Sangkar Suami Kejam

Sangkar Suami Kejam
Mematahkan semangat


__ADS_3

...šŸ’–šŸ’–šŸ’”šŸ’”...


Dari arah luar kamar Naura, pintu di buka.


Ceklek.


"Biar aku saja sus! Kau turun lah duluan!" ucap Prans dingin yang langsung mengambil alih untuk mendorong kursi roda Naura.


"Saya permisi, Tuan, Nona!" ucap Amarta yang langsung berjalan lebih dulu meninggalkan ke dua Tuannya.


Naura mengadahkan wajahnya, menatap wajah Prans yang datar, "Kaka kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiran kaka?" Naura menggenggam tangan kanan Prans yang sedang mendorong kursi rodanya.


"Kau meminta ku untuk jujur kan! Meski pahit, apa kau akan tetap bersama dengan ku? Menghabiskan sisa hidup mu dengan ku? Menerima semua aturan yang aku buat untuk mu?" cecar Prans dengan menatap serius Naura.


Naura menelan salivanya dengan sulit, mencoba memahami setiap kata yang di ucapkan Prans.


"Maksudnya apa ya ka? Kita lagi membicarakan apa ya ka?" tanya Naura dengan isi kepala yang kini banyak tanda tanya.


"Jawab saja pertanyaan ku barusan." ucap Prans yang terus mendorong kursi roda Naura, membawanya menuju ruang medis.


"Apa pun yang terjadi, aku akan tetap bersama dengan kaka. Pernikahan sekali dalam hidup ku, ka! Apa kaka meragukan perkataan ku?" Naura menatap Prans dengan tatapan menyelidik.


"Itu kan kata mu, bagaimana dengan kenyataan setelah kau tahu apa yang akan aku perlihatkan pada mu, Naura!"


"Keputusan ku tidak akan berubah ka, apa pun yang terjadi... aku akan selalu bersama mu!" ucap Naura dengan serius.


Prans mengerutkan keningnya, mungkin ada baiknya jika aku menekan mu tanpa mengatakan apa yang akan aku perlihatkan pada mu sekarang. Maaf jika aku harus melakukan ini, aku hanya ingin kau tetap berada di sisi ku! Aku yakin kau bisa menerima kenyataan ini.


"Apa pun yang terjadi? Sekali pun kau akan berubah pikiran, dan berniat untuk meninggalkan ku, kau akan tau sendiri... di sana lah aku tidak akan melepaskan mu, sampai kapan pun... kau akan tetap menjadi milik ku seorang!" ucap Prans dengan penuh penekanan.


Naura menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Aku rasa kaka perlu minum obat, agar mengembalikan daya pikir kaka!" ledek Naura yang merasa ada yang aneh dengan Prans.


"Aku rasa kau akan menyesal telah mengatakan itu pada ku, sayang!Setelah kau berlatih berjalan, aku akan membawa mu ke suatu tempat." ucap Prans, aku harap kau akan menyukainya meski aku tahu hati mu pasti akan hancur setelah mengetahui kenyataannya.


"Apa aku tidak salah dengar ka? Kaka akan membawa ku pergi? Apa kita akan ke kedai? Atau kaka ingin membawa ku ke tempat orang tua ku? Katakan saja ka? Aku pasti akan sangat senang." ucap Naura dengan mata berbinar, tidak bisa lagi menyembunyikan rasa bahagianya.


Prans membuang wajahnya, aku harap keputusan ku untuk memberi tahu mu, tidak akan membuat hubungan kita menjarak Naura! Kau akan tetap menjadi Naura ku yang ceria, Naura yang selalau membuat ku pusing dengan segala tingkah mu!


"Selamat pagi, Nona Muda... apa kau sudah siap untuk memulai berlatih berjalan?" Samuel menyambut ke duanya yang sudah berada di ruang medis.


Ruang medis yang saat ini berukuran luas 2 kali lipat dari sebelumnya, dengan berbagai fasilitas untuk Naura berlatih berjalan.


Bukan hanya Samuel, tapi juga ada Amarta yang akan menemani Naura selama berlatih, melatih fungsi kakinya untuk bergerak.

__ADS_1


"Kau berlatih lah, ingat dengan tugas mu jika sudah bisa berjalan, kau akan menjadi asisten pribadi ku selama satu tahun ke depan. Ok!" ucap Prans mengalihkan pembicaraan.


"Ok ka." ucap Naura dengan bersemangat, aku yakin ka Prans akan membawa ku ke tempat mama dan papa, aku harus semangat untuk dapat berjalan kembali.


Prans mengecup bibir Naura sekilas, maaf aku akan mematahkan semangat mu ini, kau memang akan bertemu dengan mereka, tapi kau tidak akan bisa memeluk orang tua mu lagi, sayang!


Prans mendudukan dirinya di sofa, dengan tatapannya yang fokus pada Naura yang sedang berlatih berjalan, melatih fungsi ke dua kakinya. Setelah mendapatkan pijatan dari suster Amarta, kini Naura berlatih menggerakkan ke dua kakinya dengan di dampingi dokter Samuel dan suster Amarta.


Kata kata pujian terlontar dari bibir dokter Samuel dan suster Amarta, mendapati perkembangan Naura saat ini yang sangat bersemangat untuk berlatih berjalan.


"Wah Nona, kemajuan mu sangat pesat sekali. Lihat itu, kau sudah bisa menggerakkan kaki mu untuk beberapa langkah." ucap dokter Samuel.


"Pelan pelan Nona, fokus pada kaki anda berpijak." ucap Amarta.


"Kau lihat itu bos, perkembangan Nona kali ini patut untuk di berikan hadiah sebagai penghargaan dari mu!" ujar dokter Samuel.


"Dasarrr bodoh! Harusnya kau yang memberikan pasien mu hadiah, kenapa harus aku? Naura itu kan pasien mu. Bukan begitu suster?" ucap Prans dengan datar, dengan punggung menyandar pada sandaran sofa.


"Apa yang di katakan Tuan Muda, ada benarnya juga dokter. Harusnya dokter memberikan hadiah untuk Nona Muda." Amarta menggaruk kepalanya yang tidak gatal, jika aku tidak mendukung ucapan Tuan Muda, aku lagi yang salah.


Samuel menggaruk keningnya, "Aaah kalian berdua ini, menyesal aku berkata begitu pada mu Prans! Nona muda datang saja lah pada ku, jika Nona sudah bosan dengan pria menyebalkan seperti ini!"


"Hei kau, mau mencari mati hah! Berani kau mengatakan itu lagi! Ku usir kau dari negara ini!" cicit Prans dengan mata melotot pada Samuel.


"Kalian tahu dokter, suster. Setelah aku menjalani terapi ku ini, ka Prans akan membawa ku ke suatu tempat. Makanya itu menjadi pemacu semangat ku untuk berlatih kali ini! Aku ingin sesi berlatih ku kali ini cepat berakhir. Karena aku kan sudah sangat lama menanti hari ini!" ucap Naura dengan sesekali melirikkan matanya pada Prans.


"Eh be- begitu ya Nona, ka- kalo begitu... a- ayo semangat Nona! Jangan sia siakan kesempatan ini. Saya yakin dalam beberapa sesi pertemuan lagi, Nona pasti sudah dapat berlari." ujar Amarta dengan menutupi rasa keterkejutannya.


Samuel menatap sekilas wajah Prans, memberi kode dengan gerakan kepala. Meminta Prans untuk membenarkan apa yang di katakan Naura padanya barusan.


Bukannya menjawab, Prans malah membuang wajahnya, melangkah mendekati jendela, menatap pemandangan luar, cuaca yang cerah dengan langit biru menandakan akan jauh dari kata turun hujan. Seakan alam semesta mendukung langkah Prans untuk mengatakan pada Naura.


Daren dan Aji langsung di antar Haikal menuju bandara, dengan menumpangi pesawat jat pribadi milik Prans, keduanya terbang ke tempat di mana mereka berdua di asingkan oleh Prans.


Prans membatin saat sebuah pesawat melintas di atas langit kediamannya, tidak akan ada tempat untuk seorang yang berkhianat pada ku, baik itu keluarga ku atau pun orang yang bekerja pada ku.


Satu jam telah berlalu, Prans benar benar menepati perkataannya.


"Kau sudah siap?" tanya Prans dengan tatapan hangat pada Naura.


Naura tersenyum tulus pada Prans, "Sudah lama aku menantikan hari ini ka, ayo ka, cepat bawa aku ke tempat orang tua ku!" cicit Naura dengan berada di dalam gendongannya Prans.


"Kalian berdua benar benar kejam ya! Membiarkan aku bermesraan dengan kursi roda. Sementara kalian berdua bermesraan di depan mata kepala ku!" sungut Samuel yang berjalan di belakang, mengekor ke duanya dengan mendorong kursi roda.

__ADS_1


"Itu tugas mu, Samuel!" ucap Prans dengan datar.


Prans mendudukkan Naura di kursi depan, sebelah kemudi. Sementara dokter Samuel memasukkan kursi roda ke dalam bagasi mobil.


"Nona jangan lupa makan, minum obat yang teratur. Aku pasti akan sangat merindukan Nona!" ucap Amarta yang berdiri di luar, samping Naura duduk.


"Aku tidak lama suster, besok juga aku kembali." ucap Naura.


Prans masuk ke dalam mobil, mendudukkan dirinya di belakang kemudi, "Jangan lupa di pasang sabuk pengamannya!" cicit Prans dengan memasangkan sabuk pengaman pada Naura.


"Ahahhaha aku lupa ka."


"Jika kau membutuhkan bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi ku!" ucap Samuel yang mencondongkan tubuhnya dari luar, agar bisa melihat Prans dan Naura yang berada di dalam mobil.


"Aku tidak akan membutuhkan bantuan mu, aku bisa mengurus Naura seorang diri!" gerutu Prans dengan wajah datar, tanpa menatap Samuel.


Samuel menatqp Naura, "Kau dengar itu Nona! Jadi kau harus menyusahkan Tuan Muda, agar ia mengeluh dan menghubungi ku! Ku pastikan akan langsung menyusul kalian ke Bandung!" ledek Samuel.


Prak.


Prans menggeprak lengan Samuel yang ia letakkan di jendela mobil yang terbuka.


"Awhhhh kau gila bos!" sungut Samuel.


"Dasarrr bodoh... kau yang gila, kenapa kau katakan Bandung? Aku belum mengatakannya pada Naura! Dasarrr dokter sintinggg!" sungut Prans dengan kesal, yang langsung menarik gas mobilnya.


"Ahahahha aku keceplosan bos!" Samuel tergelak saat mobil melaju meninggalkan pekarangan kediaman Prans.


"Apa dokter yakin, tidak akan terjadi apa apa pada Nona? Perasaan ku tidak enak dokter!" ucap Amarta yang masih menatap mobil yang di tumpangi Naura dan Prans.


"Aku yakin sus, Prans bisa menghadapi Naura yang hatinya pasti akan terpuruk setelah mengetahui kebenaran." ujar Samuel.


"Hei dokter gila! Apa kau akan berdiam diri di sana? Apa kalian tidak akan ikut dengan kami?" seru pak Dedi yang berdiri di belakang ke duanya.


"Kalian mau ke mana?" tanya Amarta dengan mata membola, melihat pak Dedi dan Dega tidak mengenakan seragam kerjanya.


bersambung...


...šŸ’–šŸ’–šŸ’–...


Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.


Abaikan kalo ga suka ya šŸ˜…šŸ˜…

__ADS_1


__ADS_2