Sangkar Suami Kejam

Sangkar Suami Kejam
Mereka berdua ambruk


__ADS_3

...šŸ’–šŸ’–šŸ’”šŸ’”...


"Ka Prans! Kaka jangan main main lagi, ayo kita pulang! Ma- mama, mama pasti sudah menunggu di rumah ka huwaa hiks ka Prans jahat!"


Bugh.


Karena rasa syoknya yang berat, membuat Naura kehilangan kesadarannya.


Prans menepuk nepukkan pipi Naura, "Sayang, Naura! Hei buka mata mu! Sayang... buka mata mu, jangan membuat ku takut Naura! Naura buka mata mu!"


Prans langsung menggendong Naura dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Sudah aku duga kan, kamu pasti tidak akan siap menerima kenyataan ini, sayang!" Prans menggosokkan telapak tangan Naura, mencoba memberikan kehangatan pada telapak tangan Naura.


"Ayo buka mata mu, Naura!" Prans menyapu peluh yang membanjiri kening Naura, sesekali Prans mengecek nafas Naura dengan menempelkan jari telunjuknya di depan lubang hidung Naura. Prans semakin panik saat suhu tubuh Naura terasa dingin namun mengeluarkan keringat.


Prans melajukan mobilnya, meninggalkan area pemakaman. Membawa Naura menuju villa yang ia bangun untuk Naura dulu.


Dalam keadaan mata terpejam, Naura meracau, "Mama, papa, Dito! Kalian hiks, jangan pergi! A- aku ikut dengan kalian! Tolong mah, pah, jangan... jangan pergi!" suara Naura terdengar lirih di telinga Prans.


Prans menyapu kembali peluh di kening Naura, mengusap pucuk kepala sang istri dengan kasih sayang.


"Ayo buka mata mu, sayang! Kau sudah janji pada ku! Hal ini tidak akan mempengaruhi kondisi mu kan! Ayo bangun Naura!" seru Prans, dengan sesekali membagi fokuskan pada Naura dan setir kemudi.


Beruntungnya jarak dari sebidang tanah yang Prans jadikan kompleks makan keluarga, tidak berjarak jauh dengan villa miliknya. Hingga tidak memakan waktu lama, ia sudah sampai di villa miliknya.


Prans mengerutkan keningnya, saat mendapati sebuah mobil yang ia kenal, sudah terparkir di depan villa mereka berdua.


"Selamat datang Tuan Muda!" ucap salah satu penjaga, yang membukakan pintu mobil untuk Prans.


"Sejak kapan mereka datang?" tanya Prans, dengan mengayunkan langkah kakinya ke pintu mobil di mana Naura berada.


"Sudah setengah jam yang lalu, Tuan Muda!"


Ceklek.


Prans langsung menggendong tubuh Naura yang masih dalam keadaan tidak sadar, ke luar dari mobil.


"Kau keluarkan saja kursi roda dari bagasi!" titah Prans pada sang penjaga.

__ADS_1


"Loh Tuan, Nona? Apa yang terjadi pada Nona, Tuan?" tanya Amarta dengan cemas.


"Apa kau tidak lihat Naura sedang pinsan! Dasarrr bodoh! Gunakan mata mu!" gerutu Prans yang langsung membaringkan Naura di atas sofa.


Amarta terhenyak, ada apa lagi dengan Nona?


"Cepat periksakan keadaannya! Aku mau dia sadar sekarang juga! Kalo tidak, kalian yang akan aku habisiii!" bentak Prans saat melihat Samuel yang baru ke luar dari salah satu kamar yang ada di lantai 1.


"Dasarrr musanggg bodoh! Mau kau ancam kami pun percuma saja, jika Nona tidak ingin melihat wajah mu!" ledek Samuel dengan mengeluarkan tetoskop dari saku jas kebesarannya.


Prans tampak mengamati, apa yang di lakukan Samuel dan Amarta pada Naura. Sementara Dedi langsung mengambilkan dua gelas minum untuk Prans dan Naura.


"Apa yang kau katakan padanya bos, sebelum Nona tidak sadarkan diri?" tanya Samuel.


"Aku membawanya ke makan keluarganya. Naura tampak histeris, tidak bisa terima dengan kenyataan. Tapi ia baik baik saja kan! Jika sampai terjadi sesuatu padanya, kau yang aku salahkan sebagai dokter Samuel!" ancam Prans dengan tangannya menyilang di depan dada.


Amarta menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan pemikiran Tuannya, sedangkan ke dua tangannya sibuk dengan menempelkan minyak kayu putih di lubang hidung Naura. Berusaha membuat Naura menghirup aromanya.


Astagaaa Tuan Muda, mudah sekali menyalahkan dokter Samuel. Sudah jelas Nona seperti ini karenanya. Harusnya Tuan Muda kan... yang bertanggung jawab atas keadaan Nona!


Prans menatap tajam Amarta dengan kening yang mengkerut, ini memang salah ku, tidak seharusnya aku memberi tahu Naura saat ini juga, tapi aku tidak ingin terlihat salah di mata kalian, sampai kapan pun aku lah yang akan selalu benar!


Pandangan Prans tampak kabur, ia melihat Dedi yang melangkah ke arahnya dengan bayang bayang. Prans menggelengkan kepalanya, memijat batang hidungnya.


"Apa bos mengatakan sesuatu?" tanya Samuel dengan mengadahkan wajahnya pada Prans, yang berdiri tidak jauh dari sofa Naura di baringkan.


Prans tidak lagi melanjutkan kata katanya, saat tubuh atletisnya langsung ambruk dan tidak sadarkan diri di lantai.


"Bagaimana keadaan Naura? Dia tidak..."


Bugh.


"Tuan Muda!" seru Dedi yang melihat kondisi Tuannya ambruk.


Dedi langsung meletakkan nampan yang berisi dua gelas air putih ke atas meja. Sementara Samuel dan pengawal yang melihatnya, langsung menggotong tubuh Prans dan membaringkannya di atas sofa.


Amarta mengerutkan keningnya, waduh... ada apa dengan Nona dan Tuan? Tadi sebelum berangkat, mereka berdua tampak baik baik saja, lalu sekarang mereka berdua ambruk.


Naura mengerjapkan ke dua matanya, ia menoleh kiri dan kanan.

__ADS_1


"Nona tidak perlu bangun, Nona cukup katakan saja apa yang Nona butuhkan pada saya, biar saya yang ambilkan!" ucap Amarta yang mencegah Naura yang hendak beranjak dari atas tempat tidur.


"Sus, ini mimpi kan, aku sejak tadi di sini kan? Apa yang ka Prans katakan pada ku itu bohong kan, sus?" bulir bening menerobos kembali dari pelupuk mata Naura, saat telinganya terngiang kembali apa yang Prans katakan padanya.


Amarta menggenggammm erat jemari Naura, mencoba memberikan pengertian pada Naura, "Maaf Nona, ini lah kebenarannya. Setelah Nona dan Tuan merasa lebih baik, Nona bisa tanyakan langsung pada Tuan Muda... apa yang sebenarnya terjadi. Sa- saya tidak berani mengatakan apa apa pada Nona!"


Naura mengerutkan keningnya, "Apa maksud suster, ka Prans... ada apa dengan ka Prans?" Naura mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Prans di kamarnya.


"Nona minum lah susu hangat ini dulu, ini akan sangat baik untuk memulihkan kembali tubuh Nona!" Amarta menyodorkan segelas susu hangat rasa coklat pada Naura, Dan juga janin dalam kandungan Nona.


Naura menyingkirkan gelas yang di berikan Amarta, ia menatap kesal Amarta, "Di mana ka Prans, sus? Aku harus bicara dulu dengannya." tanya Naura dengan tegas.


Dengan tekad yang bulat, Naura berusaha beranjak dari tidurnya, ia bahkan dengan perlahan mampu menurunkan kembali ke dua kakinya dari atas tempat tidur.


Sejak kapan ka Prans menyembunyikan ini semua dari ku? Kenapa orang tua ku meninggal, aku tidak tahu? Apa yang terjadi pada mama, papa dan Dito? Ka Prans harus menjelaskan ini pada ku!


Amarta yang tidak bisa berkutik, membantu Naura untuk pindah ke kursi roda.


"Bawa aku pergi ka Amarta! Aku harus bicara dengan ka Prans!" titah Naura datar.


"Tapi ..."


"Sekarang! Kau lupa, aku ini Nona mu! Kau harus menurut dengan perkataan ku, sus!" titah Naura dengan emosi.


"Ba- baik Nona. Sa- saya akan mengantar Nona ke tempat Tuan Muda!" Amarta mendorong kursi roda Naura, ke luar dari kamar menuju kamar lainnya yang ada di lantai yang sama.


Naura meremasss ke dua tangannya sendiri, siapa yang membuat orang tua serta adik ku jadi seperti ini. Jika kalian meninggal karena sakit, aku masih bisa terima. Tapi jika kalian meninggal karena campur tangan manusia keji, aku pastikan orang itu harus merasakan apa yang kalian rasakan!


"Apa Nona yakin ingin bertemu dengan Tuan Muda sekarang juga? Apa tidak sebaiknya menunggu kondisi Nona pulih dulu?" tanya Amarta saat sudah berada di depan sebuah pintu yang tertutup rapat.


"Jangan membuang waktu ku sus, cepat buka pintunya sus! Atau ka Prans sedang bertemu dengan rekan bisnis wanitanya di dalam, hingga tidak ingin aku mengganggunya!" tuduh Naura tanpa alasan.


Amarta membuang nafasnya dengan kasar, "Akan saya buka Nona." ucap Amarta sebelum membuka pintu di mana Prans berada.


Ceklek.


bersambung...


...šŸ’–šŸ’–šŸ’–...

__ADS_1


Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.


Abaikan kalo ga suka ya šŸ˜…šŸ˜…


__ADS_2