Sasaran Balas Dendam

Sasaran Balas Dendam
Sangat Menarik


__ADS_3

Malam kian larut, tapi Devan belum merasakan kantuknya.


Selama ini dia memang kesulitan tidur lebih awal, biasanya dia akan tertidur setelah lewat dini hari.


Gelas wine berada di tangan kanannya, sementara tatapan matanya tajam menatap ke arah dinding dengan banyak foto menempel di sana.


Devan tersenyum miring sambil menyesap minumannya perlahan.


"Ah, ini sangat menyenangkan," gumamnya pelan.


"Sebentar lagi, kalian akan merasakan kepahitan yang selama ini aku rasakan!" Sebuah anak panah kembali melesat dan mengenai foto yang sama.


"Kita lihat saja sampai mana kamu akan bertahan dengan sikap tegar mu itu."


Devan meneguk minuman miliknya sampai tandas.


Kemudian berjalan dengan arogan ke meja kerjanya, pekerjaannya sudah menumpuk dan butuh perhatiannya di malam hari.


Pekerjaan yang menumpuk, proyek yang harus di cek, perjalanan luar kota maupun luar negeri, itu merupakan kesenangan yang dia sukai.


Bekerja dan bekerja, adalah kebiasaan yang sudah mendarah daging bahkan sudah menjadi hobi untuk laki-laki yang sebentar lagi genap berusia 34 tahun itu.


Harta dan tahta adalah ambisi pertama yang berhasil diraihnya.


Dengan harta yang berlimpah dia bisa dengan mudah mendapatkan apa yang dia mau, tinggal jentikan jari maka semuanya akan segera berada di hadapannya dalam waktu singkat.


Malam kian larut, tapi Devan belum beranjak dari ruang kerjanya. Ruangan yang sangat terlarang untuk disentuh, termasuk oleh Gendis sendiri.


Seringai kembali menghiasi wajah tampannya, di bawah temaramnya lampu ruangan itu Devan kembali mengorek informasi yang akan memuluskan jalan mencapai tujuannya.


"Separah itukah mereka? Penuh teka teki sekali," gumamnya dengan beberapa kali gelengan di kepalanya.


"Sangat menyenangkan kalau ditambah sedikit bumbu!" Devan menekan keyboard laptopnya dengan sangat ringan.


Kemudian bangkit dari duduknya saat melihat jam yang sudah menunjukan angka 02.20.


Berlalu meninggalkan ruangan yang biasa dia jadikan tempat semedi, supaya tidak ada yang bisa mengganggunya.


Saat perjalanan menuju kamarnya, Devan tidak sengaja melihat siluet seseorang yang tengah berjalan ke arah dapur.


"Oma?" gumam Devan sambil melangkahkan kakinya melewati anak demi anak tangga yang akan membawanya ke lantai bawah.


Begitu tiba di dapur, Devan melihat Oma Gendis tengah menyeduh teh.


"Oma?" sapa Devan.

__ADS_1


Oma Gendis membalikan tubuhnya. "Dev belum tidur?" tanyanya sambil mengamati penampilan Devan yang masih mengenakan pakaian yang tadi sore di gunakan untuk bertemu keluarga Doni Subagja.


"Aku baru selesai mengecek laporan, Ma," balas Devan.


"Ini sudah larut, Dev. Tidak baik untuk kesehatan." Gendis menasehati cucunya.


"Iya, Oma."


Devan dan Oma Gendis meninggalkan dapur dengan Devan yang merangkul pundak oma yang yang membawa cangkir berisi teh di tangannya.


"Oma kenapa bangun jam segini?" tanya Devan saat tiba di depan kamar Oma nya.


"Oma sedikit sulit tidur, setelah tadi menghubungi Davin mengabarkan kamu yang akan menikah dua minggu lagi. Oma juga menyuruh Davin segera pulang," jelas Oma Gendis panjang lebar.


"Ini sudah larut, Oma. Seharusnya Oma menghubunginya besok saja."


"Oma tidak bisa menunggu, Dev," balas Oma Gendis dengan tersenyum.


"Baiklah, aku bisa apa?" Devan membukakan pintu kamar Oma tersayangnya itu. "Lekas tidur, jangan lupa hari minggu nanti jadwal Oma kontrol ke rumah sakit."


"Oma tau!"


Devan mengangkat kedua bahunya. "Aku hanya mengingatkan."


"Oma belum pikun, Dev!"


"Dasar!" Oma Gendis menutup pintu kamarnya, meninggalkan Devan yang sudah kembali berdiri dengan kekehan di bibirnya.


Layaknya anak laki-laki normal pada umumnya, Devan sering bermanja kepada Oma Gendis. Karena hanya kepada wanita tua itulah Devan bisa menunjukan sikap aslinya.


Devan kembali melangkahkan kakinya menuju ke lantai atas dimana kamarnya berada. Devan sudah menormalkan ekspresi wajahnya, tidak ada lagi raut wajah yang barusan di tampilkan kepada Gendis. Yang ada hanya wajah dingin dengan sorot mata tajam, setajam elang yang sudah siap menerkam mangsa di hadapannya.


Hidup penuh ambisi dengan emosi yang mendominasi, membuat Devan jarang menampakan senyum manisnya di hadapan orang lain. Termasuk adiknya sendiri, Davin.


Devan yang mendidik Davin dengan begitu keras, itu sebabnya adik bungsunya itu memilih menetap di luar negri setelah selesai dengan pendidikannya.


Devan tidak keberatan dengan hal itu, karena nantinya Davin yang akan memegang kendali atas perusahaan peninggalan ayahnya yang sekarang diurus oleh pamannya, adik dari ayahnya.


***


Keesokan harinya, Devan dengan segala aktivitasnya menyempatkan berkunjung ke Coffee Shop tempat Bia bekerja.


Kasak kusuk mulai terdengar saat Devan pertama kali memasuki area Coffee Shop dan Devan tidak peduli sedikitpun dengan semua itu.


Siapa yang tidak mengetahui sosok Devan Addison, pewaris perusahaan raksasa dengan sejuta prestasi dan pencapaian yang sudah diraihnya di usia mudanya.

__ADS_1


Hal yang membuat heran semua orang yang ada disana adalah untuk apa seorang Devan yang terkenal dengan sosok mewahnya, berkunjung ke Coffee shop kecil seperti W-Coffee itu. Apalagi dengan beberapa bodyguard yang ikut mengawal kedatangan sang Billionaire muda tersebut.


Devan langsung menghampiri barista yang tengah bertugas, yang tidak lain adalah Bia sendiri. Wanita yang kurang dari dua minggu lagi akan segera menjadi istrinya.


"Bisa kita bicara?" ucap Devan langsung tanpa basa basi.


Bia yang tengah membuat daun di atas kopi langsung saja menoleh ke arah sumber suara.


"Sebentar," balas Bia yang kembali fokus pada pekerjaannya.


"Ck!" Devan berdecak kesal kepada Bia yang sudah dengan berani membuatnya menunggu.


'Beraninya dia!'


Tak berselang lama, Bia menyerahkan hasil karyanya kepada rekan kerjanya yang akan mengantarkan pesanan kepada meja pelanggan.


Dan kini kedua orang berbeda jenis itu sudah duduk di mobil mewah milik Devan lagi. Sepertinya laki-laki yang begitu menawan dengan setelan formalnya tidak suka berbicara di keramaian, maka dari itu memilih mobil sebagai tempat yang dianggapnya aman.


"Besok kita fitting baju," ucap Devan dingin.


"Ya, kebetulan besok aku libur," balas Bia.


"Aku tau!"


Bia mengerutkan keningnya mendengar kalimat yang barusan di ucapkan Devan, 'Darimana dia tau?"


Bia melupakan siapa sosok Devan yang bisa dengan mudah mendapatkan informasi, apalagi hal kecil seperti ini.


"Besok akan ada orang yang menjemput kamu ke rumah," ucap Devan lagi.


Bia menganggukan kepalanya, tanda setuju. Menolak pun dia bisa apa?


"Kamu boleh turun," ucap Devan datar, tanpa ingin melirik perempuan yang kini tengah menatapnya dengan tatapan kagetnya.


Bia langsung tersadar, kemudian mulai membuka pintu mobil mewah itu.


Devan memperhatikan perempuan muda dengan penampilan sederhananya, kaos putih lengan pendek, yang dipadukan dengan celana jeans berwarna telor asin dan sepatu yang sudah sedikit lusuh membungkus kedua kaki mungilnya.


"Apa dia memang berpenampilan seperti itu setiap hari?" tanya Devan dengan mata yang belum memutus kontak dengan punggung Bia yang mulai menjauh dari pandangannya.


"Itu karena apa yang Nona Bia miliki pasti akan dirampas oleh adiknya," balas Kean yang tengah duduk dibalik kemudi.


Devan mengerutkan keningnya, dengan senyum miring di bibirnya.


"Sangat menarik."

__ADS_1


Bersambung… 


__ADS_2