Sangkar Suami Kejam

Sangkar Suami Kejam
Menyesal aku


__ADS_3

...šŸ’–šŸ’–šŸ’”šŸ’”...


"Mau apa lagi bocah nakal, aku sudah meminta mu untuk istirahat. Tapi kau mau mengusik ku rupanya ya! Lihat apa yang bisa aku lakukan pada mu, sayang!" gumam Prans dengan melangkah ke luar, seringai dengan menatap pintu yang masih tertutup.


Kreeek.


Setelah pintu di buka, tampak Naura yang sedang duduk di kursi roda, menyunggikan senyumnya pada sang suami.


"Apa urusannya sudah selesai? Apa aku mengganggu mu, ka?" tanya Naura.


Prans menatap Naura dengan kening mengkerut, astaga anak ini... bagaimana aku bisa marah padanya, jika terlihat menggemaskan di mata ku.


"Ka! Kenapa melamun! Kalo di ajak ngomong itu harusnya di jawab napa!" Naura menarik narik ujung kaos yang di kenakan Prans.


Bukan Prans kalo langsung menjawab pertanyaan Naura, ia langsung mendorong kursi roda Naura menjauhi ruang kerjanya menuju kamar mereka berdua.


"Ihs ke biasaan... kalo di tanya gak mau jawab. Tadi aku lihat bang Dega dan bang Haikal ke luar dari ruang kerja kaka, apa ada hal penting yang kalian bicarakan ka?" cicit Naura dengan mendongakkan wajahnya menatap wajah Prans.


"Hanya masalah pekerjaan. Apa kau lapar? Apa ada yang ingin kau makan?" tanya Prans datar.


Naura mengerutkan keningnya, aku bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk ke luar dari kediaman ini kan. Meski hanya sesaat, cuma buat makan apa ya yang enak... malam malam begini, makan di tempat, udara malam yang dingin, enak yang anget anget nih.


Prans menggelengkan kepalanya melihat Naura yang tampak berfikir, mencari cari alasan untuk bisa menghirup udara luar, menyesal aku, menawarinya ingin makan apa!


"Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan, sayang! Bukan kita yang akan pergi, aku bisa menyuruh Haikal atau pun Dega, untuk mencarikan mu makanan apa yang ingin kau makan saat ini!" ucap Prans dengan santainya.


"Ihsss gak bisa gitu ka, itu namanya curang. Nanti kalo ada rasa yang kurang gimana? Ayo lah ka, kita aja yang cari makan di luar berdua, atau kaka bisa minta bang Haikal ikut dengan kita." terang Naura yang tidak mau kalah debat dengan Prans.


Prans menatap tajam bodyguard yang berjaga di depan pintu kamarnya, "Aku sudah meminta mu untuk menjaganya! Kenapa kau izinkan istri ku ke luar kamar hah!" ucap Prans dengan penuh penekanan.


Sang bodyguard berniat menjelaskan, meski takut di marahi Tuannya, "Maaf Tuan, tapi Non ...."


"Ka! Bukan salahnya, tapi salah ku... aku yang memaksa untuk menyusul mu, eh tiba tiba perut ku pengen makan seefood yang di emperan nih ka, kayanya enak gitu, udara malam, makan di tenda pinggir jalan, siwirrr siwirrr kena angin." kilah Naura dengan tangannya yang mengelusss perut ratanya, membayangkan enaknya makan seefood di tenda pinggir jalan.


Prans hanya mengerutkan keningnya, lalu menyuruh bodyguard itu untuk membukakan pintu kamar mereka dengan kode gerakan kepalanya.


Naura senyum senyum sendiri saat Prans mendorong kursi rodanya masuk ke dalam kamar, yang ia pikir Prans mau menuruti keinginan hatinya.


"Apa yang kaka lakukan? Kaka gak ambilin aku jaket? Atau kaka mau aku yang ambilkan untuk kita kenakan?" cicit Naura saat melihat Prans malah masuk ke dalam kamar mandi, setelah menghidupkan televisi untuk Naura tonton.


Bugh.


Prans menutup pintu kamar mandi dengan kasar, membuat Naura berjingkat kaget.

__ADS_1


"Dasar ka Prans, rubah mesummm... dia pikir aku akan mengalah... enak aja.. gak bisa lah ya! Lihat permainan ku, ka Prans hehehe, ku pastikan kau yang akan menuruti kemauan ku yang satu ini!" Naura tersenyum penuh arti melihat pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


Setidaknya Naura sudah cukup hafal apa yang di inginkan Prans darinya, selain tubuhnya dan menuruti apa mau Prans.


Ia bergegas memasuki walk in closed, memilihkan jaket untuk Prans kenakan, ia juga mengambilkan jaket untuk dirinya kenakan.


Sementara di dalam kamar, Prans yang baru saja ke luar dari dalam kamar mandi, tidak mendapati keberadaan Naura.


"Kemana lagi bocah itu pergi?" Prans mengedarkan pandangannya, mencari sosok sang istri.


Ceklek.


Prans membuka pintu, bertanya dengan kesal pada bodyguard yang masih setia berdiri di depan pintu kamar tuannya.


"Apa kau membiarkan istri ku meninggalkan kamar lagi?"


"Tidak Tuan, Nona tidak meninggalkan kamar. Nona masih berada di dalam bersama dengan Tuan!" ucap bodyguard tanpa ragu.


Bugh.


Prans menutup kembali pintu kamar dengan kasar, membuat bodyguard berjingkat kaget.


Naura yang baru saja ke luar dari ruang walk in closed, dengan jaket di atas pangkuannya. Menyunggingkan senyum manisnya pada Prans, saat mata ke duanya saling pandang.


"Hehehe apa kaka mencari ku?" tanya Naura dengan terkekeh.


Naura menyodorkan jaket untuk Prans kenakan, berkata dengan santai, "Kaka pakai ini... jika tidak ingin aku menghilang dari pandangan mu, hem!"


Prans mengerutkan keningnya, namun tangannya menurut pada Naura, "Cihs kau ini, kau ingin aku memakainya untuk tidur? Atau kau sedang mengancam ku?" Prans mengenakan jaket yang di berikan Naura padanya.


"Aku tidak mengancam mu ka, hanya mencoba mengatakan, apa yang harus aku katakan pada kaka." Naura mengenakan sendiri jaket yang ia siapkan untuk dirinya.


"Jadi, apa lagi yang harus aku lakukan?" tanya Prans, yang sudah tau jika Naura memiliki keinginan.


Grap.


Naura melingkarkan tangannya pada ke dua paha Prans, ingin memeluk pinggang Prans, tapi tangannya tidak sampai untuk menggapai pinggang Prans.


"Kau tidak berniat untuk membangunkan adik kecil ku kan, sayang?" Prans memainkan alisnya naik turun, dengan wajah menggoda Naura.


Naura mencubit kecil paha Prans.


"Awhh sakit sayang!" ledek Prans pura pura kesakitan.

__ADS_1


"Ayo bawa aku, aku mau makan seefood yang di tenda pinggir jalan, aku mau makan es krim di tempat, aku mau makan bakso dengan kuah pedas, aku kau mertabak pedas manis." cicit Naura.


Prans menggaruk keningnya yang tidak gatal, mendengar ocehan Naura, kenapa makanannya sedikit terdengar aneh di telinga ku ya?


"Kau yakin ingin memakan semua yang kau sebutkan tadi?" tanya Prans dengan ragu.


Naura menganggukkan kepalanya dengan yakin, aku yakin ka Prans akan menuruti ku.


"Lalu aku dapat apa... jika aku membawa mu ke luar malam ini?" Prans menyeringai, dasar bocah licik.


"Apa yang kaka mau, aku turuti... tapi tidak boleh dari 2 rode." cicit Naura dengan wajah menunduk, dengan semburat merah di ke dua pipinya.


Hap.


Prans menggendong Naura dengan ke dua tangannya ala ala bridal. Sementara Naura melingkarkan ke dua tangannya di leher Prans.


"Hehehe jangan salahkan aku... jika aku akan menerkam mu sampai kau tidak bisa berjalan besok pagi, sayang!" ucap Prans di telinga Naura.


Bugh.


Naura melayangkan kepalan tangannya di dada Prans.


"Awwhh aku salah apa lagi hem?" tanya Prans dengan alisnya yang naik turun.


Naura berkata dengan pura pura sedih, lalu memasang wajah memelas di hadapan Prans, "Aku berjalan dengan bantuan kursi roda, jadi kaka lebih memilih menghabiskan malam dengan kursi roda ku, ketimbang dengan menghabiskan malam dengan ku? Begitu maksud kaka?"


Prans merasa bersalah, melihat wajah Naura yang bersedih, "A---"


Gelak tawa Naura pecah, setelah ia memotong perkataan Prans, "Aku tidak keberatan kalo itu mah, ahahhaha!"


"Dasar bocah nakal!" gerutu Prans.


Prans benar benar membawa Naura ke luar mencari makanan yang di sebutkan Naura, dengan Haikal yang ikut bersama mereka duduk di belakang kemudi.


"Bang Haikal kemana aja? Bagaimana dengan kabar Novi? Kalian masih bersama kan? Kapan kalian menikah?" cecar Naura dengan duduk bersandar di dada Prans.


Haikal menelan salivanya, dengan melirik Prans dari kaca spion mobil.


"Kau tidak perlu menjawabnya, jika tidak ingin menjawabnya Haikal!" ujar Prans datar.


bersambung...


...šŸ’–šŸ’–šŸ’–...

__ADS_1


makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.


Abaikan kalo ga suka ya šŸ˜…šŸ˜…


__ADS_2