
...šššš...
Naura menatap Prans dengan curiga, aneh sekali ka Prans ini. Sebentar sebentar, memaksakan kehendaknya sendiri. Dan sekarang bilang iya, lama lama aku jadi tidak mengerti dengan sifat ka Prans.
"Apa yang kau bingungkan, sayang? Katakan saja?" Prans menambahkan cairan aroma terapi ke dalam bathtub, baru ia memutar keran air.
"Aku bingung dengan mu, ka! Tapi sudah lah, aku hanya ingin mandi, aku benar benar lelah hanya ingin tidur!" ujar Naura dengan ke dua tangan yang di angkat, dan Prans menggendong Naura untuk ia dudukan di dalam bathtub.
Sementara di lantai bawah, apa yang sudah di rencanakan Haikal, pak Dedi serta karyawan kedai pelangi menjadi berantakan dengan kondisi Naura kini.
"Jadi sekarang harus bagaimana ini? Apa rencana kita harus di ubah atau di atur ulang?" tanya Mega dengan menggaruk kepalanya dengan frustasi.
"Kalian bicarakan saja lah dulu, aku mau urus landasan untuk dokter yang akan di kirim pak Dev." ujar pak Dedi dengan melambaikan tangannya pada seorang anak buah Haikal untuk mengikuti langkah kakinya.
Pak Dedi dan seorang pria berjalan meninggalkan lantai 1, sementara Haikal dan karyawan kedai pelangi masih membahas rencana untuk Naura.
"Kita buat penampilan saja, jadi Naura tidak usah cape cape banyak gerak kan! Hanya melihat penampilan kita!" ucap Novi dengan bersemangat menyampaikan apa yang ada di kepalanya.
Angga mengerutkan keningnya, "Memang apa yang akan kau tampilkan?"
"Emmmm, apa ka Novi gak mikir dulu... kalo mau tampil, kan harus berlatih dulu. Kita butuh waktu buat latihan kan!" terang Lusi secara tidak langsung tidak setuju dengan ide Novi.
"Gimana kalo kita menampilkan apa yang kita bisa, kaya gwe... gwe bisa nari. Bang Angga, pak Haikal kalian bisa kan main alat musik?" cicit Ayu.
"Iya bisa, tapi kan dulu... kalo sekarang ya harus berlatih dulu lah." protes Angga.
"Kita masih punya beberapa waktu sambil nunggu Naura melihat penampilan kita ini kan?" ujar Novi.
"Manfaatkan waktu yang ada, yang penting judulnya buat Nona Naura happy dulu. Masalah hasil kita lihat belakangan aja, gimana? Syukur syukur usaha kita bisa membuat Nona bahagia, pasti lah bos Prans akan memberikan kita ini bonus hadiah... tapi kalo gagal yaaah paling hanya hukuman sih yang akan di berikan bos pada kita semua!" cicit Dega yang di awal kalimat menyemangati, namun di akhir kaliamat membuat mental siapa saja yang mendengar perkataannya langsung menciut.
__ADS_1
Plak.
Novi menggeprak lengan Dega dengan wajah kesal bibir bersungut, "Lo ini mau nyemangetin kita apa mau buat mental kita down sih?"
Haikal menatap tidak suka Novi, ada apa dengan Novi? Tidak bisa kah ia hanya bicara? Kenapa juga harus menggunakan fisik pada Dega?
"Heh bocah plangton! Lo kalo gak suka dengan perkataan gwe, gak usah di telen! Ngerti lo! Itu kenyataan girl, yang gagal pasti akan di hukum bos Prans." Dega menegaskan kembali perkataannya dengan gamblang.
"Iya tapi ---"
Sreet.
Haikal mencekal lengan Novi dan membawanya pergi dari sana, "Ikut aku!"
Mega menatap tajam pada Haikal dan Novi, ada yang terbakar api cemburu nih kayanya mah, hehehe.
Bruk.
"A- apa? Menyukai Dega?" cicit Novi dengan terbata bata, ke dua matanya menatap aneh Haikal.
"Iya menyukai Dega! Apa kau sudah berpaling dari ku?" tanya Haikal lagi.
"A- aku hanya menyukai mu... paman pacar!" cicit Novi dengan wajah bersemu, ia langsung menyingkirkan tangan Haikal, hendak menghindar darinya.
Grap.
Bruk.
Haikal mencekal pergelangan tangan Novi, membuat Novi berbalik dengan tubuh menubruk Haikal.
__ADS_1
"Aku ingin memiliki mu segera, bocah plangton!" ucap Haikal dengan datar.
"Kalo begitu cepat nikahi aku!" cicit Novi dengan menggigit bibir bawahnya, ke dua tangannya melingkar di tubuh Haikal.
Haikal menyentuh dagu Novi, dan membawanya hingga menatap wajahnya, kini ke dua mata mereka saling terkunci, menatap satu sama lain.
Hingga wajah keduanya tanpa berjarak, kening berpaut dan Haikal membenamkan bibirnya pada bibir Novi.
50 menit kemudian, dokter yang di janjikan Dev datang 5 menit lebih lama dari waktu yang di katakan Dev sebelumnya pada Prans.
Pak Dedi berjalan lebih dulu, sementara di belakangnya. Seorang wanita berusia matang dengan jubah putih yang melekat pada tubuhnya, terus mengekorinya dengan wajah yang malas mendengarkan ocehan pak Dedi.
"Haduuh kenapa kau bisa terlambat, dokter!" tanya pak Dedi dengan wajah gusar.
"Ini semua faktor cuaca, pak... saya mana tahu jika tiba di sini lebih lama 5 menit dari waktu yang sudah di perkirakan. Lagi pula bukan aku kan yang membawa helikopter itu!" ucap dokter wanita dengan ketus.
Pak Dedi menggelengkan kepalanya, pak Dev... sepertinya kau salah mengirim seorang dokter untuk Nona.
Pak Dedi membuang nafasnya dengan kasar, berkata dengan datar tanpa menoleh wajah sang dokter, "Aku harap kau bisa menjaga sikap mu di depan Tuan Prans, Nona... jika kau masih ingin memiliki umur panjang."
Dokter itu mengerutkan keningnya, "Apa kau pikir ada yang salah dengan sikap ku?"
Bersambung...
...ššš...
Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.
Abaikan kalo ga suka ya š š
__ADS_1