Sangkar Suami Kejam

Sangkar Suami Kejam
Seakan mimpi buruk


__ADS_3

...šŸ’–šŸ’–šŸ’”šŸ’”...


"Kenapa kaka membawa ku ke sini? Ini rumah siapa ka?" tanya Naura dengan tatapan penuh tanda tanya pada Prans, saat Prans memarkirkan mobilnya di salah satu area pemakaman keluarga.


"Rumah baru dari beberapa anggota keluarga kita, sayang!" ucap Prans dengan membantu Naura melepasss sabuk pengaman yang melingkar di pinggang sang istri.


Deg deg deg.


Prans dapat mendengar dengan jelas, suara detak jantung Naura yang seketika itu berdetak dengan kencang.


Naura menatap pandangannya ke depan, terdapat tulisan besar jika itu pemakaman keluarga.


"Maksud kaka, beberapa anggota keluarga kita? Yang jelas ka, ini gak mungkin kan? Kaka pasti sedang membual! Jangan konyol ka!" ucap Naura dengan tertahan, kedua matanya seakan memanas, dadanya naik turun, katakan pada ku ini hanya mimpi... ini gak nyata.


Prans mengelusss bahu Naura, "Maaf sayang, ini kenyataan yang belakangan aku sembunyikan dari mu!"


Prans turun dari mobil, membukakan pintu mobil untuk Naura, Prans membantu Naura turun dari mobil.


"Ka! I- ni sebenarnya apa yang ingin kaka tunjukkan pada ku?" tanya Naura dengan tatapan memohon.

__ADS_1


"Kita masuk dulu ya! Mereka sudah menanti kedatangan mu, sayang!" ucap Prans dengan lembut.


Hap.


Prans menggendong Naura dengan hati hati, membawanya memasuki area makam keluarga.


"Katanya kita mau ke tempat orang tua ku, kenapa kaka malah mengajak ku kesini? Mama dan papa pasti sudah menunggu ku pulang, ka! Ayo kita ke rumah mama dan papa aja, ka!" Naura terus membujuk Prans, dengan mencengkrammm kaos yang membalut tubuh kekar Prans.


"Kamu pasti kuat, sayang! Ada aku, kita akan selalu bersama, kamu sudah janji itu kan pada ku!" cicit Prans menyemangati Naura.


Naura mulai terisak, saat langkah kaki Prans semakin dekat dengan 3 gundukan tanah merah yang tampak menyembul. Terdapat kembang 7 rupa yang menghiasai 3 gundukan tanah itu.


"Maaf sayang, sekarang rumah mereka di sini. Aku mengantar mu untuk bertemu dengan mereka." ucap Prans dengan tegar.


Prans sudah merasa terluka, melihat Naura yang sudah nampak syok dengan apa yang akan ia lihat. Namun Prans sosok pria tegar dan kejam, tidak bisa memperlihatkan kesedihannya saat melihat orang yang ia cintai terluka.


Jika bukan Prans yang menjadi sandaran untuk Naura, kepada siapa lagi Naura bisa menyandarkan kepalanya jika bukan pada Prans.


Prans menurunkan Naura dari gendongannya, ia memapah Naura dan mengajaknya semakin mendekat pada bagian batu nisan.

__ADS_1


"Assalamualaikum mah, pah, Dito. Lihat lah, siapa yang aku bawa ke pusara kalian. Naura sangat merindukan kalian. Maaf aku baru bisa mengajak Naura ke sini." ujar Prans pada ke tiga gundukan tanah yang merupakan makan Dito, papa Jaya, dan mama Heni.


Naura menyandarkan tubuhnya pada Prans, seketika tangisnya pecah, tangannya mencengkramm tubuh Prans, "Ka Prans jahat pada ku, ini pasti bukan mama, papa dan Dito! Mereka pasti sudah menunggu ku di rumah ka!" Naura memungkiri apa yang di ucapkan Prans dan apa yang ada di hadapannya kini.


Naura tidak bisa menerima kenyataan yang kini ada di depan matanya, ini semua seakan mimpi buruk baginya.


Naura berkata dengan terus terisak, sesekali tangannya memukul dada Prans yang bidang, namun sesekali tatapannya seakan tidak percaya pada tulisan yang terdapat pada ke tiga batu nisan.


"Ka Prans! Kaka jangan main main lagi, ayo kita pulang! Ma- mama, mama pasti sudah menunggu di rumah ka huwaa hiks ka Prans jahat!"


Bugh.


bersambung...


...šŸ’–šŸ’–šŸ’–...


Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.


Abaikan kalo ga suka ya šŸ˜…šŸ˜…

__ADS_1


__ADS_2