
...šššš...
"A- apa? Kau bilang Naura jadi seperti ini karena aku? Yang benar saja kau dokter gadungan!" maki Prans.
Samuel yang sudah selesai dengan memeriksa keadaan Naura pun beranjak dari duduknya, dengan ke dua tangan di pinggang. Ia menatap Prans dengan tatapan yang jengkel.
Samuel berdecak kesal, "Kalo begitu, kau datangkan saja dokter ahli kandungan. Biar kau dengar sendiri... apa yang terjadi dengan Nona! Puas kau!" Samuel langsung melenggang pergi dengan tangan mengepal.
Samuel menggerutu kesal, dengan Prans yang masih bisa mendengarnya, "Dasar bos gila, benar apa yang di katakan Nona Muda... kau itu rubahhh mesummm! Seenaknya saja mengatai ku dokter gadungan! Jatuh lah sudah harga diri ku sebagai seorang dokter keluarga!"
Prans yang hendak mencegahnya ikut di buat terbelalak dengan apa yang ia dengar, "Kurang ajarrr, berani kau memaki ku?"
Prans langsung merogoh sakunya, mendiel nomor seseorang yang bisa ia andalkan.
"Cepat carikan aku dokter kandungan terbaik di Indonesia! Segera bawa orang itu ke rumah orang tua Naura yang ada di Bandung! Sekarang! Awas jika kau sampai terlambat, nyawa mu yang akan jadi taruhannya!" ucap Prans dengan tegas, begitu orang yang di hubunginya langsung menjawab panggilan teleponnya.
[ "Baik Tuan, akan saya laksanakan." ] ucap Dev dari sebrang sana, tanpa lagi bertanya pada Prans.
Prans langsung mematikan sambungan teleponnya, namun sedetik kemudian ia menghubungi Dev lagi, dan panggilan Dev sedang sibuk. Mesin operator yang menjawabnya
[ "Maaf, nomor yang anda tuju sedang sibuk, silahkan hubungi beberapa saat lagi!" ]
Sekali, dua kali Prans masih bersikap sabar dengan wajah datar. Tiga kali, empat kali panggilan membuat Prans berdecak kesal.
"Kurang ajar kemana lagi Dev! Apa dia sudah mendapatkan dokter kandungan yang aku inginkan? Tapi bagaimana jika dokter itu pria, enak saja...aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi." sungut Prans.
__ADS_1
Tangan kanannya masih menggenggammm hape yang masih menempel di daun telinganya. Tatapannya terkunci pada Naura seorang, sedangkan tangan kirinya terus mengelusss lembut pipi sang istri.
Hingga ke lima kali panggilan Prans di buat jengkel, "Kurang ajarrr, kemana Dev! Kenapa sok sibuk sekali asisten itu!" dengus Prans dengan kening mengkerut.
Panggilan untuk yang ke enam kalinya, baru lah sambungan Prans tersambung dan di jawab oleh Dev.
Dev langsung melaporkan pada Prans, apa yang sudah ia lakukan mengenai apa yang di minta Prans. Tanpa memberikan kesempatan untuk Prans bicara.
[ "Iya Tuan, saya baru saja membereskan apa yang Tuan minta. Dalam waktu 45 menit, dokter yang Tuan inginkan akan tiba di sana. Saya juga sudah menghubungi pak Dedi untuk menyiapkan landasan helikopter. Apa ada lagi Tuan, yang bisa saya lakukan untuk Tuan dan Nona Muda?" ]
"Wanita atau pria, dokter kandungan terbaik yang akan kau kirim ke Bandung untuk Naura?" tanya Prans dengan datar.
[ "Wanita, Tuan." ]
"Bagus, aku suka dengan cara kerja mu! Sudah sana, lanjutkan kerja mu! Buat hotel ku mengalami peningkatan, aku akan memberikan bonus lebih untuk mu, Dev!"
Prans langsung mengakhiri sambungan teleponnya. Sambil menunggu dokter tiba, Prans berusaha keras untuk membuat Naura sadar, meski dengan cara yang tidak masuk akal.
Prans mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya dengan wajah Naura tampa jarak, dengan ke dua tangan yang menopang tubuhnya. Ia menyesappp bibir Naura dengan menuntut, ciuman panasss yang Prans lakukan dengan kendali yang ia pegang, berharap Naura akan merespon apa yang ia lakukan.
Ayo sayang bangun... ini nikmat kan, biasanya kau akan mendesahhh dan mengeranggg. Ayo sayang buka mata mu! batin Prans dengan mata yang sesekali menatap kelopak mata Naura yang masih terpejam.
"Emmmmhhhhh! A- apa yang kaka lakukan?" tanya Naura dengan nafas yang terengah engah saat kembali siyuman. Ia menatap curiga Prans.
"Akhirnya kau sadar juga, sayang! Apa yang kau rasakan?" tanya Prans dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
Naura mengingat ingat sebelum ia tidak sadarkan diri, dan begitu mengingatnya, ia tidak melanjutkan kata katanya dengan pipi merona, Naura memalingkan wajah dari Prans karena malu.
"Tubuh ku sakit, lelah, apa aku tertidur? Tadi bukannya kita sedang itu ---"
"Sedang apa? Jadi kau sudah mengingatnya sekarang? Hem?" senyum terbit dari sudut bibir Prans, ia mengelusss pucuk kepala Naura dengan kelembutan.
"Aku bantu kau untuk mandi ya! Kita mandi bersama!" seru Prans dengan ke dua tangan yang langsung menggendong Naura ke dalam kamar mandi.
"Hanya mandi! Aku lelah ka, aku ingin tidur saja lah!" ucap Naura dengan manja, kepalanya bersandar pada dada bidang Prans, ke dua tangannya melingkar di leher Prans.
"Kenapa? Apa kau tidak menginginkan adik kecil ku lagi? Dia kan hanya menjenguk calon anak kita, sayang!" kilah Prans dengan mendudukan Naura di atas toilet duduk.
"Dasar rubahhh mesummm! Benar benar menjengkelkan! Gak tau apa aku kesakitannn, kelelahannn!" gerutu Naura dengan bibir mengerucut.
"Iya iya, aku tidak akan memaksaa mu... kita hanya mandi ya! Setelah itu kau harus sarapan." terang Prans dengan menyalakan keran air hangat dalam westafel.
Naura menatap Prans dengan curiga, aneh sekali ka Prans ini. Sebentar sebentar, memaksakan kehendaknya sendiri. Dan sekarang bilang iya, lama lama aku jadi tidak mengerti dengan sifat ka Prans.
"Apa yang kau bingungkan, sayang? Katakan saja?"
Bersambung...
...ššš...
Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.
__ADS_1
Abaikan kalo ga suka ya š š