Sasaran Balas Dendam

Sasaran Balas Dendam
Tingkah Random Bia


__ADS_3

Setelah dinyatakan positif mengandung anak dari Devan Addison, Bia merasakan banyak perubahan yang terjadi pada sang suami.


Devan yang sebelumnya terkenal dingin dan sulit tersentuh kini sedikit mencair menurut Bia. Devan juga sudah tidak seketus semula saat memperlakukan dirinya, satu hal yang merupakan anugerah tersendiri bagi Bia.


“Dev,” panggil Bia saat Devan sedang ada di ruang kerjanya.


Selama ini Bia tidak pernah diizinkan untuk masuk ke dalam ruang kerja sang suami dan ternyata menurut Gendis, tidak ada yang boleh menyentuh ruangan itu. Termasuk dirinya juga.


Hanya ada satu orang yang boleh memasuki ruangan itu termasuk membereskan dan membersihkan ruangan keramat itu. Orangnya tak lain dan tidak bukan adalah Kean, kaki tangan Devan yang sudah bagaikan ujung tombak bagi Devan si penguasa.


“Ya?”


Tubuh tinggi kekar itu keluar dari balik pintu dan masih menggunakan pakaian yang tadi siang digunakannya untuk bekerja, hanya saja tampilannya sudah tidak serapi tadi pagi. Bahkan lengan kemeja yang digunakannya sudah digulung sebatas siku.


“Mual lagi?” tanyanya masih dengan nada dingin.


Bia menggelengkan kepalanya, kemudian memberanikan diri menatap suaminya yang juga tengah menatapnya dengan seksama.


“Kamu tidak sibuk?” tanya Bia tidak masuk akal, jelas-jelas jika Devan masih berkutat di ruang kerjanya itu tandanya laki-laki itu masih sibuk dengan pekerjaannya.


“Kamu mau apa?” tanya Devan yang malah menjawab pertanyaan Bia dengan pertanyaan baru.


Bia kemudian menundukan kepalanya, ragu mengutarakan apa yang mengganggunya malam ini sampai tidak bisa tidur.


“Aku mau makan,” ucap Bia pelan, sangat pelan bahkan.


Devan mengerutkan keningnya, alis tebalnya bahkan hampir bertemu satu sama lain saat melihat tingkah Bia yang menurutnya aneh. Juga permintaannya yang terdengar tidak masuk di akal.


“Kenapa tidak minta pekerja dapur buatkan kamu makanan lalu antarkan ke kamar.”


Dengan kepala yang masih tertunduk Bia menggelengkan kepalanya lagi, bukan itu yang dia inginkan malam ini.


Devan semakin dibuat heran sekaligus tidak mengerti dengan sikap istrinya itu. Walaupun kesal, Devan tidak berani membentak atau memarahi Bia. Menegur saja Devan tidak berani.


‘Wanita hamil itu perasaannya sensitif, kamu harus menambah stok sabar yang ada pada dirimu. Oma yakin kamu bisa melakukannya dengan baik, ini semua demi anak dan juga istri kamu.’


Perkataan Gendis yang saat itu menasehatinya masih terus saja terngiang diingatannya, bahkan sudah terpatri dengan sangat kuat di otaknya.


Dan untuk kesekian kalinya Devan hanya bisa menghembuskan nafasnya untuk meredakan rasa kesal pada Bia yang menurutnya menyusahkan.


“Katakan kamu mau apa?” tanya Devan.

__ADS_1


“Aku mau cari makan di luar,” jawab Bia masih dengan wajah yang tertunduk.


Devan menghembuskan nafasnya dengan cukup kasar, perkara cari makan di luar saja Bia susah mengatakannya dengan lancar.


“Ayo berangkat,” balas Devan sambil berjalan meninggalkan Bia terlebih dahulu.


Bia mengekori Devan tepat di belakang tubuh laki-laki itu, ada sebuah rasa yang meletup-letup di dalam hatinya saat mendapatkan perhatian Devan yang berselimutkan sikap dingin dan acuhnya.


Kali ini giliran Bia yang mengerutkan alisnya heran karena melihat Devan yang malah masuk ke walk in closet, padahal tadi jelas-jelas Devan mengiyakan ajakan dirinya.


Hormon kehamilan yang ada pada tubuhnya langsung saja menunjukan ekspresi lain dan Bia langsung memasang wajah sedihnya.


Bia mundur dan tidak jadi mengikuti Devan, suasana hatinya lebih dulu buruk dan merosot jauh. 


“Ayo berangkat,” ucap Devan sambil menyodorkan sebuah jaket berwarna abu-abu ke arah Bia yang sedang duduk di tepi ranjang.


“Kita jadi berangkat?” tanya Bia sambil menatap Devan yang sudah membalut tubuh tingginya dengan hoodie hitam.


“Tentu saja jadi. Saya tidak mau mengecewakan anak saya yang ada di perut kamu,” kilah Devan yang sebenarnya tidak ingin mengecewakan Bia yang barusan sudah memasang wajah murung.


Sebuah rasa yang selama ini selalu Devan tepis masih belum bisa mengalahkan tingginya ego Devan yang masih ingin menuntaskan hasratnya untuk balas dendam pada keluarga Doni Subagja.


Sudah satu jam Devan mengendarai mobilnya sendiri, tapi selama itu juga Bia belum menemukan apa yang dia inginkan.


Devan tentu saja kesal, apalagi tadi Bia yang melarangnya untuk menggunakan sopir dan ingin pergi berdua saja. Walaupun Devan mengendarai mobil sendiri dan hanya berdua dengan Bia di dalam mobil mewahnya, tetap saja satu mobil hitam yang berisi bodyguardnya mengikuti mobil yang dikendarai Devan dari jarak yang cukup jauh.


“Kamu mau cari apa sebenarnya?” tanya Devan yang berusaha menahan emosinya supaya tidak meluap.


“Gak tau, tiba-tiba aja aku gak pengen apa-apa,” balas Bia, tapi wajahnya jelas sekali sumringah.


Sekali lagi Devan harus kembali meredam emosinya, waktunya yang sangat berharga harus terbuang percuma hanya demi memenuhi permintaan Bia yang terasa random.


Tangan Devan yang sedang mengendalikan kemudi mobilnya sedikit mencengkram dengan cukup erat.


“Kita pulang, ini sudah malam,” ucap Devan dengan ketus.


“Kok pulang?” tanya Bia dengan wajah yang semula sumringah berubah menjadi sendu.


“Terus kamu maunya gimana?” Devan masih bisa mengendalikan emosinya dengan cukup baik.


“Aku pengen jalan-jalan aja, gini,” balas Bia dengan nada manja.

__ADS_1


“Buang-buang waktu aja,” ketus Devan.


“Ih Papa kok ngomongnya gitu sih?”


‘Papa,’ ulang Devan dalam hati, tubuhnya langsung saja menghangat seketika mendengar panggilan yang terasa manis di telinganya.


Devan tidak sabar menunggu kelahiran anak pertamanya.


“Boleh ya Pa, kita jalan-jalan aja, muter-muter komplek juga gak papa,” pinta Bia yang dengan berani menyandarkan kepalanya pada lengan Devan.


“Ck!” Devan berdecak tapi tak urung menuruti permintaan Bia.


“Jangan galak-galak, dedek bayi tidak suka begitu Pa,” ucap Bia lagi yang Devan rasa mulai berani kepadanya.


Devan ingin kembali protes tapi melihat Bia yang manja Devan jadi teringat akan gadis kecil yang dulu Devan tinggalkan dengan kondisi menangis seorang diri di taman.


Rasa bersalah karena meninggalkan gadis kecil yang dulu meminta bantuan kepadanya kembali Devan rasakan, sampai saat ini Devan tidak mengetahui siapa gadis kecil yang selalu Devan impikan sesekali.


Jika Tuhan mengizinkan Devan ingin sekali dipertemukan dengan gadis kecil itu dan meminta maaf karena pernah meninggalkannya dalam keadaan kebingungan karena terpisah dengan rombongan keluarganya.


Devan menghentikan laju mobilnya di depan sebuah taman yang ada di komplek perumahannya, Bia yang sejak tadi merebahkan kepalanya di lengan Devan sepertinya sudah terlelap dialam mimpinya.


“Maaf,” bisik Devan sambil mengusap wajah Bia dengan tangan kanannya.


“Aku tidak tahu apa salahmu padaku, tapi aku tetap saja egois ingin kamu hidup menderita berada di sangkar emas milikku.”


Devan menatap taman yang hanya dihiasi oleh beberapa lampu yang tidak begitu terang, suasananya sepi karena waktu sudah dini hari.


Mata elangnya menatap jauh ke arah taman, bayangan gadis kecil dengan rambut panjang yang dikepang dua kembali memenuhi bayangannya.


Tangan mungil yang menggenggam tangannya dengan erat harus Devan lepaskan karena saat itu dirinya menerima kabar kalau orang tuanya mengalami kecelakaan.


“Kamu dimana sekarang? Apa kamu kembali dipertemukan dengan keluargamu?”


Kalau saja bisa memutar waktu Devan ingin sekali membawa gadis kecil itu dan membantu mencari keluarganya setelah urusan Devan selesai.


Tapi kenyataan berkata lain, Devan lebih memilih meninggalkan gadis kecil itu dan buru-buru ke rumah sakit untuk mengetahui kabar orang tuanya yang terlibat kecelakaan maut.


“Andai saja kita kembali dipertemukan sebelum aku menikah, mungkin kamu yang akan menjadi istriku. Bukan perempuan yang berasal dari keluarga bi*adab itu!”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2