Sangkar Suami Kejam

Sangkar Suami Kejam
Balas dendam


__ADS_3

...šŸ’–šŸ’–šŸ’”šŸ’”...


Sreek.


"Akkkhhh, ka... apa yang kaka lakukan? Kaka bisa membunuh ku!"


Teriak Naura saat Prans menghempaskan tubuhnya ke luar balkon, membuat Naura kini menggelantung di sana, ia harus menggenggam erat tangan Prans agar tidak jatuh ke bawah.


"Katakan sekali lagi... jika kau ingin pisah dari ku, sayang!" Prans menyeringai melihat Naura yang tampak ketakutan, semakin erat ia berpegang pada tangan Prans.


"Ka!" Naura menoleh ke belakang, melihat betapa tingginya dan menyeramkannya jika sampai Prans melepassskan tangannya.


Ayo Naura, katakan kau membutuhkan ku! Aku tidak akan membuat mu celaka! Aku hanya menggertak mu, sayang! Aku menyayangi mu dan juga calon anak kita! Mana mungkin aku tega menghabisi nyawa ku sendiri! Kalian berdua lah yang sekarang menjadi nyawa ku.


"Kita bisa berpisah dengan cara baik baik kan! Kaka tidak perlu seperti ini ka!" ucap Naura dengan mebatap Prans, ia menggeleng kan kepalanya, "Jangan lepas tangan ku! Bawa aku naik ke atas ka! Aku mohon!" pinta Naura dengan lirih.


Prans melepasakan satu tangan Naura, membuat wanita itu kembali berseru memanggil namanya.


"Pransss!"


Prans tersenyum pahit, hatinya teriris mendengar Naura yang tetap ingin berpisah darinya.


"Kau gila ka! Apa kau ingin membunuh ku? Tidak cukup dengan membunuh orang tua ku?" ucap Naura dengan terisak.


"Aku sudah katakan pada mu, bukan aku yang membunuhnya, apa kau tuliii hah! Jasen yang menghabisiii orang tua mu! Adik mu! Sahabat mu! Dan beberapa tamu lainnya!" bentak Prans dengan mata melotot, terpancar kemarahan dari sorot matanya.


Pegangan tangan Naura mulai melemah, Naura memejamkan matanya, apa seperti ini akhir hayat ku, mah, pah, aku menyusul kalian.


Bugh.


Pintu kamar di buka dari luar.


Samuel dan Amarta masuk ke dalam ruang itu dengan wajah terkejut melihat Naura yang menggantung di balkon, dengan tangan yang berpegangan dengan Prans.


"Bos! Jangan gegabah, ingat Nona sedang mengandung benih mu!" seru Samuel dengan wajah pias, menghawatirkan keadaan Naura jika sampai Prans melepasakan genggaman tangannya.


Naura membola, "A- apa? Aku mengandung?" tanya Naura setengah tidak percaya dengan apa yang di katakan dokter Samuel.


"Iya kau mengandung benih ku! Apa sekarang kau masih ingin berpisah dari ku? Menyusul orang tua mu ke surga?" Prans melepaskan genggaman tangannya.


"Ka! Jangan kejam pada ku! I- ini anak kita!" seakan mendapat kekuatan baru, Naura kembali menggenggammm tangan Prans dengan erat.


Sementara di bawah, Dega langsung mengintruksi pengawal lainnya, untuk mencari alas agar Naura jatuh di atasnya.

__ADS_1


"Kau baru tau jika aku kejam! Kau mau bersama ku atau ingin tetap kita berpisah?" tanya Prans, ayo katakan jika kau akan bersama ku, buang pikiran mu jauh jauh untuk berpisah dari ku, Naura!


Telapak tangan Naura yang basahhh, membuat ia tidak sanggup lagi bertahan untuk menggenggaman tangannya Prans.


"A- aku tidak sanggup lagi! Akkkhhh!"


Prans ikut menjatuhkan dirinya ke luar balkon, memeluk tubuh Naura, membuat keadaan berbalik.


"Bos!" seru Samuel.


"Akkkhhh Nona!" seru Amarta dengan menutup mulutnya dengan tangannya.


Bugh.


Tubuh Prans mendarat di atas matras dengan ke dua tangan yang memeluk Naura dengan erat, sementara Naura menindih tubuh Prans dengan mata yang terpejam, dengan degup jantung yang tidak karuan.


Naura semakin merapatkan ke dua matanya untuk terpejam, berfikir jika nyawanya benar benar sudah berakhir, apa aku sudah mati? Aku mati dengan membawa kecewa ku dengan ka Prans, kau jahat ka Prans. Kau tega membunuh ku dan calon bayi kita! Kau... benar benar pria kejam, musang kejam, pria tidak punya hati!


"Bos!" suru Dega yang ingin membantu Tuannya, namun Prans mencegahnya dengan mengangkat satu tangannya ke atas.


Dega memberikan arahan pada yang lain untuk meningkatkan lokasi.


Sementara dari atas balkon, Samuel dan Amarta membuang nafas lega, melihat ke duanya yang baik baik saja.


"Aku tidak menyangka, Tuan benar benar nekat terhadap Nona. Bagaimana jika itu membahayakan kandungan Nona? Pasti Tuan Prans akan menyesal." gerutu Amarta.


"Apa yang membuat dokter yakin, Tuan tidak akan membahayakan nyawa kandungan Nona? Bayangkan saja, jika Tuan terlambat, pasti Nona sudah tewas karena terjatuh dengan kandungannya yang ikut lenyap." sungut Amarta yang mengikuti langkah Samuel yang meninggalkan ruangan.


"Kau ini banyak bicara juga ya! Jika Nona dan kandungannya tiada, kau juga akan tiada!" Samuel mengacak pucuk kepala Amarta, merasa gemas dengan perawat yang selama ini bekerja untuk Naura.


Sementara Prans mengelusss punggung Naura, "Apa senyaman itu berada di atas tubuh ku, membuat mu merasa sudah di surga?" tanya Prans dengan suara paraunya.


Naura membuka matanya, apa? Jadi aku belum mati? Bukannya tadi ka Prans membiarkan aku jatuh?


Prans mengangkat kepala Naura, membuatnya menatap wajahnya, "Apa kau pikir, aku sudah gila? Membiarkan mu dan calon anak kita celaka?"


Naura menatap tajam Prans, ia memukulkan kepalan tangannya pada dada bidang Prans dengan berseru.


Bugh bugh bugh.


"Kau jahat ka! Dasar manusia tidak punya hati! Kau benar benar suami kejam! Bagaimana jika tadi aku mati beneran? Apa kau puas bisa melenyapkan aku dan calon anak? Pokoknya aku ingin balas dendam pada mu ka!"


Prans menjadikan lengan kirinya sebagai bantalan untuk kepalanya sendiri, dengan tangan kanannya yang merekat erat pada pinggang Naura. Mata tajamnya terpaku akan wajah Naura, seakan puas hanya dengan memandangnya dari dekat.

__ADS_1


"Benarkah? Dengan cara apa kau ingin balas dendam pada ku hem?" tanya Prans lagi, aku sudah menang sayang, tidak akan ada lagi yang bisa membuat mu menjauh dari ku. Kau dan calon bayi kita, kalian berdua segalanya untuk ku!


"Lepas ka! Aku ingin kita tidak sekamar untuk beberapa hari ke depan! Aku tidak ingin melihat wajah mu, ka!" cicit Naura, mencoba memberontokkk, melepaskan dirinya dari tangan kanan Prans.


Berkali kali Naura mencubit kecil dada bidang Prans dengan kukunya, mana bisa pengadilan agama mengabulkan wanita hamil untuk berpisah dari suaminya, apa ini pertanda jika aku harus bertahan dengan monster musang ini? Moster? Kata moster itu lebih tepat untuk mu ka Prans!


"Apa pun itu, aku tidak akan membiarkan mu meminta pisah dari ku. Aku milik mu, dan kalian berdua hanya milik ku." ucap Prans dengan senyum kemenangan.


Bugh.


"Dasarrr ka Prans gila!" sungut Naura yang kini berhasil beranjak dari atas tubuh Prans, dengan menyeret ke dua kakinya, menjadikan ke dua tangannya sebagai tumpuan untuk berjalan.


Aku harus mencari cara untuk bisa berpisah dengannya, jika moster kejam itu berubah pikiran, bisa saja ka Prans sewaktu waktu menghabisiii nyawa ku dan kandungan ku!


Hap.


Prans menggendong tubuh Naura, dengan memperlihatkan seringai liciknya pada Naura.


"Tidak akan aku biarkan kau berpisah dari ku, sayang! Nyawa mu dan kandungan mu akan baik baik saja, selama kau patuh pada ku! Cukup adil bukan, untuk membalas perasaan cinta ku pada mu?" ucap Prans dengan datar.


Naura memalingkan wajahnya dari Prans, "Dasarrr monster gila! Moster kejam!" Naura menyilangkan ke dua tangannya di depan dadanya, enggan melingkarkan ke dua tangannya di leher Prans.


"Aku mencintai mu! Aku gila karena cinta mu!" bisik Prans di telinga Naura.


Naura membalas Prans, dengan mendekatkan bibirnya pada telinga Prans, "Aku mmm..." membuat Prans memejamkan matanya, merasakan sensasi deru nafas Naura.


"Katakan sayang! Kau juga mencintai ku kan?" tanya Prans dengan percaya dirinya yang tinggi.


Tanpa sadar tangan Naura melingkar di leher Prans, itu dulu dan sekarang tidak akan pernah lagi, "Aku muak dengan mu ka!"


"Benarkah kau muak dengan ku? Bukannya kau sangat mencintai ku, hem?" ledek Prans, aku tahu sayang, aku satu satunya pria yang mengerti diri mu, tidak ada orang lain yang mampu mengerti diri mu sebaik aku mengerti diri mu!


"Aku bilang muak, ya aku muak! Cinta ku sudah lenyap untuk mu ka!" Naura melolot pada Prans.


"Maaf Tuan, apa Tuan dan Nona akan makan malam di villa?" tanya pak Dedi yang menghentikan langkah kaki Prans yang akan memasuki lift.


"Pertanyaan bodoh macam apa itu, Dedi? Perintahkan koki untuk membuat makanan yang paling enak! Kita rayakan kehamilan Naura malam ini juga!" titah Prans.


"Ka! Aku sedang marah pada mu! Kau malah mau merayakan kehamilan ku?" protes Naura dengan bibir mengerucut.


bersambung...


...šŸ’–šŸ’–šŸ’–...

__ADS_1


Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.


Abaikan kalo ga suka ya šŸ˜…šŸ˜…


__ADS_2