
"Tapi, yah-"
"Kali ini saja, Bi, Ayah meminta sesuatu yang besar dari kamu." Doni menemui Bia yang saat itu tengah bekerja. "Ini bukan hanya untuk Ayah saja, tetapi untuk seluruh karyawan perusahaan. Ayah selama ini tidak pernah meminta sesuatu hal yang besar dari kamu," lanjut Doni panjang lebar.
Bia membeku di tempatnya, memang benar selama ini ayahnya tidak pernah meminta apapun kepadanya. Lebih tepatnya tidak peduli dengan Bia lagi, entah apa yang menjadi sebab Doni berubah terhadapnya, Bia tidak ingin tau dan tidak berusaha mencari tau.
"Ayah mohon, Bi, sekali ini saja."
Bia tidak menjawab perkataan Doni, Bia masih mematung di tempatnya.
Bia gamang, Bia dilema. Di satu sisi Bia ingin lepas dari belenggu orang tuanya tapi Bia takut salah langkah, Bia takut dirinya akan keluar dari kandang buaya dan masuk kandang singa.
"Baiklah, Bia setuju," ucap Bia setelah cukup lama berpikir.
"Terima kasih, Nak, kamu memang anak ayah yang terbaik." Bia tersenyum kecut mendengar pujian dari ayahnya.
"Iya, Yah. Kapan mereka akan ke rumah?"
"Besok malam," balas Doni cepat.
"Baiklah." Bia memaksakan senyuman di bibirnya.
Sementara Doni tersenyum senang, perusahaannya tidak akan jatuh bangkrut dan nasib para karyawan akan aman.
"Ayah pamit dulu, Ayah masih banyak pekerjaan." Doni bangkit dari duduknya, sekilas menatap ke arah Bia yang menganggukan kepalanya.
Setelah sekian lama akhirnya ada percakapan panjang juga antara dia dan ayahnya.
Bia menghembuskan nafasnya berat, ujian apalagi yang akan dia hadapi setelah ini? Belum cukupkah hidup sulit selama ini?
"Bi?"
"Ah, Mbak Wulan, maaf Mbak, barusan ada ayah aku," ucap Bia tak enak hati karena malah berdiam diri saat masih jam kerja.
"Ada apa lagi, kok ngelamun?" Wulan malah duduk di hadapan Bia, di kursi bekas Doni tadi.
Bia memaksakan senyumannya lagi, selama ini Wulan sudah bagaikan kakak untuknya. Perempuan berusia sekitar 30 tahunan itu sudah sangat baik kepadanya.
"Ayah mau ngejodohin aku, Mbak. Katanya perusahaannya terkena kasus dan terancam gulung tikar."
Wulan selalu menjadi tempat Bia berbagi keluh kesahnya selama ini.
"Sama siapa?"
"Pewaris Addison Grup," balas Bia lemah.
"Tuan Devan? Pernikahan bisnis?" tanya Wulan. "Kamu terima?"
Bia menganggukan kepalanya. "Aku gak tega, Mbak. Apalagi bukan cuman ayah saja yang aku pertimbangkan, tetapi nasib karyawan yang menggantungkan hidupnya di perusahaan."
"Kenapa kamu baik sekali?" tanya Wulan lagi.
__ADS_1
Bia kembali tersenyum kecut. "Begitulah nasib yang lemah, Mbak."
"Kamu jangan terlalu baik, Bi." Wulan mengingatkan.
"Aku bisa apa, Mbak? Mbak kan tau sendiri bagaimana," balas Bia lagi.
Wulan sebenarnya prihatin dengan nasib Bia, bagaimana mungkin kedai kecil miliknya mempekerjakan putri sulung anak dari pemilik perusahaan ternama.
"Mbak yakin kamu mampu melewati semua ini." Wulan menatap Bia dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sebenarnya jika Bia mau, Bia bisa saja melawan tapi sekali lagi Bia urung melakukannya karena satu dan lain hal.
***
Devan berdiri dibalik kaca besar yang ada di ruangannya, menatap gedung-gedung pencakar langit yang berada sejajar dengan gedung perkantoran miliknya.
Kedua belah tangannya sengaja dimasukan ke dalam saku celana yang dikenakannya.
'Ini gila! Semuanya benar-benar di luar nalar!' umpatnya dalam hati.
Demi memenuhi ambisinya, Devan rela menghalalkan segala macam cara. Termasuk sebuah pernikahan.
Pernikahan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh dirinya sebelumnya, tapi kini sudah berada di depan mata.
Baginya pernikahan adalah hal yang tabu, Devan tidak suka berada didalam sebuah ikatan.
"Dev?" Tiba-tiba saja pintu ruangan miliknya terbuka.
"Tumben ada di kantor?" sindir Gendis, Omanya Devan.
"Biasanya juga aku ada di kantor, Ma." Devan menuntun Oma untuk duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya.
"Oma dengar kamu akan melakukan pernikahan bisnis dengan putri dari keluarga Subagja?"
Devan tersenyum miring mendengar pertanyaan perempuan yang selama ini menggantikan peran kedua orang tuanya. Oma nya itu masih saja memiliki koneksi yang kuat untuk memata-matai dirinya.
"Ya, bukannya Oma ingin aku segera menikah?"
"Dev?" Oma tiba-tiba saja menatap Devan dengan tajam. "Jangan main-main dengan pernikahan. Pernikahan itu sesuatu yang sakral."
"Aku tidak main-main, Oma," balas Devan santai.
Oma Gendis dengan setelah semi formalnya duduk disamping Devan dengan anggun, tatapannya tetap tajam ke arah Devan.
"Kapan kamu akan menemui keluarga Subagja?"
"Besok malam, Oma."
"Siapkan semuanya dengan baik, Oma tidak ingin ada kesalahan. Segera siapkan serah terima jabatan, Oma sudah lelah dan ingin menghabiskan sisa umur Oma dengan momong cicit," ucap panjang lebar Oma sebelum berlalu meninggalkan ruangan Devan.
Devan mengiris mendengar kalimat terakhir Oma nya. "Iya, Oma."
__ADS_1
Gendis Adiratna, perempuan tua yang bulan lalu baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 72 masih menjabat sebagai komisaris Addison Group, perusahan peninggalan almarhum suaminya, Gabriel Addison.
Gendis ingin Devan yang menggantikan dirinya sebagai komisaris yang menggantikan tugas suaminya yang sudah tiada 18 tahun yang lalu, tapi Devan selama ini terus-terusan mengulur waktu. Devan mengatakan dia akan mengambil jabatan komisaris sekaligus direktur utama kalau dirinya sudah menikah.
Sebentar lagi Gendis sepertinya akan benar-benar melepas jabatannya itu dan menghabiskan sisa umurnya dengan mengurus tanaman-tanaman miliknya di kebun belakang yang ada di kediamannya.
Seperti keinginannya dulu.
Devan menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa. Memijat keningnya karena kepalanya terasa berdenyut nyeri.
"Tuan?" sapa Kean yang masuk ke ruangan Devan.
Selama ini hanya dua orang yang berani masuk ke ruangan dirinya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Oma nya dan laki-laki yang berdiri tanpa ekspresi di hadapannya itu.
"Ya?" balas Devan tanpa beranjak dari posisinya.
"Anda yakin akan menyuntikan dana atas nama anda pribadi ke PT. Bagja Pangan?"
"Tentu saja. Ada yang salah?" tanya Devan.
"Baiklah, saya akan segera mengurusnya dengan notaris."
"Hm."
"Saya permisi, Tuan," pamit Kean.
Kean berlalu tanpa menunggu jawaban Devan.
"Kean," panggil Devan sebelum saat Kena baru saja meraih daun pintu.
"Iya, Tuan?"
"Suruh anak buah kamu untuk menyiapkan keperluan untuk besok malam," ucap Devan dengan posisi yang belum berubah.
"Ada lagi, Tuan?"
"Itu saja, pastikan juga perempuan itu tidak kabur besok malam."
"Baik, Tuan." Kean benar-benar meninggalkan ruangan Devan setelah mendengar perintah terakhir dari tuannya itu.
Devan bangkit dari duduknya, kemudian berjalan ke arah lemari pendingin dan mengambil minuman soda, meneguk dengan sebelah tangan yang bertumpu pada lemari pendingin.
Udara siang hari ini terasa begitu panas di tubuh Devan, padahal pendingin ruangan di ruangannya itu sudah cukup menyejukan.
Devan meremas dengan kuat kaleng bekas minuman yang sudah dia teguk.
Melemparkannya dengan kasar ke tempat sampah yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"BRENGSEK!"
Bersambung…
__ADS_1