerja Prans, nampak Haikal dan Dega sudah berdiri menunggu ke datangan bosnya.
"Apa yang ingin kalian laporkan?" tanya Prans saat ia sudah menduduki kursi kerjanya.
Haikal dan Dega langsung mengikuti Prans, ke duanya langsung duduk di kursi depan Prans, mereka berdua saling tatap.
"Lo dulu aja bang yang katakan!" seru Dega.
"Mending lo dulu aja, pasti bos seneng dengernya." ucap Haikal.
Prans menatap ke duanya dengan kening mengkerut, "Kalian mau katakan, atau aku lempar dulu kalian ke kandang buaya!" ancam Prans dengan nada datar.
bersambung....
...ššš...
makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.
__ADS_1
Abaikan kalo ga suka ya š š