
"Kalian mau ke mana?" tanya Amarta dengan mata membola, melihat pak Dedi dan Dega tidak mengenakan seragam kerjanya.
"Aku ingin menyusul Nona dan Tuan. Aku tidak yakin Tuan bisa mengadapi Nona seorang diri." ucap Dega.
"Kau?" tanya Samuel pada pak Dedi.
"Aku mengenal Tuan Muda sejak lama, setidaknya Tuan akan memiliki pelampiasannn untuk kemarahannya." terang pak Dedi.
"Cihhhss kalian ini... yakin pada ku, tidak akan terjadi apa apa pada Prans dan Naura. Mereka pasti akan membutuhkan ruang untuk saling meluapkan perasaan mereka, emosi mereka. Jadi kalian tidak perlu mengganggu mereka." cicit Samuel.
"Kau ini sahabatnya dokter, kenapa kau tidak memiliki empati sedikit pun pada Tuan Muda? Jika bukan kita, siapa yang akan membuat hati Tuan tegar dalam menghadapi keterpurukan Nona?" cicit Amarta dengan tatapan kesal pada dokter Samuel.
Sementara mobil melaju dengan kecepatan sedang, dengan sesekali Prans memperhatikan Naura. Fokus Prans bercabang dua arah, antara setir kemudi dan Naura.
Prans menoleh ke arah perut Naura yang rata, harusnya tadi sebelum berangkat... aku meminta Samuel untuk melakukan tes padanya ya! Dasar bodoh!
Sementara Naura melakukan hal yang tidak jauh berbeda dengan Prans. Memperhatikan jalan dan sesekali memperhatikan pria tampan yang menjadi suaminya.
"Ada apa ka? Apa ada yang salah dengan ku?" tanya Naura saat mendapati Prans yang sedang menatap perutnya yang rata.
"Tidak ada... kau tidur lah, perjalanan kita masih panjang untuk sampai ke Bandung." cicit Prans yang tidak lagi menutupi tujuan mereka saat ini.
"Kalo aku tidur, siapa yang akan menemani kaka? Kaka tumben, tidak membawa serta bang Haikal untuk menjadi supir kita?" tanya Naura dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobil, mata indahnya menatap bahagia Prans.
"Kau tidak perlu mencemaskan ku, sayang! Haikal... ada pekerjaan lain yang sedang Haikal lakukan." ujar Prans menatap hangat Naura.
"Aku masih penasaran ka, apa maksud kaka tadi ya! Jujur, aku kurang mengerti dengan apa yang kaka katakan pada ku sebelum aku terapi tadi." ujar Naura.
"Intinya aku tidak akan membiarkan mu pergi menjauh dari ku, aku tetap akan mempertahankan mu meski kau meminta dan memohon sekali pun untuk aku melepaskan mu!" ucap Prans dengan mengelusss pipi Naura.
Naura menggenggammm tangan Prans, "Seburuk itu pemikiran mu pada ku, ka? Apa alasan untuk aku meminta mu melepaskan aku?"
"Entah lah, aku rasa kau akan kecewa pada ku!" Prans mengerdikkan bahunya.
Naura mendudukkan dirinya dengan tegak, membuang nafasnya dengan kasar, menepuk nepuk punggung tangan kiri Prans yang sedang ia genggam.
"Aku kecewa pada mu saat aku mengetahui kau main tangan pada karyawan mu, ka! Sedangkan sekarang kau tidak seperti itu lagi kan? Atau kau masih suka menghabisi nyawa seseorang tanpa ampun?" tanya Naura dengan tatapan menyelidik.
Prans membatin, aku menghabisi nyawa keluarga mu meski bukan dengan tangan ku sendiri. Tapi mereka kehilangan nyawa karena aku lah yang menjadi alasannya. Aku lah alasan Jasen menghabisi keluarga mu, mengacaukan resepsi pernikahan kita, alasan Serli kehilangan nyawa.
"Kenapa kaka diam? Kaka tidak menghabisiii nyawa siapa pun lagi kan?" tanya Naura lagi.
"Apa kau ingin ngemil? Pak Dedi tadi menyuruh koki membuatkan cemilan untuk mu. Mungkin bisa kau makan itu!" cicit Prans dengan menepikan mobilnya ke bahu jalan.
"Eh kapan pak Dedi dan koki menyiapkannya ka? Ko aku tidak tahu?" Naura memperhatikan Prans yang menghadap ke kursi belakang, tangannya tengah menggapai sesuatu yang ada di belakang sana.
__ADS_1
"Tadi saat kau sedang melatih kaki mu. Kau makan lah ini, ini baik untuk kesehatan mu, sudah di sesuaikan dengan selera mu!" ujar Prans dengan meletakkan sekotak bekal makanan di pangkuan Naura, ia juga sudah membuka tutupnya.
"Ini brownis ka?" tanya Naura menatap dengan mata berbinar.
"Itu telor ceplok sayang! Jelas itu brownis dengan aroma jahe, kau ini! Sudah tahu masih saja bertanya!" sungut Prans dengan melajukan kembali mobilnya.
"Ihs gitu aja marah, apa kaka mau! Ayo buka mulut mu ka! Biar aku suapi!" ucap Naura dengan mulut sambil mengunyah brownies yang ada di dalam mulutnya.
Naura mengarahkan potongan brownies yang ada di tangannya ke depan mulut Prans, "Ayo ka, aaaaa!"
Prans langsung memalingkan wajahnya, saat hidungnya mencium aroma jahe dari brownies yang sedang di arahnya ke mulutnya dengan tangan kanan Naura.
"Singkirkan itu dari ku, sayang! Aku mual!" dengan terpaksa, Prans menepikan kembali mobil yang belum lama melaju ke jalan raya ke bahu jalan kembali.
"Ihs gak tau rasanya enak apa, menyesal lo ka, udah nolak brownies ini!" sungut Naura dengan tetap menyantap brownies panggang aroma jahe dengan lahap.
Prans buru buru turun dari dalam mobil, ia membungkukkan tubuhnya, "Uweeek uweeek uweeek!" Prans mengeluarkan isi perutnya.
Naura langsung menelan salivanya, saat melihat Prans yang berada di luar tengah memuntahkan isi perutnya.
Apa yang terjadi dengan ka Prans, tadi ka Prans baik baik aja. Apa ka Prans ada salah makan ya?
Naura menyimpan bekal makanannya yang sudah ia tutup kembali di atas dasboard mobil, lalu berseru dengan kaca mobil yang sudah ia turunkan.
"Apa kaka baik baik aja?" tanya Naura dengan khawatir, tidak biasanya ka Prans seperti ini.
"Astagaaa ada apa dengan perut ku! Mual sekali mencium aroma jahe itu!" Prans kembali mengingat aroma brownies jahe yang tadi di makan Naura dengan lahap, "Uuuuweek uuweeek uuuwweeek!"
Dari sudut mata Prans, nampak bulur bening ke luar, tubuhnya lemas seketika, "Astagaaa aku harus kuat, aku sudah janji pada Naura, untuk membawanya ke Bandung."
Naura menatap Prans dengan kasihan, "Aku ingin membantu mu ka, tapi aku coba, aku pasti bisa, perlahan Naura. Ayo praktekkan hasil latihan mu selama ini!" gumam Naura dengan membuka pintu mobilnya, memberikan semangat pada dirinya sendiri.
Prans tidak menyadari apa yang sedang Naura lakukan, dengan perlahan Naura menurunkan satu kakinya dari dalam mobil, dan dengan perlahan hingga ke dua kakinya menepak pada aspal.
Naura membuang nafasnya dengan lega, "Ayo Naura, kamu pasti bisa. Kasihan suami ku itu!" gumam Naura dengan sesekali melirik ke dua kakinya dan Prans secara begantian.
"Uuweeek uuuwweeeeek uuweeek!" Prans menghapus bulir bening dari sudut matanya, astagaaa Prans cemen sekali kau! Cuma seperti ini, bisa membuat mu mengeluarkan air mata! Dasarrr bodoh!
Dengan perlahan Naura mengayunkan kakinya, meski terasa berat, ia mencoba dengan semaksimal mungkin, keteguhan hatinya membuatnya tidak ragu untuk menghampiri Prans.
"Ka Prans!" seru Naura saat ia akan terjatuh karena hilang keseimbangan.
Prans menoleh ke arah suara yang memanggil namanya, ia membola dengan langsung berlari ke arah Naura, apa yang sedang bocah ini lakukan? Kenapa ia membahayakan nyawanya sendiri!
"Nauraaaa!" seru Prans.
__ADS_1
Bugh.
Naura jatuh dalam dekapan Prans, "Dasarrr bodoh! Apa yang kau lakukan? Kau mau cari mati hah!" bentak Prans dengan memeluk erat tubuh sang istri.
Deg deg deg deg.
Degup jantung Naura seakan bertalu talu. Ia juga tidak akan menyangka jika ia akan kehilangan keseimbangan. Namun untungnya Prans datang di saat yang tepat.
"A- a- aku khawatir pada mu ka! Maaf aku tidak menyangka ini terjadi, a- a- aku hiks hiks!" Naura tidak melanjutkan perkataannya, dadanya seakan sesak saat di bentak Prans, bulir bening mengalir dengan deras dari pelupuk mata indahnya.
Kenapa ka Prans membentak ku? Aku hanya menghawatirkan ka Prans, ka Prans jahat!
Prans menghujani pucuk kepala Naura dengan kecupan, "Maaf sayang, aku juga menghawatirkan mu... ingat kan kau masih perlu beberapa sesi lagi untuk berlatih berjalan! Lain kali tetap diam lah di dalam mobil. Aku tidak akan apa apa!"
Hap.
Prans mengangkat tubuh Naura dengan ke dua tangannya, kaki Prans yang lemasss, seakan bertenaga kembali saat melihat Naura yang begitu mencemaskan keadaannya. Ia kembali membawa Naura ke dalam mobil.
"Apa kaka yakin tidak apa apa?" Naura menghapus peluh yang ke luar dari kening Prans.
"Aku tidak apa apa, tapi tolong ya! Jauhkan brownies jahe itu dari ku! Aku tidak sanggup dengan aromanya, untuk membayangkannya saja sudah membuat ku kembali mual." ucap Prans dengan jujur.
"Jadi ka Prans seperti ini, karena brownies aroma jahe?" tanya Naura dengan tatapan yang sulit di percaya.
Prans menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Naura.
"Ini sulit di percaya ka!" cicit Naura.
"Itu lah kenyataannya, sayang!" Prans mendudukkan Naura kembali di kursi mobil, memasangkan sabuk pengaman pada tubuhnya.
Prans kembali melajukan mobilnya, dengan tubuhnya yang sedikit kurang baik.
"Apa kaka yakin tidak ingin kita beristirahat sejenak?" tanya Naura saat perjalanan yang mereka tempuh sudah 2 jam lamanya.
"Aku tidak apa apa sayang!" ucap Prans dengan menyunggikan senyumnya.
Tanpa terasa siang pun datang, tidak sampai 3 jam perjalanan, keduanya sudah sampai pada tempat yang di tuju.
"Kenapa kaka membawa ku ke sini? Ini rumah siapa ka?" tanya Naura dengan tatapan penuh tanda tanya pada Prans, saat Prans memarkirkan mobilnya di salah satu area pemakaman keluarga.
bersambung...
...ššš...
Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.
__ADS_1
Abaikan kalo ga suka ya š š