
"Maaf, Nona, anda di mobil belakang bersama Tuan Doni dan Nyonya Lisa," ucap salah satu bodyguard yang disuruh untuk menjemput Bia dan keluarganya.
"Loh, kenapa?" tanya Amel tidak terima, "Emangnya gak boleh aku satu mobil dengan kakak aku?" tanyanya lagi.
'Kakak? Sejak kapan dia mengakui aku sebagai kakaknya?' tanya Bia dalam hati, Bia sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
"Maaf, Nona, saya hanya bekerja sesuai perintah Tuan Devan saja," balas laki-laki dengan setelan jas hitam dan wajah datarnya.
"Nanti aku yang ngomong sama kakak ipar." Amel belum menyerah.
"Silahkan Nona hubungi Tuan Devan terlebih dahulu, atau kita tidak akan berangkat." Bodyguard itu menunjukkan sikap aslina yang mulai jengah dengan tingkah Amel yang keukeuh ingin satu mobil dengan Bia.
Mobil yang diperuntukan menjemput Bia memang mobil mewah Devan, sedangkan mobil yang diperuntukan untuk Doni, Lisa dan Amel bukan jenis mobil mewah, hanya mobil biasa.
Amel yang iri ingin merasakan menaiki mobil mewah dengan cat hitam yang begitu mengkilap, mobil keluaran terbaru dengan segala fasilitas terbaiknya.
"Amel!" Doni yang sudah memposisikan diri di mobil satunya lagi langsung saja turun, saat melihat di hadapannya Amel dan bodyguard nya Devan tengah berdebat. "Kamu mau ikut atau diam di rumah?" tanya Doni pelan namun penuh penekanan.
"Ayah." Amel mulai mengeluarkan jurus pamungkasnya.
"Kamu mau ikut atau tinggal di rumah?" tanya Doni sekali lagi.
Setelah perusahaan mengalami masalah Doni sedikit berubah kepada anak dan istrinya, Doni menjadi sedikit tegas dan berubah dingin.
Dengan kesal Amel menuju mobil yang sudah ditempati Lisa. Amel berjalan lebih dulu dengan kedua kaki yang terus menghentak-hentak ke tanah.
"Maafkan putri saya yang sudah membuat anda kesal," ucap Doni yang hanya di angguki oleh laki-laki tadi.
Amel duduk di samping Lisa dengan cemberut dan tangan yang berlipat di dada.
"Sayang." Lisa berusaha membujuk Amel. "Nanti kita bicara sama Bia, supaya Devan tidak berbuat seperti ini lagi."
Lisa yang melihat Amel dihadang bodyguard Devan saat hendak mengikuti Bia, ikut meradang di kejauhan.
"Aku kesal sama Bia, enak banget dia udah dapet suami kaya. Fasilitas juga tidak main-main," ucap Amel. "Kita ini apa, masa naik mobil butut begini? Gak adil banget!"
"Sabar, Sayang, sabar. Nanti kita buat perhitungan sama Bia," balas Lisa yang kemudian langsung diam karena suaminya sudah masuk ke dalam mobil.
Kedua perempuan itu lupa, mereka tengah berada di mana dan melupakan keberadaan laki-laki berwajah datar dengan kacamata hitam yang tidak lepas dari wajahnya yang duduk di balik bangku kemudi.
Laki-laki itu menyunggingkan senyumannya sekilas saat Lisa dan Amel langsung bungkam saat Doni masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku samping kemudi.
__ADS_1
Iring-iringan empat mobil berwarna hitam itu mulai keluar dari pekarangan kediaman Doni Subagja yang cukup mewah.
Bia duduk termenung seorang diri dengan sopir di depannya yang tidak pernah mengeluarkan sepatah kata apapun. Bia tidak peduli dengan itu, Bia memilih untuk berkirim pesan dengan dua sahabatnya yang sudah lama tidak di temuinya.
Senyum manis terbit dari bibir Bia, saat kedua sahabatnya terkejut dengan apa yang Bia katakan pada mereka lewat pesan di ponselnya.
Bia baru sempat mengabari kedua sahabatnya, mengenai rencana pernikahan yang akan diadakan kurang dari dua minggu lagi itu.
Senyum Bia semakin mengembang saat kedua sahabatnya itu semakin penasaran dengan cerita dirinya.
Tanpa Bia ketahui, seseorang yang juga tengah menuju ke lokasi yang sama tengah mengamati gerak-gerik Bia di dalam mobil melalui layar ipad di tangannya.
Siapa lagi kalau bukan si pemilik mobil itu sendiri, yang sengaja memasang CCTV untuk memantau pergerakan Bia.
CCTV yang di simpan di bagian depan mobil itu begitu samar, hanya orang-orang tertentu yang bisa menyadarinya.
Tring!
Satu buah pesan masuk ke ponsel milik Devan yang di simpan di samping kursi yang dia duduki.
'Bolehkah aku mengajak dua sahabat aku untuk fitting baju juga?
Dua buah pesan masuk ke dalam ponsel Devan.
"Manis sekali," gumam Devan sambil membalas pesan yang dikirimkan Bia.
'Kamu bisa memilihkannya.' Hanya itu balasan dari Devan, yang artinya Devan tidak mengijinkan Bia mengajak kedua sahabatnya.
Devan kembali menatap wajah Bia di layar Ipadnya, wajah Bia berubah murung setelah mendapat pesan darinya dan Devan tidak peduli dengan itu.
Yang Devan mau, hari ini fitting baju harus sudah selesai.
Tiga puluh menit berlalu, Devan tiba di lokasi bersamaan dengan rombongan mobil yang membawa Bia dan keluarganya.
Devan melenggang pergi terlebih dahulu, saat Bia dan yang lainnya hendak turun dari mobil.
"Bagaimana?" tanya Devan to the point.
"Semuanya sudah siap, Tuan. Sesuai yang anda minta," balas perempuan berusia sekitar 30-35 tahunan itu kepada Devan.
"Langsung saja," ucap Devan lagi.
__ADS_1
"Baik, mari Tuan anda dan Nona akan mencoba pakaian di ruangan khusus."
Devan hanya menganggukan kepalanya, kemudian memberi isyarat pada Kean untuk membawa Bia ke ruangan khusus.
Begitu tiba di ruangan, Devan terlebih dahulu mencoba setelah jas untuknya.
"Mari Nona, sebelah sini." Sayup-sayup Devan mendengar suara desainer tadi mengajak Bia ke ruang ganti.
"Nona ini beberapa gaun yang sebelumnya sudah dipilih Tuan Devan, silahkan anda mau mencoba yang mana terlebih dahulu."
Bia memandang satu persatu gaun indah yang terpasang rapi di manekin.
'Apakah semua ini nyata?' tanyanya dalam hati.
Bia menjatuhkan pilihannya kepada gaun putih tanpa ekor, yang mengembang di bagian bawah dan berlengan pendek. Gaun simpel tapi terlihat sangat mewah dengan beberapa mutiara di bagian dadanya.
Bia juga menjatuhkan pilihannya kepada gaun berwarna silver grey untuk acara resepsinya, Bia sengaja memilih gaun itu sesuai dengan tema pernikahan yang akan dia jalani. Kelabu.
Desainer tadi langsung membantu Bia untuk mencoba gaun putihnya terlebih dahulu.
"Sangat pas di badan anda, Nona," pujinya saat gaun itu melekat sempurna di tubuh Bia, warna gaun dan kulit Bia seakan menyatu satu sama lain.
Bia kemudian di tuntun untuk keluar ruang ganti, menunjukan gaun pilihannya kepada Devan yang tengah menunggu di sofa sambil memainkan ponselnya.
Untuk sejenak, pandangan keduanya terkunci. Devan menatap Bia dengan lekat begitu juga sebaliknya.
"Saya suka," ucap Devan yang langsung memutus kontak mata di antara keduanya.
Bia kemudian mengganti bajunya dan mencoba gaun satunya lagi.
"Saya suka, pilihan kamu tidak terlalu buruk," komentar Devan saat Bia kembali memperlihatkan gaun pilihannya yang sudah melekat di tubuhnya.
Bia membalas perkataan Devan dengan senyumannya, sekilas. Sama sekali tidak ingin membalas komentar Devan.
"Jangan lupa pilihkan juga untuk teman-teman kamu," lanjut Devan sebelum Bia kembali ke ruang ganti, Bia hanya membalasnya dengan anggukan.
Sungguh sifat Devan semakin kesini semakin membuat Bia tidak nyaman saat berada di dekatnya.
"Aku kuat, aku bisa," yakin Bia sambil menatap pantulan dirinya yang ada pada cermin besar di hadapannya.
Bersambung...
__ADS_1