
...šššš...
"Kita mau kemana lagi ka? Apa yang ingin kaka rencanakan sekarang? Kaka tidak akan bersikap bodoh kan?" cecar Naura.
"Kau itu sedang bertanya pada ku atau sedang mengintrogasi ku, hem?" Prans memainkan alisnya naik turun.
"Ihs tinggal jawab aja, di bawa ribet!" gerutu Naura dengan memutar bola matanya malas.
Prans tidak menjawab satu pun pertanyaan Naura, ia tetap melangkah, membawa Naura yang penuh dengan tanda tanya di kepalanya.
"Selamat pagi Nona, semoga hari Nona menyenangkan!" ucap Dedi setelah membukakan pintu mobil untuk Naura.
"Tergantung hari yang akan aku lalui, pak!" ucap Naura setelah di dudukkan ke dalam mobil oleh Prans.
"Apa kau sedang menyindir ku, sayang?" Prans menjawil hidung Naura dengan gemas lalu memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya.
"Itu kenyataannya ka!" Naura menyilangkan ke dua tangannya di depan dada.
"Kalian menyusul lah!" ucap Prans pada Dedi setelah menutup pintu mobil untuk Naura.
"Pasti Tuan, saya juga ingin menjadi bagin dari kebahagiaan Nona." ucap Dedi yang tersenyum tulus.
Prans berjalan ke arah kemudi. Sementara Naura memanfaatkan nya untuk bertanya pada pak Dedi.
"Apa pak Dedi tahu, ka Prans akan membawa ku kemana?" tanya Naura setelah membuka kaca jendela mobil.
"Maaf Nona, meski saya tahu... saya tidak bisa mendahului Tuan, Nona tanyakan pada Tuan saja ya!" ucap Dedi dengan memperlihatkan sederet gigi putihnya.
"Ihs kalian ini, sama sama menyebalkan." ucap Naura dengan ketus, tidak menyadari jika Prans kini tengah menunggu Naura untuk berbalik badan menghadap ke arahnya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Prans dengan wajah yang sangat dekat dengan Naura.
"Ahhhh! Kau mengagetkan ku ka!" Naura menjarak wajahnya dengan Prans.
"Ihs kau pikir aku ini hantu, bisa membuat mu terkejut seperti itu hem!" Prans memacu kendaraannya meninggalkan villa.
Dreet dreet dreet.
Prans memasangkan hendsed di telinganya, sebelum menjawab panggilan telpon yang masuk ke hape-nya.
[ "Maaf bos, apa bos sudah meninggalkan villa?" ] tanya Haikal saat Prans sudah menjawab panggilan teleponnya.
Prans melirikkan matanya ke arah Naura, "Kami baru meninggalkan villa, ada apa? Tidak ada kendala kan?"
[ "Semua berjalan dengan lancar, bos. Kalo begitu biar saya dan yang lain mulai bersiap ya bos, untuk menyambut kedatangan Nona Muda." ]
__ADS_1
"Hem!" Prans mengakhiri panggilan telponnya.
"Siapa ka? Apa itu pak Dev? Apa kalian akan membahas pekerjaan? Kenapa kaka harus membawa ku? Kaka bisa meninggalkan aku di villa, kalo begini kan aku jadi menyusahkan kaka!" tutur Naura dengan asumsinya.
Prans mengerutkan keningnya, sejurus kemudian mengacak rambut Naura, "Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti!"
"Itu yang barusan menelpon kaka." jawab Naura sok tahu.
"Dasar bocah!"
Naura memperhatikan jalan, mengingat jalan yang sedang di lalui Prans.
"Ini kan jalan menuju rumah orang tua ku, ka... apa kita akan ke sana ka?" tanya Naura dengan kening mengkerut, menatap tajam Prans.
"Yah kau benar, kita akan mengunjungi rumah orang tua mu. Apa kau akan menjual rumah orang tua mu, sayang?" Prans menatap Naura dengan tanda tanya.
"Apa menurut kaka... aku akan menjual rumah yang memberikan aku banyak kenangan? Rumah masa kecil hingga aku remaja. Semudah itu kaka berkata!" ucap Naura dengan ketus.
"Hei, apa kau marah? Aku kan hanya bertanya! Siapa juga yang berkata!" Prans menarik jemari Naura lalu mengecupnya.
"Aku tidak marah, aku hanya akan membenci mu jika kaka menyuruh ku untuk menjual rumah peninggalan orang tua ku!"
"Aku tidak akan menyuruh mu untuk menjualnya, justru aku akan menempatkan beberapa orang untuk meninggalinya, ya hitung hitung untuk menjaga kebersihan rumah peninggalan orang tua mu itu!"
"Kalo itu aku setuju." ucap Naura dengan yakin.
Prans menggendong Naura, melangkah memasuki rumah orang tua Naura. Sementara Naura menatap rumah orang tuanya dengan tatapan sendu, ke dua tangannya melingkar di leher Prans.
Mama, papa, Dito, aku pulang. Aku rindu kalian yang menyambut ku dengan hangat saat aku kembali. Kini semua itu hanya tinggal kenangan. Aku sangat merindukan kalian!
"Mereka pasti menyambut kedatangan mu, sayang... hanya saja dunia mereka dan kita saat ini berbeda." ujar Prans dengan tatapan hangat.
"Kenapa mereka pergi meninggalkan aku dengan begitu cepat ka? Aku belum sempat membahagiakan mereka!" cicit Naura dengan menyapu bulir bening di pipinya.
"Tuhan lebih menyayangi mereka di bandingkan dengan mu, sayang! Coba lah mengerti dan pahami situasi ini! Mereka pasti akan sedih jika melihat mu bersedih!" seru Prans, membujuk Naura agar tidak larut dalam kesedihan.
Naura membuka daun pintu yang menjulang tinggi ke atas.
Jeder.
Preeet preeeet preeet.
Kehebohan nampak dari dalam rumah, saat Naura berhasil membuka pintu. Suara terompet saling sahut menyahut, kertas kecil berwarna warni berterbangan di atas kepala mereka.
"Kalian?" Naura terharu saat sepasang mata sendunya kini dapat melihat kembali semua karyawannya. Mereka sudah seperti keluarga sendiri bagi Naura, hingga bulir bening menerobos mata indahnya.
__ADS_1
"Selamat datang bu bos! Kami merindukan bu bos!" ucap semua karyawan kedai pelangi dengan kompak. Mereka menyambut Naura dengan wajah ceria dan riang.
"Aku juga merindukan kalian! Kalian membuat ku terharu. Tapi bagaimana bisa kalian tau tempat ini? Tempat ini kan yang tau hanya kamu, Novi!" Naura mengalihkan pandangannya pada Novi.
Prans menyunggikan senyumnya meski tidak terlihat saat sepasang mata tajamnya menatap Naura, aku harap... cara ini bisa membuat mu sedikit melupakan kesedihan mu, sayang!
Novi mengerdikkan bahunya, "Aku hanya mengikuti kata paman pacar, bos!" ucap Novi dengan memalingkan wajahnya dari Naura.
"Apa kalian ingin terus membuat kami berdiri dan tertahan di depan pintu?" celetuk Prans dengan suaranya yang dingin, sepaket dengan wajahnya yang datar.
"Silahkan masuk bos! Nona Muda!" Haikal mempersilakan ke duanya untuk memasuki rumah orang tua Naura yang kini di sulap bak tempat pesta.
"Kalian makan lah dan jangan ada yang sungkan!" ucap Prans pada semuanya yang hadir, sementara ia duduk menempel dengan Naura.
Prans tidak membicarakan Naura lepas dari pandangannya. Semua karyawan kedai pelangi, dojter Samuel, Amarta, pak Dedi, koki, Dega, Haikal dan yang lainnya saat itu menikmati pesta itu dengan suka cita.
"Jadi kapan bu bos akan datang ke kedai? Kedai terasa sepi tanpa bu bos!" cicit Nina.
"Iya Naura... sekarang juga terdapat menu baru yang menjadi makanan favorit di antara para pengunjung kedai." terang Juni.
"Kedai juga akhir akhir ini banyak di datangi pengunjung baru, Naura!" ucap Mega.
"Benarkah begitu?" tanya Naura dengan bersemangat.
"Apa kau sudah tidak apa apa, Naura?" tanya Angga.
"Ah aku sudah tidak apa apa ko, bang. Bagaimana kabar Citra... pasti sudah semakin tinggi saat ini ya!" Naura menanyakan kabar putri Angga.
"Ia cuma bertambah beberapa centimeter saja." ucap Angga.
"Apa kau suka dengan kejutan ku kali ini?" tanya Prans dengan berbisik di telinga Naura.
"Ini baru kejutan yang membawa tangis kebahagiaan ka, terima kasih sudah membawa mereka. Tapi aku masih belum bisa memaafkan kaka soal kematian keluarga ku!" ucap Naura dengan penuh penekanan saat membahas keluarganya.
Prans merangkul bahu Naura, "Jika saja aku bisa menukarkan nyawa ku, dan menggantinya dengan nyawa keluarga mu. Pasti hal itu sudah aku lakukan sejak lama, sayang!" ucap Prans dengan tulus.
Naura menyentuh bibir Prans dengan jari telunjuk kanannya, "Kaka jangan bicara seperti itu! Mana mungkin. hal itu bisa terjadi di dunia nyata. Jangan ngibul ka! Lalu anak ini akan lahir tanpa seorang ayah?" kini Naura mengelusss perutnya yang rata.
Ayu yang melihat Naura dan Prans, jadi bertanya tanya dalam hatinya, kenapa dengan Naura dan pak Prans? Kenapa wajah keduanya tampak ada masalah ya?
Amarta yang juga memperhatikan Naura tampak tersenyum, aku harap tidak akan ada lagi kesedihan yang menghampiri Nona dan Tuan.
Bersambung...
...ššš...
__ADS_1
Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.
Abaikan kalo ga suka ya š š