
...ššš...
Belum selesai pak Dedi berkata, sudah terdengar suara air dari arah kolam renang.
"Mereka ada di..."
Novi mengerutkan keningnya, "Suara apa itu? Apa ka Mega mendengar itu?" tanya Novi dengan mempertajam indra pendengarannya.
"Apa Naura dan pak Prans sedang berenang pak?" tebak Novi lagi.
Pak Dedi membuang nafasnya dengan kasar, "Tadi saya mau mengatakan itu pada kalian berdua. Jadi kalian lebih baik menjauh dari area kolam renang. Dan jangan ganggu waktu Tuan dan Nona."
"Enak aja kalo ngomong, kehadiran kami ini gak akan mengganggu mereka berdua pak! Justru kami akan menghibur Naura!" ucap Novi dengan ke dua tangan di pinggang.
"Apa lo kata? Apa yang di ucapin pak Dedi itu benar. Lebih baik kita kasih waktu Naura dan pak Prans berdua. Biar ketegangan di antara mereka berdua mencair!" cicit Mega dengan menatap Novi.
"Ihs ka Mega mah... sejalan gitu sama gwe!" sungut Novi
"Gwe gak mau sejalan kalo kita gak sepemikiran!" Mega membalikkan tubuhnya, melangkah meninggalkan Novi.
"Ihs lo mah ka!" Novi menatap punggung Mega yang semakin menjauh, gak asik lo!
Sementara di kolam renang.
__ADS_1
"Ayo ka, ke luarkan kemampuan mu! Ahahaha rubahhh tua mau ngelawan bocah. Pasti kalah lah!" ledek Naura dengan sudut bibir tersungging, melihat Prans yang belum bisa menangkapnya.
"Dasar bocah! Aku bukan kalah, justru aku sengaja membiarkan mu menjauh dan kau merasa menang!" kilah Prans, jika dalam hal pekerjaan, starategi dalam bekerja, kelucikan, Prans orang nomor satu dan ahlinya. Tapi kalo soal berenang, kemampuannya sungguh buruk.
"Ahahaha dasar pembohong!" ledek Naura.
Prans menepikan dirinya ke tepian kolam renang, lalu duduk di sana, dengan menatap Naura.
"Pasti kaka lelah ya? Ahahaha bener kan apa kata ku!" ledek Naura lagi.
Naura bak ikan yang bebas setelah di lepas dari kolam kecil ke dalam kolam yang luas, dengan lincah Naura berenang dengan lihai. Dalam pernafasan Naura cukup baik saat berenang. Siapa yang akan menyangka jika ia memiliki asma.
Tulalit tulalit tulalit tulalit.
Hape Prans yang ada di kursi pantai berdering, membuatnya beranjak dari duduknya untuk melihat siapa yang melakukan panggilan pada hapenya.
...Jasen...
Kening Prans mengkerut saat melihat nama siapa yang muncul dalam layar hape-nya.
"Bukannya Haikal sudah membereskan pria sialannn ini? Kenapa ia bisa menghubungi ku? Apa mungkin dari akhirat ada telpon?" tanya Prans pada dirinya sendiri.
Prans menjawab panggilan telponnya, namun tidak bicara. Menunggu orang yang menghubunginya bicara lebih dulu.
__ADS_1
[ "Hallo Prans! Aku rasa kau sedang baik baik saja! Apa kau merindukan aku? Seperti aku yang merindukan mu di sini, sayang!" ]
Suara seorang wanita yang sudah lama Prans tidak dengar, kini terdengar kembali di telinganya.
"Jessica? Bukannya kau sudah mati?"
[ "Wah wah wah, rupanya kau mudah sekali percaya dengan laporan dari anak buah mu, sayang! Kemana Prans yang dulu aku kenal, tidak akan percaya sebelum melihat dengan mata dan kepalanya sendiri! Kau sungguh sudah berubah, sayang ku! Aku rasa kau tidak akan lalai lagi setelah apa yang menimpa istri tercinta mu itu, sayang! Upppss aku keceplisan!" ]
"Apa maksud perkataan mu, Jessica?"
Ceplak cepluk.
"Ka! Tolong! Tokong aku!"
Dari arah kolam renang, Naura berseru dengan tangannya yang melambai lambai.
Prans menoleh ke arah Naura, melihat Naura yang sedang melambaikan tangannya, dengan wajah yang sesekali hilang ke dalam air, dan sesekali muncul ke permukaan.
"Naura!"
Bersambung...
...ššš...
__ADS_1
Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.
Abaikan kalo ga suka ya š š