Sangkar Suami Kejam

Sangkar Suami Kejam
Awal dari cinta


__ADS_3

...šŸ’–šŸ’–šŸ’”šŸ’”...


"Apa yang harus kami tutupi dari Naura, pak?" tanya Angga.


"Tidak ada." ucap Haikal dengan singkat.


Novi mengerutkan keningnya, "A- apa maksud mu om.pacar, Naura sudah mengetahui yang sebenarnya om pacar?"


"Menurut kalian?" Haikal malah bertanya balik pada Novi.


Mega menjentikkan jarinya, "Fixs, ini alasan kita di undang ke rumah almarhum orang tua Naura. Pak Prans ingin kita menghibur Naura. Bukan begitu pak?"


Haikal menganggukkan kepalanya, "Kalian tidur lah, jika sudah sampai... aku akan membangunkan kalian!" ucap Haikal yang mengarah pada Mega, dan Novi sedangkan karyawan kedai Pelangi lainnya ikut dengan mobil lain yang di bawa oleh anak buahnya yang lain.


"Tau aja kalo gwe ngantuk, pak!" seru Mega.


"Ah lo mah, Mega. Kang molor." ledek Novi dengan terkekeh.


"Ihhs lo ini! Gak usah ember juga kali mulut lo!" seru Mega dengan mengerucutkan bibirnya, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran mobil.


"Kalo lo lelah, gwe bisa gantiin lo pak!" Angga menawarkan dirinya untuk bergantian membawa mobil.


"Udah lo istirahat aja, gwe udah biasa ko." terang Haikal.

__ADS_1


Haikal melirikkan matanya ke arah Novi, tampak Novi yang terlelap di kursi belakang.


Waktu terus berputar maju, seiring dengan jarum jam yang kini hampir mendekati waktu subuh.


Nampak Prans yang tengah menatap Naura yang sedang terlelap, dengan memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Naura.


Tangan kanan Prans terulur menyusuri wajah Naura dengan jemarinya, kelopak matanya, hidungnya, hingga bibirnya, Prans mendorong masuk jari telunjuknya ke dalam mulut Naura, lalu ia ke luarkan kembali saat Naura merasa terusik dengan apa yang Prans lakukan.


"Aku harap kebencian mu pada ku bisa hilang dan lenyap dengan seiring berjalannya waktu. Sama dengan perasaan ku yang semakin lama semakin besar pada mu, sayang!" gumam Prans dengan menatap Naura dengan tatapan penuh cinta.


Memorinya kembali membawanya pada niat awal, yang ingin membalas perbuatan Naura yang hanya meneriyakinya. Ingin membuat Naura menderita, namun itu awal dari cinta yang tumbuh di hati Prans untuk seorang Naura.


Hingga Prans tanpa sadar jadi tergantung dengan kehadiran sosok Naura dalam hidupnya. Dunianya ikut jungkir balik bak relli koster.


Naura mengerjapkan ke dua matanya, dengan tangan yang menggeliat, dengan bodohnya Prans malah semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Naura. Hembusan nafas mint menyeruak di indra penciuman Naura.


Naura mengerutkan keningnya, sejurus kemudian tangannya mendorong dada bidang Prans, dengan berteriak.


"Ka Prans! Apa yang sedang kaka lakukan di kamar ku?"


Bugh.


Prans terhempas di atas kasur, dengan wajah menyeringai, jauh dari kata marah, satu tangannya menyanggah kepalanya dengan tubuh yang berbaring dengan posisi miring menghadap Naura.

__ADS_1


"Kamar mu? Kamar ku juga!" ucap Prans dengan santainya.


"Tapi kan semalam aku sudah katakan dengan jelas, aku tidak ingin satu kamar dengan kaka! Jadi, cepat kaka tinggalkan kamar ini! Atau aku saja yang tinggalkan kamar ini!" kekeh Naura dengan pendiriannya.


"Apa.kau yakin ingin meninggalkan kamar ini? Dengan apa?" Prans meremehkan Naura.


Naura mengedarkan pandangannya, mencari cari kursi kebesarannya. Namun hasilnya nihil, ia tidak menemukan kursi rodanya di dalam kamar.


Naura membuang nafasnya dengan kasar, "Ini pasti ulah kaka kan?" tebak Naura yang tidak meleset.


"Hehehe kau sangat pandai sayang, kau tau... calon anak kita tidak ingin berjauhan dengan papanya yang tampan dan berkarisma ini! Jadi aku tidak keberatan untuk terus bersama dengan mu 24 jam, nonstop tanpa jeda, tanpa sedetik pun meninggalkan mu!" Prans menyeringai.


"Cihs bilang aja kaka yang gak bisa jauh dari ku! Sudah lah, aku mau mandi, bersih bersih dan baru setelah itu aku sholat subuh." Naura menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya.


Naura berusaha menurunkan kakinya secara satu persatu yang begitu terasa berat dari atas kasur, sementara Prans terus memperhatikannya dengan beranjak dari posisi tidurnya. Tatapan Prans menyelidik dengan hati yang was was dan bersorak menyemangati apa yang sedang di lakukan sang istri.


Ayo sayang, kamu pasti bisa, aku yakin! Kamu pasti bisa, demi aku, demi buah cinta kita, kamu bisa sayang!


Bugh


Bersambung...


...šŸ’–šŸ’–šŸ’–...

__ADS_1


Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.


Abaikan kalo ga suka ya šŸ˜…šŸ˜…


__ADS_2