Sasaran Balas Dendam

Sasaran Balas Dendam
Misi, Ambisi dan Balas Dendam


__ADS_3

Bia terbangun dengan kantung kemih yang terasa penuh, buru-buru saja Bia beranjak dari posisi berbaringnya.


"Shhh!" Baru saja duduk, Bia sudah merasakan perih dan ngilu pada inti tubuhnya.


Begitu mengingat kejadian semalam, kedua pipi Bia langsung saja merona. Bia kini sudah menjadi wanita dewasa seutuhnya, bukan lagi gadis yang harus menjaga kesuciannya dengan segenap jiwa.


Semuanya sudah Bia serahkan pada laki-laki yang seharusnya mendapatkan semuanya.


Devan yang memiliki kepekaan tinggi langsung saja membuka matanya saat merasakan pergerakan disamping tempat tidurnya.


Devan yang biasa tidur sendiri tentu saja gampang terusik.


"Kenapa?" tanya Devan dengan suara serak khas bangun tidurnya.


"Em... tidak," balas Bia yang langsung saja menaikan selimut untuk menutupi tubuh bagian depannya.


"Kenapa di tutup, saya sudah melihat semuanya," balas Devan yang kembali memejamkan matanya lagi. Matanya masih sangat berat untuk dibuka.


"Ti-tidak," balas Bia semakin gugup. Bia tidak lupa siapa laki-laki yang saat ini tidur dengan tubuh polos di sampingnya.


Dia adalah Devan, laki-laki yang kemarin pagi mengucap janji suci dengannya untuk menjalani ikatan pernikahan. Laki-laki yang tadi malam sudah menggagahi dirinya dan mengambil sesuatu yang seharusnya diambil laki-laki yang menjadi suaminya.


Wajah Bia semakin memerah, rasa panas bahkan menjalar sampai ke telinganya. Bayangan kejadian tadi malam kembali menari di benaknya.


Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, Bia berusaha turun dari ranjang. Menahan perih dan ngilu pada area sensitifnya, juga rasa remuk di sekujur tubuhnya.


Bia tidak ingin Devan menyadari perubahan pada wajahnya. Bia tentu saja malu.


Devan yang melihat Bia ke kamar mandi setengah menyeret tubuh polosnya, langsung saja menyeringai.


Ada rasa puas yang sulit Devan ungkapkan dalam dirinya. Entah itu puas karena sudah menikahi Bia dan mengambil kesuciannya, atau puas karena Devan berhasil menjadikan Bia boneka hidupnya.


Masalah itu Devan sendiri bingung mendefinisikannya.


"Malang sekali nasibmu, Sayang. Harus masuk ke sarang harimau," gumam Devan tidak peduli.


Melihat Bia yang sepertinya kesusahan untuk sekedar berjalan, Devan sama sekali tidak ingin membantu Bia.


Bagi Devan, tersiksanya Bia merupakan suatu hal yang sangat menyenangkan.

__ADS_1


***


Siang harinya Devan membawa pulang Bia ke kediamannya.


Gendis yang lebih dulu pulang tentu saja menyambut kedatangan Devan dan cucu menantunya, Biandra.


"Selamat datang Sayang," sapa Gendis sambil merentangkan tangannya ke arah Bia.


Bia yang paham langsung saja masuk kedalam pelukan Gendis.


"Selamat atas pernikahan kalian, Oma senang sekali. Semoga pernikahan kalian menjadi yang pertama dan terakhir," ucap Gendis sambil mengusap punggung Bia.


"Amin, Oma." Hanya itu yang bisa Bia katakan, Bia sendiri tidak yakin dengan apa yang barusan Gendis katakan padanya.


Sementara Devan sendiri hanya mematung di belakang Bia. Sama sekali tidak ingin menimpali apa yang barusan dikatakan oma nya itu.


Baginya pernikahan yang sekarang dijalani hanya karena sebuah misi dan ambisi. Devan sama sekali tidak tertarik dengan yang namanya ikatan.


"Kalian sudah makan siang?" tanya Gendis.


"Sudah," balas Devan acuh.


Tapi itu sama sekali tidak membuat Devan gentar. Devan sudah biasa dengan perlakuan oma nya.


"Ya sudah, ajak Bia ke kamar. Kalian lanjutkan istirahatnya," ucap Gendis lagi.


"Kami permisi Oma," balas Bia dengan sopan saat sebelah tangan Bima merangkul pinggangnya, Bia langsung saja mengerti akan kode yang diberikan Devan kepadanya.


Gendis mengangguk, kemudian tersenyum saat menyadari cara jalan Bia. Perempuan tua itu tentu saja senang melihat Devan mendapatkan gadis suci yang masih murni.


Gendis menatap kepergian Devan dan Bia dengan senyum yang terus terukir di bibirnya. Sebagai orang tua tentu saja Gendis sangat bahagia melihat salah satu cucunya akhirnya mau menjalin ikatan rumah tangga setelah 34 tahun umurnya hidup di bumi.


"Semoga kamu bisa kembali seperti dulu, Dev. Oma sangat merindukan kamu yang dulu," kata Gendis pelan.


"Kamu kembali menjadi Devan yang dulu, Oma bisa pergi dengan tenang jika waktunya sudah tiba."


Terlepas dari apa yang akan Devan lakukan dengan pernikahannya. Gendis hanya berharap dengan kehadiran Bia di sampingnya, Devan bisa berubah dan melupakan ambisinya selama ini.


"Kamu bebas melakukan apapun di sini, anggap saja ini rumah kamu sendiri dan satu lagi, ingat apa yang harus kamu lakukan. Sesuai apa yang kita sepakati waktu itu," ucap Devan dingin begitu tiba di kamarnya.

__ADS_1


Bia hanya menganggukan kepalanya saja. Tentu saja Bia tidak lupa dengan syarat yang diberikan Devan kepadanya.


"Tidurlah, istirahatkan dirimu." Selesai berkata begitu Devan langsung saja meninggalkan Bia tanpa menunggu jawaban yang memang tidak akan keluar dari bibir Bia.


Devan langsung saja menuju ke ruang kerja. Suara dentuman pintu yang tertutup menandakan si pemilik ruangan masuk dengan perasaan kesal dan emosi yang memuncak.


Satu buah anak panah melesat dan kembali mengenai foto yang sama.


"Aku bisa saja langsung memusnahkan kalian semua dari muka bumi ini, tapi kematian bukan hal aku inginkan!" Sorot mata Devan memancarkan amarah yang begitu tinggi.


"Aku tidak akan membiarkan kalian mati dengan mudah!"


Urat-urat di keningnya menegang dengan gigi yang saling beradu.


Sorot mata yang begitu tajam, layaknya seekor elang yang hendak memangsa seekor anak ayam.


Kebahagian yang kemarin Devan tampilkan di hadapan banyak orang nyata hanya sandiwara belaka.


"Kamu sudah jadi milikku, Sayang. Bersiaplah untuk menjadi ujung tombak dari semuanya," gumam Devan dengan suara dalam dan penuh penekanan.


Rasa simpati dan penasaran akan sosok Bia yang tadi malam Devan rasakan begitu melihat wajah tenang Bia dalam lelapnya, kini berganti kembali dengan misi sekaligus ambisi yang memang ingin Devan lancarkan.


Misi, ambisi dan balas dendam, semuanya sudah Devan rencanakan dengan matang dan sempurna.


18 tahun bukan waktu yang sebentar untuk Devan.


"Dinda Amelia Subagja," gumam Bima sambil menerawang. "Anak manja, gemar foya-foya, hobi dugem. Apalagi adik ipar kebiasan kamu yang lainnya?" tanya Devan dengan seringai lebar di bibirnya.


Di bawah temaram ruang kerja Devan yang gordennya sengaja dibiarkan tidak terbuka dan juga lampu utama yang tidak dinyalakan, seringai Devan terlihat sangatlah menyeramkan.


Untung saja tidak ada yang melihatnya.


Namun, hanya butuh hitungan detik untuk Devan bisa merubah raut wajah itu kembali datar dan dingin seperti semula. Sorot mata Devan juga kembali tegas.


Devan merogoh saku celananya, meraih benda pipih yang memang sedari tadi tersimpan disana.


"Cari tahu informasi lengkap mengenai Biandra dan juga Amel, kemana malam tadi gadis itu menghilang!" Selesai berkata begitu, tanpa menunggu balasan dari orang yang dihubunginya, Devan langsung saja memutus sambungan teleponnya secara sepihak.


"Kita lihat misteri apa lagi yang belum terpecahkan?!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2