
...šššš...
Naura mengerutkan keningnya, menatap Prans dengan penuh tanya, "Apa ada yang ingin mencelakai kita lagi ka?" tanya Naura dengan serius.
"Aku tidak tahu, siapa yang benar benar menjadi rekan kerja ku dan siapa yang menjadikan kerjasama sebagai kedok untuk menutupi wajah asli seseorang yang sedang mengincar ku, sayang!" cicit Prans dengan mengelusss pucuk kepala Naura.
"Apa tidak akan terlalu mencolok ka, jika mereka mengikuti kita dengan pakaian serba hitam gitu!" Naura menoleh ke belakang dan mengerucutkan bibirnya.
"Apa menurut mu itu terlalu mencolok? Seorang bodyguard itu biasa dengan warna hitam, terkesan sangar!" ujar Prans.
"Tapi aku tidak sejalan dengan mu, ka! Aku mau mereka ganti warna seragam, aku tidak suka warna hitam. Kalo perlu, semua bodyguard gunakan warna pink cerah, untuk pak Dedi dan para maid, pake pink salem." cicit Naura dengan ke dua tangan menyilang di depan dada.
Haikal tersendak salivanya sendiri, saat sepasang indra pendengarannya mendengar apa yang Naura ucapkan.
"Uhuk uhuk uhuk!"
Prans menatap tajam Haikal, "Biasa saja menanggapinya Haikal!" seru Prans dengan datar.
"Maaf Tuan Muda. Apa ini salah satu kewajiban untuk bodyguard Nona, mengenakan warna pink cerah?" cicit Haikal dengan menelan salivanya dengan sulit, melirik sekilas wajah Naura.
__ADS_1
Naura menatap Prans, sebelum menjawab pertanyaan Haikal, "Harus, boleh kan ka?"
Prans membuang nafasnya dengan kasar, melihat mata bulat Naura yang menggemaskan membuatnya tidak bisa menolak keinginan istrinya itu, di tambah Naura yang tengah mengandung.
"Lakukan apa yang kau inginkan, kalo soal pakaian ya!" ujar Prans.
Haikal yang mendengar jawaban Prans, menjadi tidak bersemangat, ia menggelengkan kepalanya, astagaaa yang benar saja bos! Bos mengabulkan keinginan Nona Muda, Dega dan yang lain pasti hanya bisa menurut.
"Terima nasib saja Haikal! Masih mending Naura tidak meminta mu mengenakan pakaian badut!" celetuk Prans dengan santainya.
"Iya saja lah bos!" ucap Haikal.
"Tepat sekali jawaban Nona!" Haikal yang menjawab pertanyaan Naura.
"Jangan banyak bicara, cepat buka pintunya! Berapa lama lagi kau ingin membuat kami menunggu?" sungut Prans dengan menatap tajam Haikal.
"Maaf Tuan!"
Haikal langsung ke luar dari mobil, membukakan pintu mobil untuk Tuannya.
__ADS_1
"Biarkan aku jalan sendiri ka! Aku kan sudah bisa berjalan!" sungut Naura dengan mencoba melangkahkan kakinya ke luar dari dalam mobil.
Dengan sabar Prans menunggu Naura yang mencoba melangkah sendiri, dan berjalan memasuki cabang kedai Naura yang ke dua. Cabang yang belum pernah Naura kunjungi.
"Siapa yang menyelesaikan berdirinya kedai ini ka?" tanya Naura.
Dari awal Naura turun dari mobil, ke dua mata indahnya sudah di manjakan dengan di suguhkannya pemandangan desa yang sangat kental, dengan beberapa gazebo kecil yang terdapat di halaman, kursi dan meja yang terbuat dari bambu, serta beberapa pepohonan rindang yang sengaja di tanam. Dengan pinggiran di dinding di hiasi dengan tumbuhnya rumput liar.
"Dalam merampungkan kedai ini, saya di bantu dengan para karyawan kedai, dan beberapa bodyguard yang juga ikut terlibat." ujar Haikal yang mengekori Prans dan Naura.
Dega dan ke 3 bodyguard yang di minta Prans untuk mengawalnya, kini berjaga di area parkir, dengan duduk di dalam mobil, mereka semua mengamati hal hal yang mencurigai.
"Naura! Ini beneran lo? Astagaaa ya Allah sahabat gwe, si gwe udah bisa jalan lgi!"
Bersambung...
...ššš...
Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen yuk, sepi bener udah kaya kuburan ini. Jangan lupa like, tinggalin jejak ya š.
__ADS_1
Abaikan kalo ga suka ya š