Sangkar Suami Kejam

Sangkar Suami Kejam
Kalian nyawa ku


__ADS_3

...šŸ’–šŸ’–šŸ’”šŸ’”...


"Ka! Aku sedang marah pada mu! Kau malah mau merayakan kehamilan ku?" protes Naura dengan bibir mengerucut.


"Kau urus segalanya Dedi! Aku tidak ingin ada sedikit kesalahan. Hal terkecil pun, tidak boleh terjadi!" ucap Prans datar, yang langsung membawa Naura masuk ke dalam lift.


"Maaf Tuan." Dedi menghentikan kembali langkah Prans yang hanya tinggal menunggu Dedi menekan tombol tutup pada lift.


"Apa lagi! Kau ingin membut ku memecat mu, Dedi!" ucap Prans dengan suara yang penuh pekanan.


"Apa Tuan tidak ingin mengundang sahabat Nona ke sini? Saya rasa Nona akan merasa senang dengan kehadiran para sahabat dan karyawan Nona!" usul Dedi.


Naura menganggukkan kepalanya dengan cepat, menatap Prans dengan mata berbinar, seakan setuju dengan usulan pak Ded.


"Kau siapkan makan malam untuk kami berdua!" Prans langsung menekan tombol tutup pada lift dengan menggunakan sikunya.


Naura langsung menyingkirkan ke dua tangannya dari leher Prans, menatap kesal Prans, sejak kapan tangan ku melingkar di lehernya? Dasar rubah kejam! Seenaknya saja mengambil keputusan.


"Kau tahu kan sekarang kau itu sedang berbadan dua, alias mengandung, jadi kau harus bisa mengontrol emosi mu, makan mu. Apa pun yang ingin kau makan, katakan saja pada Dedi." cicit Prans yang mendadak menjadi bawel.


"Bagaimana aku bisa mengontrol emosi ku, jika aku terus saja melihat wajah mu ka!" gerutu Naura.


"Kau akan terus melihat wajah ku, apa pun yang terjadi. Meski kau meminta ku untuk pindah kamar, aku akan tetap ada di sini, di kamar ini! Istirahat lah! Aku akan menjemput mu jika makan malam sudah siap!" Prans membaringkan Naura di atas tempat tidur, dan menyelimutinya.


"Aku tetap ingin kaka tidak tidur di kamar ini! Atau aku yang pindah dari kamar ini!" ancam Naura.


Bugh.


Prans membanting pintu dengan keras. Membuat Naura berjingkat kaget.


"Dasarrr ka Prans bodoh! Pria menyebalkan! Kenapa aku bisa menyukainya ya Tuhan!" dumel Naura dengan melemparkan bantal bantal yang ada di atas tempat tidur.


Bugh bugh bugh bugh.


Bantal yang di lempar Naura, terhempas begitu saja di atas lantai.


"Kenapa kaki ku harus lumpuh! Andai aku bisa berjalan, aku pasti akan lari dari mu ka! Lalu aku kembali untuk menghabisi nyawa mu! Jasen, apa yang sebenarnya sudah di lakukan ka Prans pada mu hingga kamu dengan tega melenyapkan keluarga ku! Akkkkkkkkhhh!" Naura berteriak sekencang kencangnya, dengan bulir bening yang membasahi pipinya.


Bugh bugh bugh.


"Ayo bergerak! Aku ingin bisa kembali berjalan!" Naura memukulll mukulll ke dua kakinya dengan kepalan tangannya.


Prans yang masih berdiri di ambang pintu hanya bisa mengintip Naura dari luar, kau bisa marah pada ku, tapi aku tidak akan pernah melepaskan mu. Karena sampai kapan pun, kalian berdua hanya milik ku, bagian dari hidup ku, kalian nyawa ku yang harus aku jaga.


"Maaf Tuan, saya rasa hal ini tidak bisa di biarkan terus terjadi pada Nona. Ini akan sangat tidak baik untuk perkembangan janin Nona." ucap Amarta, mencoba memberanikan diri untuk berkata pada Prans.

__ADS_1


"Aku tahu mana yang baik dan tidak untuk istri dan calon anak ku, sus! Pergilah, bantu Dedi untuk menyiapkan segalanya!" titah Prans pada Amarta.


Prans menghubungi Haikal lewat sambungan telponnya.


[ "Iya bos, apa lagi yang bisa saya lakukan?" ] tanya Haikal, yang langsung mengerti jika akan mendapat tugas baru dari Prans.


"Pintar juga kau ya, aku ingin kau mengatur pesta untuk menghibur Naura. Liburkan semua karyawan kedai pelangi, dan bawa mereka ke rumah orang tua Naura."


[ "Semua karyawan kedai Nona, bos? Untuk kapan dan berapa lama bos?" ]


"Kau atur lah sendiri, jika perlu. Kau kerja sama dengan Angga, dan Mega! Kalian lebih tau Naura butuh berapa lama untuk di hibur!"


[ "Waktunya kapan, bos?" ]


"Malam ini, besok pagi juga boleh. Jika kejutan untuk Naura sudah rampung, kau kabari aku!" ucap Prans yang lantas memutuskan sambungan teleponnya.


Prans memijat batang hidungnya, tidak lama datang pak Dedi menghampirinya.


"Maaf Tuan Muda, makan malam sudah siap. Apa Tuan dan Nona Muda akan turun ke bawah?" tanya Dedi yang berdiri di hadapan Prans.


"Aku dan Naura akan ke bawah, kau siapkan saja semuanya!" Prans mengibaskan tangannya, mengusir Dedi dari hadapannya.


Kreeek.


Prans membuka pintu kamar yang ia dan Naura tempati. Nampak Naura yang tengah membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan tubuh bergetar, hanya isakan yang sesekali terdengar di indra pendengaran Prans.


"Aku tidak ingin makan, kaka ke luar saja, makan sendiri gih!" ucap Naura dengan ketus, tanpa menoleh ke arah Prans.


"Siapa bilang aku ke sini mau mengajak mu makan malam hem? Aku ke sini mau mengajak calon anak ku makan malam!" ujar Prans dengan entengnya, mendudukkan dirinya di tepian kasur, tangannya terulur mengelusss kepala Naura.


Naura membuang nafasnya dengan kasar. Sementara tangan Prans yang semula hanya mengelusss kepala Naura, kini bergerak menyusuri lengan dan berakhir dengan mengelusss perut Naura yang masih rata. Seolah sedang mengajak kandungan Naura bicara.


"Sayang, kita makan malam dulu ya! Ajak mama mu, katakan padanya, jika kamu butuh makan! Apa mama mu lupa untuk balas dendam pada papa? Bagaimana caranya mama mu mau balas dendam, jika! untuk makan malam saja, mama mu tidak ingin!" ucap Prans dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Naura mengerutkan keningnya, dasarrr rubah jahat, "Aku tidak lapar!"


Prans membuang nafasnya dengan kasar, beranjak dari duduknya dan dengan tangan besarnya, ia mengangkat Naura dari atas tempat tidur.


Hap.


"Akkkhhh apa yang kaka lakukan? Aku hanya ingin tidur! Turunkan aku ka!" ujar Naura dengan mata yang sembab.


"Aku tidak butuh izin mu untuk mengajak mu makan malam kan!" ucap Prans datar.


"Kalo aku bilang tidak ya tidak!" Naura menolak dengan kekeh.

__ADS_1


"Jangan keras kepala Naura! Apa kau ingin aku menyuapi mu makan dengan bibir ku, hem?" Prans memainkan alisnya naik turun, menatap Naura dengan genit.


"Astagaaa hal buruk apa yang menimpa ku sampai aku mendapatkan suami seperti mu ka!" cicit Naura dengan mengerucutkan bibirnya.


"Harusnya kau beruntung, mendapatkan suami kaya, tampan, hebat seperti ku! Aku bisa melakukan apa saja untuk mu!" ucap Prans dengan bangga saat ke luar dari lift menuju ruang makan.


Naura mendecih, "Cihhs pede sekali kau ka!"


Naura mengelusss perutnya yang rata, sayang, kelak jika kau sudah lahir, buang sifat buruk papa mu jauh jauh ya! Jangan kau tiru sifat jeleknya!


Prans mengerutkan keningnya, "Sifat jelek? Sifat ku baik semua!"


Prans mendudukkan Naura di kursi yang sudah di tarik ke belakang oleh pak Dedi.


"Kau pasti suka ini! Biar ku suapi ya!" Prans dengan semangat mengambilkan lauk dan nasi di atas piring miliknya, lalu mengarahkan ke depan bibir Naura.


"Aku tidak suka itu ka!" ucap Naura dengan memalingkan wajahnya.


"Loh kenapa? Bukannya kau suka ini? Ini koki biasa yang membuatkan makanan untuk kita!" ucap Prans membujuk Naura.


"Tapi aku tidak suka lagi, aku mual ka!" Naura menutup mulutnya dengan tangannya.


"Bawaan kandungan kali, Tuan Muda!" ujar pak Dedi.


Prans membuang nafasnya dengan kasar, meletakkan kembali sendoknya ke atas piring, lalu menggeser piringnya.


"Lalu apa yang ingin kau makan saat ini?" tanya Prans dengan menatap lembut Naura.


Naura langsung menoleh ke arah Prans, lalu menyeringai seperti mendapat angin segar, saat Prans menanyakan apa yang ingin ia makan.


Prans memijat keningnya, "Menyesal aku sudah bertanya pada mu, sayang!" ucap Prans dengan menggelengkan kepalanya, seakan tau apa yang akan Naura katakan.


"Hmpppl!" pak Dedi menahan tawanya melihat Tuan Mudanya.


"Apa kau ingin mentertawakan ku, Dedi!" seru Prans menatap tajam Dedi.


Naura menggantung kata katanya, dengan menatap sepasang mata tajam Prans dengan tatapan penuh harap.


"Ka! Aku ingin makan ...."


Bersambung...


...šŸ’–šŸ’–šŸ’–...


Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.

__ADS_1


Abaikan kalo ga suka ya šŸ˜…šŸ˜…


__ADS_2