Sasaran Balas Dendam

Sasaran Balas Dendam
Devia dan Rinjani


__ADS_3

Setelah mengeluarkan semua isi perutnya, Bia tidak bisa memejamkan matanya lagi. Hari sudah semakin larut dan Devan belum kembali dari perusahaan.


Dengan ditemani sebuah foto usang yang menjadi satu-satunya kenangan milik Bia, Bia menonton televisi dengan sebuah rasa di hati yang sulit diungkapkan. Sesekali Bia menatap foto usaha itu dengan sorot mata yang begitu sendu.


“Bu aku kangen,” gumam Bia.


Berpisah dunia dengan seseorang yang sangat berharga memang bukanlah hal yang sangat mudah, apalagi orang itu meninggalkan kita disaat usia yang begitu kecil. Begitu juga dengan Bia yang harus ditinggalkan oleh sang ibu untuk selama-lamanya disaat usia nya masih sangat belia, bisa dikatakan sangat kecil.


“Devan mulai bertanya tentang hubungan aku dengan Mamah Lisa. Bukannya aku tidak ingin berkata jujur, hanya saja semuanya terasa berat untukku Bu. Apalagi selama ini tidak banyak yang tahu tentang aku dan ibu.”


Bukan niat hati Bia tidak ingin jujur sama Devan. Sesulit apapun kehidupan yang harus Bia jalani, sekali lagi Bia tidak ingin dikasihani. Termasuk oleh laki-laki yang sekarang sah sebagai suaminya di mata hukum negara dan agama kepercayaannya.


Bia juga tidak ingin melihat Devan berubah hanya karena masa lalunya yang tidak baik, Bia ingin perubahan yang ada pada diri Devan murni karena cinta yang tumbuh. 


“Belum tidur?” Suara bariton Devan mengagetkan Bia yang sedang melamun.


“Belum,” balas Bia singkat, karena memang Bia jarang banyak berbicara dengan Devan begitu juga sebaliknya.


“Kenapa? Mual lagi?” tanya Devan sambil melepaskan dasi yang melingkar di lehernya.


“Ya begitulah resiko hamil muda,” kata Bia sambil bangkit hendak membantu Devan melepaskan pakaiannya.


“Kamu menyesal sudah mengandung anakku?” tanya Devan.


“Untuk apa aku menyesal?” Bia balik bertanya yang membuat Devan menyeringai.


‘Tidak sia-sia aku memaksa kamu untuk menjadi istriku, kamu memang benar wanita tangguh. Terlepas dari bagaimana sikap kamu yang sebenarnya misterius,’ batin Devan sambil teringat akan hasil laporan Kean tadi siang.


“Ya siapa tahu saja diluar sana kamu punya laki-laki yang kamu cintai.”


Devan menyadari Bia mendengus di depan tubuhnya dan ternyata sebuah seringai miring tercetak di wajah yang biasa terlihat polos.


Sikap Bia yang semakin banyak Devan ketahui membuat Devan ketakutan sendiri sebenarnya. Bia yang tidak tertebak bagaikan sebuah bom waktu yang bisa meledak kapan saja dan sekali lagi Devan kembali merutuki dirinya yang merasa tidak bisa mengenali lawannya dengan baik.


“Ck, aku atau kamu?” Bia balik bertanya dan langsung saja membuat Devan membelalakkan kedua bola matanya.


Devan ingin sekali mengumpat Bia yang sudah berani-berani menyudutkan dirinya, walaupun dirinya tidak punya wanita idaman lain diluaran sana tapi tetap saja diluar sana banyak perempuan yang sudah menjadi teman tidurnya. Lebih tepat menjadi pemuas atas n*fsu gilanya.

__ADS_1


Devan yang takut kelepasan akan emosinya yang kerap kali tidak stabil memilih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan juga menenangkan pikirannya dibawah guyuran air hangat.


Kepergian Devan tentu saja dijadikan kesempatan Bia untuk kembali menyimpan foto usang miliknya yang tadi Bia sembunyikan saat Devan datang.


Bia sedikit bernafas lega karena sampai saat ini sepertinya Devan tidak mengetahui perihal foto itu, entah kenapa hati kecil Bia meminta untuk tidak menceritakan dan membiarkan Devan mencari tahu semuanya sendiri.


*


Semalam karena harus memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri, Bia melupakan hal yang tadi malam seharusnya disampaikan pada Devan.


“Dev aku boleh minta izin?” tanya Bia saat tengah membantu Devan memasangkan dasi.


“Izin?” ulang Devan dengan pandangan lurus ke cermin yang ada di hadapannya.


“Iya, izin. Kemarin aku sudah bilang sama Oma dan Oma sudah mengizinkan tinggal kamu saja yang belum, tadi malam aku lupa mengatakannya,” jelas Bia.


“Katakan langsung pada intinya saja Biandra!” perintah Devan yang merasa Bia malah berkata dengan bertele-tele.


“Aku ingin mengundang Devia dan Rinjani kesini. Kalau keluar tentunya kamu tidak akan mengizinkan.”


“Oke.” Hanya itu yang jadi jawaban atas penjelasan Bia yang memang cukup bertele-tele.


“Kamu gak masalah?” Bia berusaha memastikan.


“Asal bukan laki-laki yang kamu undang.”


Bia tersenyum dan Devan melihatnya dengan jelas, hatinya terasa berdesir dan Devan kembali berusaha menepis rasa yang akhir-akhir ini selalu mendera hatinya.


Devan sudah menegaskan dari awal kalau dirinya tidak akan jatuh cinta pada Bia ataupun pada wanita lain yang ada di seluruh penjuru dunia. Tekadnya sudah lama bulat, maka dari itu Devan yang sudah lebih dari kepala tiga memutuskan untuk tidak menikah. Tapi sepertinya hal yang selama ini Devan hindari perlahan terkikis oleh kebersamaan yang tanpa sadar perlahan mencairkan dinding es yang selama ini menyelimuti hatinya.


*


Bia sudah tidak sabar menanti kedatangan dua sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu, karena sudah menikah dengan pemilik Addison Grup ruang gerak Bia jadi  terbatas. Bahkan untuk bertemu dengan dua sahabatnya saja rasanya begitu susah, sampai sebuah ide yang sebenarnya sudah cukup lama ada di benak Bia, Bia utarakan juga pada Gendis dan juga Devan.


Untungnya hari ini Gendis tidak ada di rumah, hanya ada dirinya saja dan para pekerja yang sama sekali tidak menampakan batang hidungnya jika mereka tidak dibutuhkan.


Perlakuan yang Bia dapatkan di rumah ini tentu saja sangat baik, para pekerja rumah pun begitu menghormati dirinya yang notabenenya tak lain adalah istri dari Devan Addison, tuan muda di rumah itu.

__ADS_1


“Bi,” sapa Devia dan Rinjani dengan wajah yang sedikit memucat.


“Hai, aku sudah nunggu dari tadi loh,” rajuk Bia yang memang merindukan dua sahabatnya itu.


“Ish kamu nyuruh kita ke sini, kenapa gak ketemu di luar saja?” tanya Devia yang merasa memasuki rumah berhantu yang begitu horor.


“Ya mau gimana lagi, kalau keluar sepertinya aku gak bakalan bisa.


“The real nyonya muda,” sahut Rinjani dengan raut wajah yang sama dengan Devia.


“Gila Bi, tadi tuh di depan kita di interogasi dulu.”


Bia hanya tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya itu, Bia sudah biasa dengan hal itu karena memang itu sudah peraturan yang ada di rumah ini. Setiap tamu wajib ditanya kedatangannya untuk kepentingan apa.


“Ayo masuk, kita ngobrolnya diatas aja. Aku sudah siapkan makanan dan minuman,” ajak Bia yang sudah tidak sabar ingin bercerita banyak hal pada kedua sahabatnya itu.


Devia dan Rinjani saling tatap, keduanya sama-sama ragu untuk memasuki rumah yang sangat mewah itu. Bukan tidak biasa, hanya saja si pemilik rumah yang terkenal dengan keangkuhannya membuat kedua gadis itu sama-sama ragu.


“Udah ayo, gak papa kok. Oma lagi gak ada di rumah dan aku juga sudah minta izin sama Devan,” kata Bia yang mengerti kegelisahannya kedua temannya itu.


“Bi ini serius?” tanya Rinjani saat keduanya memasuki ruang tengah rumah yang sangat megah dan luas itu. “Kamu sendirian di rumah sebesar ini?”


“Iya, hari ini aku sendirian. Nggak juga sih, pekerja rumah disini banyak. Hanya saja mereka semua jarang kelihatan kalau pekerjaannya sudah selesai,” jelas Bia.


Devia dan Rinjani kembali saling pandang, keduanya sebenarnya senang melihat perubahan yang terjadi pada sahabatnya itu. Sekarang Bia terlihat lebih terawat daripada sebelumnya yang biasa tampil apa adanya.


Kedua sahabat yang memang tahu bagaimana Bia di masa lalu tentu saja tahu kalau pakaian yang sekarang digunakan Bia adalah pakaian bermerk walaupun terlihat sederhana.


“Bi kamu bahagia tinggal di sangkar emas ini?” tanya Devia hati-hati.


“Setidaknya disini aku diperlakukan layaknya manusia pada umumnya. Bisa dikatakan aku dijadikan ratu disini,” balas Bia dengan wajah berseri.


“Tuan Devan bagaimana?” tanya Devia lagi kali ini gadis itu bertanya dengan cara berbisik.


“Sejauh ini dia baik padaku. Makanya aku bisa hamil,” balas Bia dengan wajah yang sedikit merona.


Tanpa ketiganya sadari di lain tempat Devan sedang memperhatikan interaksi ketiga perempuan itu melalui kamera pengawas yang ada di setiap sudut, sebuah senyuman tanpa sadar terbit di bibir Devan saat melihat Bia yang tampak begitu senang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2