Sasaran Balas Dendam

Sasaran Balas Dendam
Ambisi Devan


__ADS_3

Benar saja apa yang dikatakan Devan sebelumnya, bahwa Bia akan merasakan sesuatu yang tidak terbayangkan olehnya.


Tubuhnya serasa terbang melayang, menglanglang buana menjelajahi nirwana.


'Ah Bia kamu sudah hilang akal.' Bia terus saja merutuki dirinya sendiri.


Devan berguling ke sisi Bia saat pekerjaannya sudah usai, ternyata walaupun sudah lama tidak digunakan sebagaimana mestinya tapi kekuatannya tidak perlu diragukan lagi.


"Kamu suka?" tanya Devan yang melihat Bia masih mengatur nafasnya.


Semburat merah kembali menghiasi wajah Bia, dia hanya membalas perkataan Devan dengan senyuman tipis di bibirnya. Bia malu mengakuinya.


"Mau lagi?" tanya Devan lagi.


Bia menggelengkan kepalanya pelan, di bawah sana masih terasa kebas dan cukup ngilu. Bia sedikit merinding saat pertama kali merasakan benda itu terbenam seutuhnya di tubuhnya dan Bia merasa miliknya seperti robek.


"Tidurlah." Devan meraih Bia masuk ke dalam pelukannya. "Jadilah gadis baik yang penurut," ucap Devan saat tubuh Bia sudah masuk ke dalam pelukannya, Devan merasakan Bia menganggukan kepalanya di dada.


'Kamu milikku Biandra!' batin Devan dengan yakin.


Sebelah tangan Devan mengelus rambut Bia, dengan rahang yang mengeras dan sorot mata yang kembali menyeramkan.


Tak butuh waktu lama nafas Bia sudah teratur di dada Devan, hembusan nafasnya langsung mengenai permukaan kulit Devan.


'Semoga kamu kuat dengan takdir yang akan kamu jalani.' Devan mengelus pipi mulus Bia dengan punggung telunjuknya. 'Sayang sekali kamu yang aku pilih dan selamanya kamu tidak akan pernah lepas dariku!'


"Semuanya baru dimulai Babe, persiapkan diri kamu. Setidaknya kamu bisa lebih bermanfaat dan berguna!"


Devan menatap langit-langit kamar mewah yang disewanya itu, sebenarnya dia akan langsung membawa Bia pulang ke rumahnya setelah resepsi usai, tapi Oma nya melarang keras niatan Devan itu dan untung saja Devan menuruti perkataan Oma nya itu. Andai saja tidak entahlah, pasti sekarang dirinya baru tiba di rumahnya.


'Pernikahan?!'


Sebelumnya Devan sudah memutuskan tidak akan menikah, tapi entah kenapa rencana yang sudah disusun dengan matang harus berubah haluan saat mengetahui fakta baru yang ternyata anak Doni bukan cuman Amel saja, tapi masih ada satu gadis lain yang hidup berbanding terbalik dengan status sosial keluarga Subagja.


Tapi sayang Devan ceroboh kali ini dan Devan juga menyadari kecerobohannya. Devan tidak menyelidiki Bia dengan benar. Hanya Doni, Lisa dan Amel saja yang Devan selidiki dengan teliti.

__ADS_1


Devan mengetuk-ngetuk jari tengahnya ke bantal, ada sesuatu yang mengganjal dalam hati Devan mengenai status Bia, Devan meragukan kalau Bia adalah anak kandung Doni dan Lisa.


'Apa perempun ini anak angkat?'


Satu pertanyaan yang mengganggu pikiran Devan setelah kepergian Bia dari rumah Doni Subagja beberapa hari lalu.


Devan belum memastikan kebenarannya karena Kean sibuk mempersiapkan pesta pernikahan mewah untuknya.


'Jika dia bukan … oh **1*!'


Sekali lagi Devan mengamati wajah tenang Bia yang sudah terlelap di alam mimpinta.


'Garis wajah ini, bibir ini.' Devan menyentuh satu persatu bagian wajah Bia. 'Ada kemiripan dengan Doni, apa mungkin Bia anak Doni dari perempuan lain sebelum menikah dengan wanita pembunuh itu? Jika iya seharusnya yang aku nikahi adalah Amel bukan gadis ini.'


Semakin dipikirkan Devan semakin tidak bisa memejamkan matanya. Jika dipikirkan dengan teliti, di kaitkan satu sama lain Devan jelas mendapati banyak kejanggalan. Tapi sayangnya keputusan sudah diambil, tidak mungkin membatalkannya sepihak. Setidaknya nama baik Devan tidak akan tercoreng di mata publik.


Untuk sekarang biarlah begini dulu, Devan butuh penerus untuk kerajaan bisnisnya. Setidaknya dia anak mendapatkan keturunan dari perempuan baik-baik. Karena sejatinya sebejat-bejatnya lelaki, seburuk-buruknya kelakuannya, saat menginginkan seorang istri tentulah ingin mendapatkan perempuan baik-baik.


Licik bukan? Tapi begitulah kenyataannya, begitu juga dengan perempuan. Pasti ingin mendapatkan laki-laki baik yang bisa membimbingnya di ke arah yang lebih baik.


Devan menatap wajah cantik Bia, walaupun bibirnya mrnyangkal tapi di hatinya ada sedikit kehangatan yang Devan rasakan.


Dirinya tidak pernah mengenal yang namanya cinta, baginya cinta hanya akan memusingkan dan merepotkan.


Seumur hidupnya yang Devan tau hanya ambisi dan kejayaan, tapi nyatanya semua itu tidak bisa membuat dirinya bahagia. 


Ada yang kurang di dalam dirinya.


Ada yang hampa di dalam hatinya.


Ada ruang kosong di otaknya yang selalu dipenuhi ambisi.


'Tapi apa?' Devan masih bingung dengan dirinya.


Ada apa, kenapa, bagaimana, banyak lagi pertanyaan yang masih belum terpecahkan oleh Devan yang ada pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Devan sendiri memegang teguh prinsipnya yang akan bahagia dan puas setelah menuntaskan misi.


Devan selalu menekan dirinya sendiri kalau yang dirasakan selama ini hanya karena jenuh bekerja saja, padahal sebenarnya Devan kesepian. Pelampiasan pada wanita malam yang selalu dia bayar dengan harga tinggi nyatanya tidak bisa mengisi satu ruang kosong di hatinya.


Tender triliunan, omset milyaran, aset berjalan dan tetap yang dia miliki, koleksi mobil mewah, apalagi yang belum dia punya?


Rumah mewah, perusahaan besar yang maju dan terkenal, harta yang berlimpah, nyatanya tidak bisa mengusir kebosanan dalam hatinya.


Menenggelamkan diri dalam pekerjaan sebenarnya tidak bisa mengalihkan Devan dari rasa sepi yang selalu menemani harinya.


Entah sejak kapan Devan mulai kehilangan arah, melampiaskan satu hal dengan berbagai hal yang membawanya ke puncak kejayaan.


18 tahun waktu yang Devan sudah lalui nyatanya sangatlah memprihatinkan, sudah selama itu juga Devan kesulitan untuk memejamkan matanya saat malam hari.


Lelah di tubuh dan pikirannya tidak bisa membuat matanya cepat mengantuk saat malam hari, sama seperti halnya malam ini.


'Bisakah aku memperlakukanmu dengan baik?'


'Aku sudah terlanjur bersumpah, Biandra! Maafkan aku.'


Entah untuk kesalahan apa Devan ingin sekali meminta maaf kepada Bia, wanita yang sudah resmi menjadi istrinya mulai dari hari ini dan selamanya.


'Semoga kamu akan tetap bertahan meskipun tahu yang sebenarnya.'


'Maafkan aku Biandra!'


Devan berjanji kepada Tuhannya seiring dengan janji suci pernikahan yang tadi pagi dia ucapkan bersama Bia, apapun yang terjadi Bia akan tetap menjadi istrinya selamanya.


Pernikahan adalah suatu hubungan yang sakral, Devan hanya ingin menikah sekali seumur hidup walaupun pernikahan ini tidak dilandasi dengan cinta dan didasari dengan hal yang salah, tapi Devan sudah bertekad untuk mempertahankan tali pernikahannya.


Devan egois? Ya, dia mengakuinya kalau dia memang egois dan semua orang tahu hal itu. 


Devan menyugar rambutnya, waktu sudah menunjukan pukul 03.00. Kantuk masih belum juga menghampirinya.


'Haruskah malam ini aku habiskan tanpa tidur lagi?' Devan mengeratkan dekapannya ada rasa nyaman menyelimuti hatinya, rasa yang Devan halangi dengan dinding yang sangat kokoh.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2