
"Ck! Katanya mau nikah, masih aja sibuk kerja!"
Devan mengangkat pandangannya yang sebelumnya fokus pada tumpukan dokumen yang ada di meja kerjanya.
Mata tajam itu menatap nyalang ke arah seseorang yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu itu dan dengan gaya santainya berjalan ke arah meja kerjanya tanpa wajah berdosa sedikitpun.
"Lihat aku nya biasa aja, gak usah kaya lihat setan gitu!" ucapnya lagi santai seraya menjatuhkan bokongnya ke atas kursi yang ada di seberang meja kerja Devan.
"Ck!" Devan berdecak malas, kemudian melanjutkan pekerjaanya lagi tanpa ingin menimpali perkataan orang yang tengah duduk dengan santai di hadapannya.
Pernikahan mewah yang akan diselenggarakan dua hari lagi, tapi pengantin prianya masih saja bergelut dengan tumpukan pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini juga.
"Mana Jazlyn?" tanya Devan tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kau bertanya kepada ku?"
"Berhenti basa-basi-"
"Aku tidak suka!" Davin memotong perkataan Devan.
Davin adik dari Devan itu baru saja tiba di tanah air bersama sang kekasih, Jazlyn. Tapi Jazlyn langsung pulang ke rumah, sedangkan Davin sendiri langsung menemui kakaknya yang menurut informasi yang didapatnya, sang kakak sedang berada di kantor dan ternyata benar saja, laki-laki gila kerja itu tengah fokus dengan dokumen-dokumen di mejanya.
Devan menegakan punggung, kemudian menyandarkannya dengan mata yang kembali menatap ke arah sang adik.
"Aku bukan anak kecil lagi, Kak," rengek Davin yang kembali ditatap dengan tajam oleh Devan, kakaknya.
"Kamu tidak akan pernah berubah di mata Kakak," balas Devan dengan kedua tangan saling menaut dan diletakkan di depan dagunya.
Davin mendengus mendengar perkataan kakak laki itu, satu-satunya saudara kandung yang dia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
'Selalu saja,' batin Davin. "Jadi kenapa Kakak tiba-tiba mau menikah? Tidak ada insiden bukan?" tanya Davin sambil tersenyum meremehkan ke arah sang kakak.
Devan semakin menatap nyalang ke arah adiknya yang tengah memasang wajah masa bodo. Davin sudah kebal dengan sikap kakaknya, kecuali kalau dia sedang melakukan kesalahan.
"So?" tanya Davin lagi sambil menggoda kakaknya.
__ADS_1
"Tidak ada insiden apapun," balas Devan malas, tangannya sudah berpindah berlipat di dadanya.
"Kata Oma ini pernikahan bisnis."
"Ck! Kalau sudah tau kenapa harus bertanya? Buang-buang waktu saja!" pungkas Devan.
"Oke, oke!" Davin mengangkat kedua belah tangannya, dengan senyum mengejek tak surut di bibirnya. "Biandra Amalia Subagja, nama yang cantik secantik orangnya. Tapi sayang nasibnya malang, semakin malang lagi karena harus masuk ke dalam pelukan dewa kematian," lanjut Davin dengan terbahak.
"Sialan!" Devan melempar pulpen yang ada di depannya. 'Separah itukah julukan orang-orang kepada saya?' lanjut Devan dalam hati.
Sementara sang adik semakin tergelak saat berhasil memojokkan sang kakak, siapa suruh berwajah bengis dan sinis. Davin tau wajah itu hanya topeng belaka.
Diam-diam Davin juga menyelidiki sosok perempuan yang akan menjadi kakak iparnya nanti, setelah waktu itu Gendis memberitahunya perihal pernikahan kakaknya.
Davin ingin kakaknya memiliki perempuan yang benar-benar bisa merubah sosoknya, mengembalikan sosok kakaknya yang hangat dan penuh kasih sayang dan menurutnya Bia masuk ke dalam kriteria itu, walaupun umurnya jauh dibawah Devan dan juga dirinya.
Davin benar-benar menaruh harapan besar akan hal itu.
"Apa kamu akan terus melamun disini?" tanya Devan dengan sinis.
Devan mengangkat satu alisnya, kemudian tersenyum menyeringai. "Maksud kamu?"
"Aku pulang, jangan lupa pulang pas makan malam. Aku tunggu!" Davin bangkit dari duduknya, dia malas meladeni Devan yang sudah menunjukkan seringainya. "Bersikaplah sedikit hangat, perempuan tidak suka sama laki-laki dingin, kaku dan berwajah bengis."
Devan mendengus mendengar kalimat terakhir adiknya. "Sejak kapan kamu jadi cerewet seperti Oma?"
"Sejak sekarang sampai seterusnya," balas laki-laki yang masih mengenakan long coat berwarna hitam dan sudah menghilang di balik pintu berwarna coklat di ruangan itu.
Sejenak Devan tertegun dengan perkataan adiknya barusan. 'Apa iya aku terlalu dingin dan kaku?' tanyanya dalam hati.
Selama ini wajah kaku dan datarnya memang selalu berhasil membuat lawannya kalah dan itu selalu dimanfaatkan di setiap momen dan kesempatan.
Dan barusan apa kata adiknya? Dia harus merubahnya, perempuan tidak suka dengan sikapnya itu. Bukankah selama ini tidak ada perempuan yang mempermasalahkannya, bahkan tak jarang perempuan yang dengan sukarela menghangatkan ranjangnya tanpa mempermasalahkan ekspresi wajahnya?
'Semuanya hanya masalah uang.' Devan tidak suka dengan itu, Devan merasa muak dengan perempuan yang baginya semua perempuan sama saja. Hanya menginginkan uangnya saja.
__ADS_1
Beberapa waktu ini Devan selalu mempertimbanhkan penilaian Gendis terhadap Bia, katanya Bia gadis yang berbeda.
'Apa iya?'
Bagi seorang yang menilai orang lain hanya dengan sebelah mata seperti Devan tentunya akan sulit percaya begitu saja. Apalagi Devan yang sudah menyamaratakan perempuan sesuai dengan penilaiannya sendiri.
Niat hati akan fokus bekerja, menyelesaikan pekerjaan yang nanti akan dia tinggalkan untuk beberapa hari kedepan. Nyatanya Devan malah mengerang frustasi, pikirannya tidak fokus. Bayangan Bia kembali melintas di benaknya, apalagi tadi malam perempuan itu menangis tersedu-sedu di telepon.
Katanya gaun pernikahan yang akan dikenakan nanti dirusak oleh adiknya.
Devan sedikit bingung, bukannya perempuan itu terlihat tidak antusias dengan pernikahan ini, sama seperti dirinya. Tapi mengapa harus bersedih karena masalah gaun saja? Itu masalah sepele, tidak perlu di tangisi. Hanya perlu pergi ke butik dan masalah akan selesai.
'Dasar perempuan, ribet!'
"Argh!" erang Devan sambil meraih gagang telepon yang ada di meja kerjanya. "Kean selesaikan pekerjaan saya, saya ada urusan," ucapnya lantas dengan kasar meletakkan kembali gagang telepon itu di tempatnya.
Devan bangkit dari duduknya dan dengan langkah tergesa meninggalkan ruangannya.
"Tuan?" sapa Stevani yang hendak masuk ke ruangan Devan.
Dengan isyarat matanya Devan bertanya ada apa.
"Berkas yang anda minta Tuan." Stevani menyodorkan map berwarna merah di tangannya ke arah Devan.
"Simpan saja, saya ada urusan di luar." Tanpa menunggu balasan Stevani, Devan langsung saja melenggang pergi dengan dagu yang terangkat. Ciri khas Devan yang arogan.
Stevani memandang punggung kekar yang berjalan ke arah lift yang langsung disambut oleh security yang berjaga di lantai itu.
Perempuan dengan pakaian ketat dan kurang bahan itu, menghembuskan nafasnya kasar. Usahanya waktu itu ternyata tidak cukup untuk menarik simpati Devan yang sangat digandrungi oleh para kaum perempuan, tidak peduli dengan tingkat kesombongan dan keangkuhan dari seorang Devan.
Devan benar-benar sosok yang sulit di gapai dan Stevani mengakui itu.
Tangan perempuan itu terkepal dengan erat di bawah meja kerjanya saat mengingat laki-laki yang menjadi atasannya itu akan menikah beberapa hari lagi.
Bersambung…
__ADS_1