Sangkar Suami Kejam

Sangkar Suami Kejam
Cuma mimpi


__ADS_3

...šŸ’–šŸ’”šŸ’”...


Prans menoleh ke arah Naura, sepasang matanya melihat Naura yang sedang melambaikan tangannya, dengan wajah yang sesekali hilang ke dalam air, dan sesekali muncul ke permukaan.


"Naura!" Prans melemparkan hapenya begitu saja, ia berlari ke arah kolam renang. Tatapannya tajam saat melihat Naura yang tengah bertaruh nyawa dalam air. Dalam sedetik Naura tidak nampak di permukaan lagi.


Apa yang terjadi, belum lama aku meninggalkannya, kenapa sekarang jadi seperti ini!


Byuuurrr.


Prans menceburkan dirinya kembali ke dalam air, melesat ke arah Naura yang hampir menyentuh dasar kolam renang, tangan besar dan kekar Prans dengan mudah menggapai tubuh Naura.


"Tidak akan terjadi apa apa pada mu, sayang!" gumam Prans dengan wajah cemas, berusaha membawa Naura ke luar dari kolam renang.


Haikal dan Dega yang melihatnya langsung berlari ke arah Prans. Dengan Haikal yang langsung menghubungi dokter Samuel dengan hapenya.


"Cepat lah ke kolam renang, dok!" titah Haikal dengan suaranya yang terdengar panik.


[ "Hei, ada apa dengan kolam renang? Apa kau gila mengajak ku berenang di pagi seperti ini?" ] suara dokter Samuel malah terdengah meninggi dengan pemikirannya sendiri.


"Dasar dokter tidak berguna... cepat jangan banyak tanya. Nona tenggelam! Puas kau!" umpat Haikal yang tidak kalah kesal, ia langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Prans memberikan pertolongan pertama untuk Naura, menekan nekan dada Naura dengan telapak tangannya, berharap Naura mengeluarkan air yang tanpa sengaja ia telan.


"Sadar Naura sadar... ayo buka mata mu!" gumam Prans.


Haikal berdiri dengan ke dua lututnya, tangannya langsung terulur menggosokkan telapak tangannya pada telapak tangan Naura. Berharap bisa mengembalikan suhu tubuh Nona Muda-nya.


"Ayo Nona, buka mata mu! Kau tidak boleh kenapa napa!" gumam Haikal pelan, gumamannya bahkan tidak bisa di dengar oleh Prans.


Sementara Dega langsung berdiri dengan ke dua lututnya, menatap khawatir dengan sosok Nona mudanya. Tangannya terulur memberikan kehangatan pada telapak kaki Naura, ia menggosokkan telapak tangannya pada telapak kaki Naura.


"Nafas buatan, bos!" usul Dega yang melihat Prans tampak bingung dengan Naura yang masih memejamkan ke dua matanya.


Sementara cara Prans, dengan menekan dada Naura dengan telapak tangannya, tidak kunjung membuahkan hasil.


"Aku sudah tau itu, dasar bodoh!" omel Prans, dasarrr bodoh, untuk nafas buatan saja aku harus di beri tahu Dega! Dasar payah!

__ADS_1


Prans memberikan nafas buatan pada mulut Naura. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri, yang hilang akal karena panik menghadapi Naura yang belum juga sadar. Hati kecilnya seolah takut jika ia kehilangan sosok Naura yang tengah mengandung anak mereka.


"Bangun Naura! Ayo buka mata mu!" umpat Prans, "Tidak boleh terjadi apa apa pada mu, sayang!" oceh Prans lagi.


Wajah Naura tampak pucat, tidak ada tanda tanda jika Naura akan membuka ke dua matanya. Yang ada hanya suhu tubuh Naura yang kini semakin dingin.


"Ada apa dengan Nona, bos?" tanya Samuel, dengan bodohnya mengajukan pertanyaan. Saat ia sudah berdiri di hadapan Prans yang tengah berusaha memberikan pertolongan pertama untuk Naura.


Samuel menatap Haikal dan Dega bergantian, "Apa yang sedang kalian lakukan? Ada apa dengan Nona Muda?"


"Astagaaa dokter, ini bukan waktu yang tepat untuk mu bertanya! Cepat periksa Nona, Nona tadi tenggelam!" oceh Haikal.


Dokter Samuel membola, "Apa, Nona tenggelam?"


Dokter Samuel langsung mengecek denyut nadi Naura, ia menggelengkan kepalanya dengan kening yang mengkerut. Tidak hanya sampai di situ. Samuel juga menempelkan jari telunjuk kanannya ke depan indra penciuman Naura. Lagi dan lagi dokter Samuel menggelengkan kepalanya.


Dengan wajah tertunduk, dokter Samuel meletakkan kedua tangan Naura di atas perutnya yang datar.


"Maaf Tuan, anda harus merelakan Nona dan calon bayi kalian berdua." ucap dokter Samuel dengan lirih.


Prans menatap tajam dokter Samuel, "Jangan gila kau Samuel! Cepat selamatkan Naura! Selamatkan istri ku!" bentak Prans dengan emosi yang membuncah.


Sreek.


Prans menarik kerah kemeja dokter Samuel, "Aku perintahkan kau! Cepat buat Naura membuka ke dua matanya! Atau nyawa mu yang menjadi taruhannya!" ucap Prans dengan penuh penekanan.


"Maaf Tuan, tolong mengerti lah!" seru dokter Samuel dengan tangannya yang menepuk bahu Prans, mencoba membuat Prans mengerti akan keadaan Naura.


"Dasar dokter tidak berguna!" umpat Prans dengan mendorong tubuh dokter Samuel, hingga dokter muda itu terjerembah ke belakang.


Prans mengguncang bahu Naura, "Bangun Naura! Buka mata mu! Heh! Kau tuli hah! Aku bilang, buka mata mu!" umpat Prans dengan suara yang meninggi.


"Yang sabar bos, mungkin ini sudah suratan takdir Tuhan untuk bos dan Nona Muda bersama. Dan di pisahkan dengan cara Nona yang tenggelam!" cicit Dega, dengan menelan salivanya dengan sulit.


"Naura buka mata mu! Kau tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan aku, sayang! Bangun kau hah! Buka mata mu heh!" bentak Prans dengan bulir bening yang menerobos pelupuk mata Prans.


Prans mendudukan Naura, ia mendekap tubuh Naura dengan erat, kau jahat sekali Naura, kau tinggalkan aku, di saat aku sudah menyerahkan nyawa ku pada mu! Kau bawa serta anak kita, kau jahat Naura! Kau lebih kejam dari apa yang selama ini sudah aku lakukan!

__ADS_1


Prans menyerukan nama Naura dengan lantang, dengan mengadahkan wajahnya ke langit yang kini berwarna pekat, sekaan ikut merasakan kepedihan hati Prans.


"Nauraaaaaa!"


Naura kaget bukan main, saat mendengar suaranya di panggil, yang ternyata Prans yang tengah menyerukan namanya dengan mata yang terpejam, nampak peluh ke luar dari kening dan wajah Prans. Dari wajah Prans pula, Naura dapat merasakan kesedihan Prans.


"Ka, bangun ka! Kaka! Buka mata mu, ka! Kaka!" Naura menepuk nepuk pipi Prans, berharap suaminya terbangun dari mimpi buruknya.


Tatapan Naura mengarah pada segelas air putih yang ada di atas nakas, yang ada di dekat tepat tidurnya.


Byurrrrr.


Naura mengguyur wajah Prans dengan segelas air itu, dan benar saja. Prans langsung membuka ke dua matanya dengan posisi yang kini duduk, nafas Prans tampak tersengal sengal dengan dada yang naik turun.


"Syukur lah... apa kaka baik baik saja? Kaka mimpi apa sih? Sampe manggil aku kenceng gitu?" cecar Naura dengan menatap Prans heran.


Prans menoleh ke arah suara wanita yang sangat ia cintai, "Kau baik baik saja?" tanya Prans balik.


"Iya ka, aku baik baik aja. Kaka mimpi apa?" tanya Naura dengan tangannya yang menyapu sisa sisa air yang tadi ia siram ke wajah Prans.


Grap.


Prans langsung membawa Naura ke dalam pelukannya, "Syukurlah, cuma mimpi. Aku takut sekali sayang! Kau jangan pernah meninggalkan aku! Aku aku tidak bisa hidup tanpa mu, Naura!" ucap Prans dengan kelembutan.


Cup cup cup.


Prans menghujani pucuk kepala Naura dengan kecupan.


"Berjanjilah pada ku, kau akan hidup bersama dengan ku, hingga kita menua bersama!" pinta Prans.


"Ka, jangan ngaur... umur itu rahasia ilahi ka, jangan percaya dengan mimpi hanya karena kaka mimpi buruk. Mimpi itu hanya kembang tidur ka!" ucap Naura yang kini mengelusss punggung Prans.


Bersambung...


...šŸ’–šŸ’–šŸ’–...


Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.

__ADS_1


Abaikan kalo ga suka ya šŸ˜…šŸ˜…


__ADS_2