Sasaran Balas Dendam

Sasaran Balas Dendam
Merasa Dihargai


__ADS_3

Devan menjemput Bia ke hotel setelah pulang kerja, untuk menghemat waktu, pikirnya. Devan juga sudah menghubungi Bia untuk segera bersiap dan ternyata perempuan muda itu sudah menunggu di lobby saat mobil mewah Devan tiba di pelataran hotel.


Bia langsung saja bergegas memasuki mobil mewah itu setelah Kean membukakan pintu mobil untuknya, Bia merasa tidak nyaman dengan tatapan orang-orang di sekitarnya yang tengah berlalu lalang di area tersebut.


Apalagi saat Bia memasuki mobil mewah yang sudah diketahui siapa pemiliknya, siapa lagi kalau bukan pemilik Addison Grup yang selalu dikawal oleh beberapa bodyguard yang mengikutinya di dalam mobil van yang berwarna senada dengan mobil yang ditumpangi Devan.


Bia duduk dengan kikuk di samping Devan, sungguh ekspresi laki-laki itu susah sekali di tebaknya. Kadang berwajah malaikat tapi lebih sering berwujud iblis.


Seperti saat ini, Bia merasakan bulu-bulu halus di tubuhnya meremang.


'Kuatkan aku,' batinya seraya melirik Devan yang tengah memandang lurus ke depan dengan aura yang… menyeramkan.


'Ada apa dengannya?' tanya Bia lagi hanya mampu dalam hati.


Sementara Devan sendiri entah kenapa kesal saat melihat Bia berdiri di depan lobby hotel dengan gaun yang tadi siang di belikan, padahal Devan memilihkan gaun yang tertutup tapi tetap saja kenapa begitu menunjukan seluruh lekuk tubuhnya.


Apalagi bagian belakang yang terlihat sintal dan bagian depan yang sangat padat, sangat menggoda sekali, pikirnya.


"Oh, ****!" makinya pelan, kenapa di saat seperti ini jiwa kelelakiannya harus tergugah.


Hanya melihat lekuk tubuh dari balik gaun hitam saja dirinya sudah meronta begini bagaimana kalau … 


'Ini gila!' maki Devan dalam hati.


"Kenapa?" tanya Bia dengan ragu, apalagi saat melihat wajah Devan yang memerah.


Devan berdehem untuk menormalkan dirinya. 


"Tidak," jawabnya singkat.


Sementara di bangku depan, tepatnya di samping sopir. Kean melirik Devan dari spion tengah, Kean tau Devan tengah menahan dirinya. Terbukti dari wajahnya yang tegang dan merah, juga dari duduknya yang terlihat gelisah.

__ADS_1


'Ini pemandangan langka,' batinnya seiring dengan senyum tipis yang hanya sesaat melintas di bibirnya.


"Kamu sakit?" tanya Bia dan dengan berani meraba kening Devan. "Wajah kamu sangat merah, tapi kening kamu tidak panas. Suhu tubuh kamu normal," cerocos Bia yang tidak hanya meraba kening Devan, tetapi juga sekitar leher dan telapak tangannya.


Devan menggeram dalam hati melihat tingkah spontan Bia, entah polos atau bodoh yang pasti Devan sangat tersiksa dengan situasi ini.


'Dua hari lagi, Dev, dua hari lagi. Perempuan ini akan menjadi milik kamu seutuhnya.'


Padahal jika Devan mau dirinya bisa saja melakukan hal itu sekarang, cukup dengan memberikan sedikit ancaman dan juga tekanan, maka Bia akan menuruti setiap perkataannya dan keinginannya dengan mudah apalagi menyangkut perusahaan ayahnya.


Tapi entah apa yang terjadi padanya, Devan tidak ingin melakukannya sebelum Bia sah menjadi istrinya.


"Aku tidak apa-apa," balas Devan dengan meremas jari tangan Bia, membuat perempuan yang semula panik membulatkan matanya karena merasa kaget saat jari mungilnya sudah digenggam dengan erat oleh telapak tangan yang besar dan begitu hangat.


Merasakan kehangatan dan kenyamanan dari genggaman tangan Devan, Bia malah merasa takut. Takut kalau dia akan larut dalam pesona laki-laki yang sebentar lagi berubah status menjadi suaminya, Bia takut kalau Devan hanya menginginkan tubuhnya saja. Apalagi kabar dan berita tentang Devan yang selalu bergonta ganti pasangan setiap malamnya tiba di telinga Bia. Benerapa hari lalu, tentu saja Amel yang memprovokasinya.


Bia ingat betul perkataan panjang lebar Amel waktu itu, "Sayang sekali kamu harus menjadi tumbal, menikah dengan laki-laki yang memiliki gelar casanova di kalangan para pebisnis. Aku heran dosa apa di masa lalu kamu sehingga kamu harus menanggung penderitaan di masa sekarang, aku tidak yakin hanya kamu satu-satu perempuan yang akan menghangatkan ranjang Tuan Devan. Karena setahu aku, Tuan Devan setiap malam selalu ditemani perempuan yang berbeda. Kamu hanya beruntung karena dia mau menikahi kamu saja."


Memutuskan menikahi Bia ternyata bukan pilihan yang tepat, terlalu banyak teka teki yang belum terpecahkan. Apalagi sosok Bia yang sangat jauh sekali dari statusnya.


Seharusnya seorang anak dari pengusaha yang bergerak di bidang usaha pangan memiliki fasilitas yang baik. Tapi Bia, bahkan sepeda motor saja dia tidak punya. Devan berani bertaruh kalau perempuan yang kini dia genggam tangannya tidak bisa mengendarai motor ataupun mobil.


"Apa Oma yang mengadakan jamuan makan malam ini?" tanya Bia tiba-tiba memecah kecanggungan yang tercipta.


"Tidak."


"Lalu?"


"Adik saya baru tiba dari Amerika dan dia menyuruh saya pulang tepat waktu dan makan malam bersama di rumah."


Itu artinya… 

__ADS_1


"Kenapa aku juga di ajak?" tanya Bia penasaran. Karena dari penjelasan Devan barusan, makan malam ini jelas khusus untuk keluarga saja.


"Dia harus mengenal sosok kakak iparnya juga," balas Devan lugas.


Semburat merah menghiasi wajah cantik Bia. Entah kenapa dia merasa tersanjung dan juga merasa dihargai. Hal yang tidak dia dapat dari keluarganya, bahkan ayahnya sendiri tidak pernah mengenalkan Bia sebagai putri sulung dari keluarga Subagja.


Tapi bersama Devan, laki-laki yang belum lama ini dikenalnya. Bia merasa diperlakukan layaknya manusia pada umumnya. Awalnya Bia mengira Devan akan merahasiakan pernikahan mereka, tapi melihat undangan mewah yang saat itu Bia lihat dan juga hotel mewah yang sudah disewa Devan, Bia semakin yakin kalau Devan akan memperkenalkan Bia pada dunia sebagai istrinya.


Haruskah Bia senang untuk hal ini?


"Kamu gugup?" tanya Devan.


Bia menggelengkan kepalanya.


"Baguslah, istri seorang Addison harus tegar dan pemberani." Tangan Devan spontan terulur dan membelai lembut pipi mulus Bia. Menciptakan getaran halus di tubuh keduanya.


Bia membalasnya dengan senyum kikuk di bibirnya dan Devan langsung menarik tangannya, kembali berdehem untuk menetralkan suasana jantungnya.


Lagi dan lagi, Kean di bangku depan tersenyum samar saat melihat perlakuan Devan kepada Bia yang tidak biasa. Berbeda dengan perlakuan Devan kepada wanita yang selalu menggodanya, mendekati dirinya dengan maksud tertentu. Untuk uang dan popularitas tentunya.


"Kita sudah sampai, Tuan," ucap Kean.


Dengan cepat Kean turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Devan dan setelah Devan keluar, Kean langsung membukakan pintu untuk Bia.


"Ayo." Devan mengulurkan tangannya ke arah Bia. "Jangan tanggapi apapun yang nanti akan diucapkan adik gila saya."


"Hah, gila?" pikiran Bia langsung saja memikirkan pasien yang dirawat di rumah sakit jiwa.


"Bukan gila dalam kontes itu, Biandra!" bisik Devan membuat Bia kembali meremang.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2