Sasaran Balas Dendam

Sasaran Balas Dendam
Ajakan Kabur


__ADS_3

"Serius, Bi?" tanya Rinjani memastikan kebenaran berita yang barusan di dengarnya.


Bia menganggukan kepalanya dengan santai, sedotan berisi jus avocado berada di mulutnya.


"Kamu gak kepikiran kabur gitu?" tanya Devia.


Sore itu selepas fitting baju, Bia janjian dengan kedua sahabatnya yang ingin mengonfirmasi kebenaran dari cerita sahabat malangnya di grup tadi pagi.


"Iya, Bi, kalau kamu mau kabur kita bersedia bantu, ya ga, Vi?" Rinjani ikut menimpali.


"Ngaco!" balas Bia.


"Bi, kita cuman pengen elu bahagia. Gue tau Tuan Devan orang kaya raya, miliarder muda, masalah finansial elu pasti bakalan terjamin. Tapi gue gak yakin elu bisa bahagia dengan pernikahan ini, apalagi semua atas nama bisnis," lanjut Rinjani dengan menggebu-gebu.


"Gue setuju, gimana kalau kita kabur ke luar negeri aja. Gue bosan hidup gini-gini aja." Devia ikut menimpali.


"Makin ngaco kalian ini," balas Bia.


"BI!" teriak Devia dan Rinjani bersamaan.


"Apaan?" Bia bahkan harus menutup kedua telinganya. "Berisik, ih." Bia mengedarkan pandangannya ke segala arah, benar saja orang-orang yang kebetulan tengah menikmati makanan mereka di kafe yang ketiga gadis itu tempati, tengah menoleh ke arah mereka bertiga.


"Sori, reflek, gue," ucap Devia dengan senyuman menyebalkan di bibirnya.


"Lagian Bi, ya, gue masih heran elu mau-maunya terima pernikahan ini, bokap elu juga gak punya hati banget, sih."


"Masalahnya bukan cuman buat bokap aku aja, Jan, nasib ratusan karyawan yang menggantungkan hidupnya di perusahaan yang buat aku gak bisa nolak permintaan bokap." Bia mencoba menjelaskan alasannya menerima pernikahannya dengan Devan.


"Baik banget sih, elu, kalau jadi gue ogah banget," ucap Devia. "Gue lebih baik kabur, pergi jauhhhhh. Biarin tuh si Amel yang gantiin posisi elu!" lanjutnya semakin menggebu-gebu saja.


Bia hanya tersenyum kecut menanggapi perkataan demi perkataan yang terlontar dari kedua sahabatnya itu.


"Sudahlah, siapa tau ini takdir yang akan membawa aku menuju kebahagian," balas Bia mencoba menghibur kedua sahabatnya yang tengah mengkhawatirkan dirinya.


Sungguh Bia merasa beruntung sekali memiliki Devia dan Rinjani sebagai teman yang mau menemani dan menerima dirinya yang dipenuhi drama dalam hidupnya.


"Bi," ucap Devia dan Rinjani bersamaan, mereka bertiga langsung saja saling peluk.


"Kalau ada apa-apa, kasih tau kita," ucap Rinjani. "Kita usahain bakalan bantuin, elu."


"Makasih, ya, kalian selalu ada buat aku. Gak peduli gimana kondisi aku."


"Kita ini teman, sahabat, udah kaya saudara. Jadi gue minta elu jangan sungkan kalau ada apa-apa, bila perlu kalau elu mau kita kabur ke luar negeri, boo," balas Devia mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


"Stres ni bocah." Rinjani mendorong kening Devia. "Curiga otaknya geser, dari tadi ngajakin mulu kabur ke luar negeri."


Bia dan Devia terkekeh bersama mendengar kalimat terakhir Rinjani.


Tanpa ketiganya sadari, orang yang duduk dibelakang meja yang mereka tempati merekam semua kejadian barusan.


Laki-laki itu langsung saja mengirim video itu kepada atasannya, siapa lagi kalau bukan Devan.


Devan tidak melepaskan Bia barang sedetik pun, tanpa Bia sadari sejak acara lamaran malam itu Devan selalu menyuruh orang untuk berada di sekitar Bia.


Sementara sang penguasa muda yang kini tengah fokus dengan layar laptopnya kembali tersenyum sinis saat mendengar kalimat demi kalimat yang barusan di terima dari orang suruhannya.


"Ck, mau lari sampai ke ujung dunia sekalipun kamu tidak akan bisa lolos Biandra!" ucap Devan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop yang tengah menampilkan pergerakan dividen perusahaannya.


"Teruslah berusaha tetap tangguh di saat badai mulai menghantam." Dengan kasar Devan mematikan ponselnya dan menutup layar laptopnya.


Entah apa yang membuat laki-laki itu tiba saja merasakan kesal.


Devan bangkit dari duduknya, kemudian berjalan ke arah kaca besar yang tidak jauh dari singgasananya.


Dengan kedua tangan yang terlipat di dada, Devan menyandarkan tubuhnya ke dinding dan menatap hiruk pikuk ibu kota dari lantai paling atas gedung pencakar langit miliknya.


"Tuan?" Tiba-tiba saja Kean sudah ada di ruangan Devan.


"Hm?"


"Bagikan segera!" titahnya dingin.


"Baik, Tuan." Tanpa banyak bicara Kean langsung saja melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Devan.


Ruangan dengan desain interior yang begitu mewah, warna coklat mendominasi menambah kesan elegan dan berkelas.


Devan meraih nikotin yang berada di saku celananya, mengambil satu batang, menyulutnya kemudian menghisapnya dengan kasar.


Asap putih yang barusan di hembuskan Devan, berhasil membentur kaca dan sebagian kembali menerpa wajahnya lagi.


"Pernikahan?" gumamnya di sela-sela batang nikotin yang terselip di bibirnya. "Cih, merepotkan saja!"


Devan kembali berjalan ke arah singgasananya, mendudukan tubuhnya di sana dengan asap putih yang masih mengepul keluar dari bibirnya.


Dipandangnya foto keluarga yang diambil mungkin sekitar dua puluh tahun yang lalu itu, dada Devan langsung saja naik turun.


Dengan kasar Devan langsung mematikan rokok di tangannya.

__ADS_1


Rahangnya langsung mengeras,


Pandangannya tajam,


Wajahnya menggelap dengan suara gemeretak gigi yang saling beradu.


Kedua belah tangannya sudah mengepal di atas meja.


PRANG!


Devan menyapu semua yang ada di atas meja kerjanya. Semuanya berjatuhan ke lantai tanpa ada yang tersisa.


Kemudian kedua tangannya bertumpu pada pinggiran meja kerjanya, mencekamnya dengan erat sampai buku tangannya memutih.


"Tuan?" Sekretaris baru Devan yang hendak memberikan berkas langsung terkejut saat tadi hendak membuka pintu ruangan atasannya.


"Apa yang kamu lakukan Stevani?" bentak Devan dengan tatapan tajam menghunus ke arah sekretarisnya yang baru dua minggu bekerja.


"Maaf, Tuan, saya hanya ingin menyerahkan berkas kerja sama yang tadi anda minta, tapi saya tidak sengaja mendengar ada suara barang pecah. Saya takut terjadi sesuatu yang buruk kepada anda," ucapnya panjang lebar sambil berjalan ke arah Devan.


Devan tersenyum miring di tengah wajahnya yang masih menggelap.


Stevani, perempuan berusia 28 tahun dengan pakaian terbuka dan dada besarnya tengah berjalan ke arahnya dengan langkah menggoda.


'Cih, mau apa dia?'


"Kalau anda mau, saya bisa membuat anda melayang dan melupakan sejenak masalah yang membebani pikiran anda," bisiknya menggoda di samping Devan.


Perempuan itu dengan lancangnya menyandarkan tubuhnya ke meja kerja Devan.


"Terdengar tidak buruk!" ucap Devan yang disambut senyuman nakal di bibir Stevani. 'Kurang ajar sekali perempuan ini.'


Tanpa permisi jari-jari lentik berhiaskan kutek itu langsung saja mengelus dada bidang Devan, kesempatan langka yang selama ini dia nantikan.


Dengan gerakan perlahan namun pasti tangan itu mulai bergerak mengelus rahang kokoh laki-laki berdarah campuran itu.


"Saya akan melakukannya dengan baik," bisik Stevani yang mulai merosot ke bawah.


Stevani tau kebiasaan Devan.


Devan menyeringai, membiarkan Stevani memuaskannya saat ini. Dirinya begitu membutuhkan pelepasan, setelah cukup lama tidak merasakannya.


Bersambung…

__ADS_1


Note : cerita ini tidak terlalu membawa unsur agama, dengan tokoh Devan yang memiliki kehidupan bebas dan tidak mengenal dosa.


Lanjut gak nihhh? Masih sepi aja ☹️


__ADS_2