
...ššššš...
Naura menggantung kata katanya, dengan menatap sepasang mata tajam Prans dengan tatapan penuh harap.
"Ka! Aku ingin makan ...."
Dedi menatap Naura dengan menggelengkan kepalanya, aduuh Nona... aku harap tidak meminta yang aneh aneh. Mengingat terakhir kali Tuan Muda menanyakan ini, berakhir dengan makan di luar.
Prans memicingkan matanya pada Dedi, benar juga apa yang katakan Dedi, sialll... kalo begini mau tidak mau aku yang harus mengalah.
"Ayo buka mulutnya, hanya sedikit saja agar kau makan. Kau dan calon anak kita pasti sudah merasa lapar!" Prans mencoba kembali menyuapkan sendok ke depan Naura.
Naura mendorong tangan kanan Prans, menjauh dari mulutnya, "Ayo kita makan di luar!" ajak Naura.
Hingga beberapa menit kemudian, halaman villa kini sudah di penuhi dengan berbagai pedagang yang biasa ada di jalan jalan.
Naura duduk di gazebo dengan di hadapannya terdapat berbagai aneka makanan yang tersaji, ia menatapnya dengan tatapan haru.
Prans menggelengkan kepalanya, "Apa kau yakin, sanggup menghabiskan semua ini, sayang?" tanya Prans dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
"Siapa bilang hanya aku yang akan menghabiskannya!" Naura memainkan alisnya naik turun.
Naura menunjuk ke arah suster Amarta, dokter Samuel, pak Dedi, koki, Dega dan beberapa pengawal.
"Apa kau lihat ka, mereka ikut serta menikmati ini semua. Jadi tidak ada pilihan lain untuk kaka ikut menikmati ini semua!" ujar Naura, "Jadi ayo kaka habiskan ini semua!" Naura menyodorkan sate, mertabak, bakso, sup iga ke depan Prans.
Prans membola, dengan kening mengkerut, "Apa? Yang benar saja kau Naura!"
Naura mengerucutkan bibirnya, tangannya terulur mengelusss perutnya yang masih rata, "Tuh kan, kamu lihat sendiri sayang, papa mu tidak sayamg sama kita. Buktinya ia tidak mau menghabiskan itu semua, udah tau rasanya enak." Naura berkata dengan nada sedih, sesekali matanya melirik ke arah Prans.
"Astagaaa kau ini, Naura!" kenapa aku merasa sedang di permainkan oleh bumil ini ya? Awas kau sayang, nanti akan aku balas perbuatan mu di atas ranjang!
"Kau! Ingin ku habisiii juga heh! Pergi kau dari sini!" Prans mengusir Dega dari hadapannya.
Ketegangan yang terjadi di antara Naura dan Prans kini berganti dengan gelak tawa semuanya yang menyaksikan tingkah Naura. Atas nama calon bayinya, ia puas mengerjai Prans.
Para pedagang yang di boyong Prans ke villa miliknya, bak mendapatkan rejeki nomplok. Bukan hanya dagangan mereka saja yang di beli Prans, tapi mereka juga mendapatkan tawaran untuk menjajakan dagangan mereka di kantor Prans. Dengan menempati setiap stand yang ada di kantin perusahaan.
Sementara di tempat lain.
__ADS_1
Setelah mendapatkan perintah dari Prans. Haikal langsung meluncur ke kedai pelangi.
"Apa tidak masalah jika kedai tutup selama 3 hari, om pacar?" tanya Novi yang duduk di belakang Haikal persis.
"Aku rasa tidak akan jadi masalah, ini kan perintah dari bos. Jika kau keberatan, kau bisa mengatakannya langsung pada bos setelah bertemu dengannya nanti." ucap Haikal dengan sesekali melirikkan pandangannya pada Novi lewat kaca spion.
"Apa hubungan mereka berdua sedang tidak baik baik saja ya, pak Haikal?" tanya Mega yang duduk di sebelah Novi.
Haikal menjawab dengan tegas, namun sorot matanya menunjukkan sebaliknya yaitu keraguan, "Hubungan keduanya sangat baik." sebenarnya aku juga tidak yakin, jika hubungan bos dan Nona baik baik saja atau tidak.
"Apa yang harus kami tutupi dari Naura, pak?" tanya Angga.
Bersambung...
...ššš...
Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.
Abaikan kalo ga suka ya š š
__ADS_1