Sasaran Balas Dendam

Sasaran Balas Dendam
Semuanya Baru Akan Kita Mulai


__ADS_3

"Jangan buat ulah apapun nanti di acara pernikahan Bia, kalau kalian berdua takut jatuh miskin!  Kecuali kalau kalian sudah siap hidup menggelandang, silahkan lakukan apapun sesuka kalian!"


Dari pagi sampai pukul sepuluh malam, Lisa berusaha menjelma menjadi ibu yang baik di acara pernikahan Bia begitu juga dengan Amel yang menjadi sosok yang begitu anggun.


"Mah, aku lelah," rengek Amel saat resepsi malam itu semakin meriah.


"Kenapa kamu tidak memanfaatkan waktu ini untuk menggaet salah satu pengusaha kaya, tentunya yang masih muda dan single," balas Lisa yang saat itu tengah menyesap minuman yang baru saja diambil dari seorang pelayan yang melintas.


"Kenapa sih, Mah, bukan aku yang jadi istri dari Tuan Devan? Bukankah selama ini tidak ada yang tahu mengenai Bia?" tanya Amel dengan kesal, kakinya begitu pegal. Seharian ini dihabiskan dengan banyak berdiri.


"Mamah maunya juga begitu!" balas Lisa dengan ketus, apalagi saat melirik Bia dan Devan yang tengah berbicara dengan begitu mesra. 'Beruntung sekali anak itu!'


"Aku curiga Tuan Devan tidak bisa mengenali mana mutiara dan mana debu jalanan." Amel berkata dengan begitu percaya diri, seolah dirinya lebih baik daripada sang kakak.


Kedua wanita yang sama-sama tidak menyukai Bia menatap Bia dan Devan dengan tatapan penuh rasa iri.


"Kok bisa sih, Mamah punya anak kaya Bia?" Sebuah pertanyaan lolos begitu saja dari bibir Amel yang seharusnya tidak pantas dipertanyakan.


"Mamah juga terpaksa," balas Lisa dengan bibir yang mencebik.


"Jangan-jangan Bia bukan anak Mamah sama Ayah?"


"Hush jangan sembarangan kamu kalau ngomong!" Lisa mengedarkan pandangannya ke sekeliling, untung saja di sana cukup sepi.


Amel ikut mencebikan bibirnya juga.


"Jaga bicara kamu, mata dan telinga di sini ada di mana-mana," ujar Lisa sedikit berbisik.


Sementara Doni tengah berbincang dengan beberapa orang penting yang masih berada di acara resepsi mewah malam hari itu, memanfaatkan momen sebaik mungkin jika sewaktu-waktu Bia dibuang oleh Devan.


Semakin malam acara masih tetap saja meriah. Apalagi dengan penampilan beberapa artis kondang yang memeriahkan acara malam hari itu.


"Ayah lihat Amel?" bisik Lisa menghampiri Doni yang tengah berbincang dengan kolega Devan.


"Bukannya tadi sama Mamah?" Doni balik bertanya.


"Tadi Mamah tinggalin dia ke toilet, Yah." Lisa mulai panik.


"Biarlah, Amel bukan anak kecil lagi, masa iya tidak bisa menjaga dirinya dengan baik. Apalagi ini di tengah pesta begini."


Lisa menatap Doni dengan sendu, tidak ada raut khawatir di wajah laki-laki itu.


"Mamah sudah cari ke segala penjuru hotel, Yah."


"Mungkin dia kembali ke kamar," balas Doni sedikit menjauh dari beberapa orang yang tadi berbicara dengannya.


"Hapenya gak bisa di hubungi, Ayah!"

__ADS_1


"Sudah lah, Lisa. Amel sudah dewasa mana mungkin dia hilang, coba kamu cek ke kamarnya."


"Tapi-"


"Aku masih ada urusan, carilah Amel sendiri!" Dengan santainya Doni meninggalkan Lisa seorang diri di tengah kekhawatirannya.


"Kamu selalu saja begitu, Mas!" Mata Lisa mulai berkaca-kaca. "Amel kamu di mana sih?"


Lisa memilih mencari Amel ke kamarnya, mungkin yang dikatakan suaminya tadi benar adanya. Bisa saja ponselnya kehabisan daya.


Namun saat hendak memasuki lift sebuah pesan masuk ke ponselnya.


"Syukurlah, Mel, Mamah khawatir."


Amel yang mengirim pesan, dia bilang sudah ada di kamarnya, tubuhnya lelah matanya ngantuk. Amel juga mengirimkan sebuah foto dirinya sedang berbaring di tempat tidur.


Lisa yang juga sudah lelah memilih melanjutkan langkahnya menuju kamar miliknya yang terletak satu lantai dengan kamar Amel.


Sementara di kamar Amel.


"Gimana?"


"Aman," jawabnya.


"Yakin, ibu kamu gak akan ke sini?"


"Wow! Amazing so beautiful!"


***


Akhirnya pesta meriah itu usai tepat di jam dua belas malam, baik Devan maupun Bia sama-sama merasakan begitu lelah. Kakinya begitu pegal.


Di perjalan menuju kamar termewah yang ada di lantai paling atas hotel itu, Devan merangkul pinggang Bia dengan begitu erat, jarak keduanya sangat dekat karena memang tubuh mereka berdempetan satu sama lainnya.


Devan tidak sabar untuk segera tiba di kamar miliknya, lebih tepatnya kamar miliknya dengan sang istri.


'Heh istri?!'


Sedangkan Bia tengah dilanda rasa gugup yang luar biasa, bagaimanapun malam ini dia akan segera melepas hal yang berharga dalam dirinya untuk laki-laki yang menyandang status suaminya.


Bukan cuman Bia yang gugup, Devan juga. Jantungnya semakin bergemuruh lebih hebat dibandingkan saat tadi mengucap janji suci pernikahannya bersama Bia. Apalagi saat langkahnya tinggal beberapa meter lagi menuju kamarnya.


"Ah, Dev!" pekik Bia kaget saat Devan langsung mengangkat tubuhnya begitu tiba di kamar.


"Aku menginginkannya sekarang!"


Bia meneguk salivanya kasar, saat Devan mulai menyergap bibirnya.

__ADS_1


Tangan lihai sang ahli mulai merayap ke sana ke mari. Meng-explore titik sensitif yang bisa menerbangkan Bia.


"Dev aku takut."


"Tidak akan terjadi apa-apa," balas Devan di ceruk leher Bia.


Setengah jam kemudian, Devan sudah berhasil melucuti semua kain yang melekat di tubuhnya dan tubuh Bia.


Devan sengaja memperlambat semuanya karena merasa senang dengan wajah Bia yang nampak tersiksa, apalagi saat bagian sensitifnya di mainkan Devan dengan sengaja.


"Dev!" rintih Bia.


Semakin Bia merintih tersiksa semakin Devan menyukainya.


'Tau kan bagaimana rasanya tersiksa?!' batin Devan dengan seringai menyeramkan kembali menghiasi wajahnya.


'Ini belum apa-apa Cantik!' Devan mulai mengarahkan miliknya ke arah Bia.


"Dev aku takut," lirih Bia sekali lagi.


"Semuanya akan baik-baik saja," balas Devan tidak memperdulikan rintihan Bia saat miliknya mulai memasuki milik Bia yang begitu sempit.


'Sangat menantang!'


"Kamu akan segera merasakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan olehmu," bisik Devan, suaranya terdengar penuh ancaman di telinga Bia.


"Sa-kit Dev!"


Devan menghiraukan ucapan Bia, tak peduli kuku-kuku gadis itu mencakar dan melukai punggung dan lengan atasnya. Devan juga mengabaikan air mata yang mulai mengalir dari kedua sudut mata Bia.


"Sa-kit Dev," lirih Bia lagi begitu mengiba, saat dirasa miliknya seperti tersayat benda tumpul.


"Ini belum seberapa, Sayang!"


Mata Bia langsung terbuka lebar. "Ma-mak-sud kamu?"


Devan membalasnya dengan sebuah seringai yang begitu menakutkan menurut Bia ditambah wajah sayunya yang sudah di penuhi gairah yang membara.


"Sebentar lagi kamu akan segera mengetahuinya." Devan semakin menyukai wajah tegang Bia, apalagi di bawah sana juga terasa ikut menegang dan semakin menghimpit miliknya yang baru terbenam sebagian.


Bia mulai terisak saat perkataannya sama sekali tidak di hiraukan oleh Devan yang masih mendorong miliknya menembus pertahan miliknya.


'Pasti sakit sekali kan?'


"Dev aku mohon, lepaskan!" pinta Bia disela isakannya.


"Tutup mata kamu, ini semua baru akan kita mulai."

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2