Sangkar Suami Kejam

Sangkar Suami Kejam
Setengah gelas


__ADS_3

...šŸ’–šŸ’–šŸ’”šŸ’”...


Amarta yang juga memperhatikan Naura tampak tersenyum, aku harap tidak akan ada lagi kesedihan yang menghampiri Nona dan Tuan.


"Kaka dapat ide dari mana untuk mengundang karyawan kedai Pelangi ke sini? Lalu siapa yang membawa mereka semua kesini?" tanya Naura dengan tatapan menyelidik.


"Tentu saja ide itu muncul dalam pikiran ku sendiri! Kau lupa memiliki seorang suami seperti ku, suami yang berkuasa, aku bisa melakukan apa saja hanya dengan menjentikkan jari." ucap Prans dengan bangga.


"Benarkah begitu? Emmm aku ingin makan durian ka!" celetuk Naura.


"Astaga kau ini!" Prans menggaruk kepalanya dengan frustasi, mana ada yang jual buah durian... ini kan bukan musimnya!


"Ayo cari kan ka! Kaka kan bisa, apa pun bisa kaka lakukan hanya dengan menjentikkan jari kan!" ucap Naura yang seakan mengulang apa yang di ucapkan Prans saat menyombongkan dirinya.


Prans membuang nafasnya dengan kasar, lalu mengeluarkan hapenya dari saku celananya. Prans tampak mengotak atik layar hapenya.


Sementara Naura memperhatikan apa yang tengah Prans lakukan, namun sudut bibirnya tersungging ke atas, terima kasih karena sudah berusaha melakukan apa yang aku inginkan, ka! Tapi entah aku harus membenci mu atau aku harus tetap memberi maaf dan membuka hati ku. Rasanya untuk saat ini hati ku masih terluka ka, hati kecil ku masih belum bisa menerima kepergian mama, papa dan adik ku.


Prans menoleh ke arah Naura, ia tersenyum, seolah menjawab batin Naura, "Aku akan sabar menunggu mu, aku akan mengajari mu menghadapi kenyataan, dan aku akan berusaha membuat hari mu berwarna. Karena kamu lah warna dalam hidup ku, sayang!"


"Puitis sekali kata kata mu itu ka! Belajar dari mana ka? Mbah gugel ya ka?" tebak Naura, karena selama ini tempat Prans bertanya jika menyangkut hati adalah mbah gugel.

__ADS_1


Prans mengetikkan pesan di hapenya.


"Kirimkan buah durian yang paling lezat ke Bandung sekarang juga!" pesan terkirim ke Dev.


[ "Apa Tuan? Sekarang? Saya butuh waktu Tuan." ] pesan yang Dev kirim ke nomor Prans.


"Kau hanya punya waktu sampai nanti malam. Jika sampai tengah malam tidak ada durian, tamat riwayat mu sendiri!" ancam Prans yang langsung menyimpan kembali hapenya.


Dev yang membaca pesan terakhir dari Prans, tampak di buat frustasi.


"Apa Nona butuh sesuatu? Katakan saja, biar aku ambilkan." ucap Nina yang menghampiri Naura.


"Apa lo mau ini, Naura!" Mega menyodorkan secangkir ice cappucino, yang langsung di raih Naura.


"Thanks." ucap Naura yang lantas menyeruput minumannya.


Sreek.


Prans merebut minuman yang ada di tangan Naura, "Kurangi caffein."


"Apa sih ka! Aku belum juga meminumnya!" Naura mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Prans langsung menyeruput minuman Naura hingga tersisa setengah gelas, lalu mengembalikan gelas itu pada Naura.


"Menyebalkan!" gerutu Naura.


"Bilang aja kalo pak Prans sebenarnya juga menginginkan ice cappucino... selera kalian sekarang sama ya!" ledek Mega.


Hingga malam menjelang, mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Menghabiskan waktu mereka dengan mengobrol, namun ada juga yang sudah terlelap di kamar yang memang sudah tersedia di rumah itu.


Tiiit tiiit tiiit tiiit.


Terdengar suara mobil yang tengah memundurkan kendaraan, tepat di halaman rumah kediaman orang tua Naura.


"Suara apa itu ka?" tanya Naura dengan polosnya.


Bersambung...


...šŸ’–šŸ’–šŸ’–...


Makasih yang udah sempetin mampir, jangan lupa tinggalin jejak komen, like.


Abaikan kalo ga suka ya šŸ˜…šŸ˜…

__ADS_1


__ADS_2