
...šššš...
Tok tok tok tok.
"Maaf Tuan, jika saya mengganggu waktu istirahat anda." ucap Dedi dari depan pintu kamar Prans dan Naura.
"Sudah tau mengganggu... masih berani mengetuk pintu kamar ku!" dengus Prans dengan kesal.
Ceklek.
"Katakan! Jika tidak penting, aku mau kau menuruni tangga 10 kali!" ucap Prans dingin.
Pak Dedi menelan salivanya dengan sulit, untuk sesaat ia lupa jika Prans seseorang yang bisa mendengar isi hati orang lain.
Astagaaa bos sinting, angot.
"Kau bilang apa barusan? Kau pikir aku tidak mendengar mu mengumpat ku? Hem!" Prans menyilangkan ke dua tangannya di depan dadanya.
"Maaf Tuan, untuk besok... apakah masih ada kejutan lagi untuk Nona Muda? Jika tidak, saya ingin membuat yang lain ikut menyemangati Nona untuk senam kehamilan." ucap pak Dedi dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak perlu kau lakukan itu. Istri ku belum membutuhkannya. Kembali lah, dan ingat... kau harus menuruni anak tangga hingga 10 kali." ucap Prans dengan tatapan membunuh.
Brak.
Prans membanting pintu dengan cukup keras, membuat pak Dedi berjingkat kaget.
Pak Dedi menguruttt dadanya, "Astagaaa sabar sabar, mungkin ini pengaruh dari kehamilan Nona. Berdampak pada emosional Tuan Muda yang suka meledak ledak."
Dreeet dreeet dreeet.
Pak Dedi mengerutkan keningnya, mendapati siapa yang menghubunginya.
[ "Cepat kau kerjakan hukuman mu! Atau aku tambah menjadi 50 kali naik turun anak tangga?" ] gerutu Prans saat pak Dedi menjawab panggilan teleponnya.
"Ba- baik Tuan, a- akan saya kerjakan!"
Prans langsung menutup telponnya begitu pak Dedi mengiyakannya.
Malam itu Naura dan Prans bisa tidur dengan nyenyak. Karyawan kedai pelangi juga untuk sesaat dapat merasakan kehangatan yang di perlihatkan Prans pada Naura.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, di salah satu kota besar lainnya. Nampak Dava kini berkutat dengan laptopnya yang menjadi makanan sehari harinya.
Hackers dengan kemampuan yang mumpuni, seorang pria muda yang berpihak pada Prans, melakukan apa saja sesuai perintah yang Prans berikan padanya.
"Tinggal sedikit lagi, tamat lah riwayat kalian! Beraninya kalian bermain main dengan Tuan Prans. Tanggung sendiri akibatnya." ucap Dava dengan seringai liciknya.
Dava sedang berusaha membobolll keamanan internet milik perusahaan yang di pimpin oleh Lubis.
Setelah berkutat di depan laptopnya selama 2 jam, dengan bermandikan keringat ketegangan, akhirnya ia berhasil membobolll sistem pertahanan perusahaan Lubis. Dava mengirimkan virus untuk merusak data data penting perusahaan Lubis.
"Aku harus mengabari, bos." Dava meraih hape-nya yang ada di atas meja, men dil nomor kontak Prans.
Dasar pria bucin, pasti sudah tidur dengan terlelap. Enak banget jadi bos, jam segini jika sudah merasa lelah... bisa langsung istirahat. Ada istri pula yang menemani. Kapan aku punya istri, yah nasib nasib... pria jomblo, malam panjang di nikmati sama teman dan nyamuk.
Dava gagal menghubungi Prans, untuk mengabari keberhasilannya dalam menghancurkan keamanan server interner perusahaan Lubis. Karena Prans sama sekali tidak menjawab panggilan masuknya.
Pagi menjelang, pagi pagi buta Lubis yang sudah bangun dari tidurnya langsung membuka laptop miliknya.
"A- apa? Bagaimana bisa ini terjadi? Semalam sebelum aku tidur, data dalam laptop ini masih aman dan baik baik saja. Siapa orang yang sudah menghancurkan data data perusahaan ku! Siallll rupanya ada yang mengirimkan aku virus." ujar Lubis dengan kening mengkerut.
Sreek.
Brak.
"Kurang ajarrr!" serunya dengan suara yang naik satu oktaf.
"Ada apa, pah?" tanya Yenny dengan mengucek ke dua matanya, tidurnya terusik dengan suara benda jatuh.
"Ini semua gara gara kamu, mah! Sekarang apa lagi yang kita miliki!" gerutu Lubis dengan kesal.
"Apa sih, pah! Mama gak ngerti deh. Bicara yang jelas, ada masalah apa? Papa kenapa? Ada apa dengan laptop itu pah? Itu kan laptop papa kerja!" ujar Yenny dengan tatapan yang mengarah pada laptop yang tergeletak di atas lantai dengan keadaan yang tidak lagi utuh.
"Papa kehilangan data data penting perusahaan. Dan tidak hanya itu, perusahaan papa terbukti melakukan kecurangan dengan perusahaan Prans. Ia meminta ganti rugi." Lubis menggaruk kepalanya dengan frustasi.
Yenny membola dengan ke dua tangan yang mengguncang bahu sang suami, "A- apa maksud papa? Papa cuma bercanda kan? Ini semua gak bener kan? Ki- kita tidak akan rugi, pah! Mama tau papa itu kaya gimana! Pasti papa bisa menyelamatkan perusahaan kita, pah!" bulir bening menerobosss pelupuk mata Yenny.
Grap.
Lubis memeluk Yenny, berusaha menenangkan hati istrinya, tangannya terulur mengelusss punggung Yenny yang bergetar hebat.
__ADS_1
"Satu satunya cara adalah kita harus minta maaf pada Prans, biar ia memulihkan kembali server internet papa." ujar Lubis dengan yakin, ini pasti ulah Prans dan anak buahnya.
Byuuurrr.
"Ayo ka, ini tuh seger banget." ujar Naura yang kini tengah berada di pinggir kolam renang.
"Astagaaa sayang, apa kau yakin ini segar? Ini tuh sangat dingin. Ini masih pagi, sudah ayo naik ke atas. Aku tidak ingin jika kau berlama lama di dalam kolam. Kau bisa sakit sayang!" Prans mengambilkan jubah untuk di gunakan Naura, ia juga mengulurkan tangan kanannya agar di raih oleh Naura dengan tubuh yang condong ke depan.
"Kaka salah, ini tidak dingin... tapi segar!" Naura tersenyum penuh arti pada Prans, meraih tangan Prans.
Byuuurrrr.
Bukannya Prans yang berhasil menarik tubuh Naura ke atas kolam renang. Justru Naura yang berhasil menarik tubuh Prans hingga tercebur di kolam renang.
"Nauraaaa!" seru Prans dengan kesal, ia kedinginan dengan ulah Naura.
Naira tergelak melihat Prans yang kini dalam keadaan basahhh, tubuhnya tercetak jelas dari balik pakaian yang ia kenakan.
"Ahahahhaha itu artinya kaka di takdirkan untuk menemani ku ka! Bagaimana airnya ka? Enak kan? Ini sejuk loh ka!" Naura mulai menceburkan dirinya lagi ke dalam air, ia bergerak dengan lincah bak ikan yang senang berada di dalam air.
"Kau ini sangat nakal sayang! Aku mengajak mu untuk menyudahi acara berenang mu! Tapi kenapa kau malah membuat aku tercebur di kolam, hem? Kau sengaja kan sayang?" oceh Prans yang langsung mengikuti pergerakan Naura di dalam kolam renang.
"Apa Tuan Muda dan Nona tidak kedinginan, bang! Ini kan masih sangat pagi." ujar Dega yang berjaga di dekat kolam renang, dengan posisi yang membelakangi kolam renang.
"Kalo soal itu... kau salah besar jika bertanya pada ku! Tapi kalo dari kesimpulan dari percakapan Nona dan Tuan Muda yang kita dengar... aku rasa Nona seperti sangat menikmati aktivitas barunya ini! Apa lagi ada Tuan Muda yang menemaninya!" ujar Haikal dengan menggaruk batang hidungnya.
"Di mana Naura, pak?" tanya Mega yang kini sudah berada di dapur.
"Aku juga tidak melihat paman pacar. Apa pak Dedi melihat paman pacar?" tanya Novi yang kini berada di belakang pak Dedi.
Belum selesai pak Dedi berkata, sudah terdengar suara air dari arah kolam renang.
"Mereka ada di..."
Novi mengerutkan keningnya, "Suara apa itu? Apa ka Mega mendengar itu?" tanya Novi dengan mempertajam indra pendengarannya.
Bersambung...
...ššš...
__ADS_1
Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.
Abaikan kalo ga suka ya š š