
Amel berjalan dengan begitu santai di salah satu lorong hotel yang tidak terlalu terkenal ibukota, ini bukan kali pertama Amel datang ke tempat seperti ini seorang diri.
Amel berjalan tanpa melirik ke arah kiri maupun kanan. Tubuhnya yang cukup berisi membuat Amel terlihat begitu menawan dari arah belakang. Paras gadis berusia 18 tahun itu juga cukup cantik apalagi kalau ditambah dengan attitude yang baik.
"Sayang, kamu lama banget sih? Aku udah gak tahan ini." Haris yang menyambut kedatangan Amel langsung saja meraih tengkuk kekasihnya dan tanpa aba-aba langsung menempelkan bibirnya.
"Ish sabar dong!" protes Amel sambil mendorong dada Haris.
"Kamu kok gitu sih, Sayang? Aku kan udah nungguin kamu lama." Haris sedikit merajuk.
"Gara-gara siapa aku mabuk semalam?" tanya Amel sedikit sewot. Apalagi saat mengingat tadi di rumah dirinya kena omel dari Lisa karena ketahuan habis mabuk.
"Kan kamu sendiri Sayang yang mau nyobain. Aku kan udah larang kamu, loh," kata Haris yang tentu saja tidak ingin disalahkan oleh Amel.
"Iya, iya, aku yang mau kamu cuma nurutin aja." Tentu saja Amel tidak bisa melihat Haris merajuk, karena gadis yang baru saja lulus dari sekolah menengah atas itu terlanjur cinta mati pada laki-laki yang saat ada di hadapannya.
"Sayang aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ucap Haris sambil membawa tubuh Amel duduk di tepi ranjang kamar hotel yang sudah di booking nya.
"Aku kan bulan depan sudah mulai kuliah ya, universitas aku lumayan jauh dari sini. Niatnya aku mau sewa apartemen aja dekat lokasi kampus, biar kalau kita mau ketemuan bakalan aman. Soalnya kan lokasi kampus aku jauh dari rumah sama perusahaan ayah kamu." Haris mulai melancarkan aksinya.
"Aku dong yang jauh nantinya," protes Amel lagi.
"Kamu kan ada mobil Yang. Gampang loh kalau mau ke apartemen, aku ini baru rencana loh. Aku kan nunggu persetujuan dari kamu dulu." Haris dengan penuh perhatian mengelus rambut Amel yang saat ini sudah dicat dengan warna pirang.
"Apa kamu nggak mau lanjutin kuliah? Satu kampus sama aku, kalau gitu kan kita bisa sama-sama setiap hari," bujuk Haris.
Amel memutar bola matanya malas. Entah harus berapa puluh kali dirinya menjelaskan kepada Haris kalau saat ini dirinya ingin dulu berhenti memikirkan yang namanya pelajaran. Amel ini ingin menikmati masa bebasnya terlebih dahulu.
"Aku tahun depan aja lah daftar kuliahnya," balas Amel singkat cenderung malas.
"Ya, udah deh kalau itu keputusan kamu, aku nggak bisa maksa. Masalah apartemen tadi gimana, kamu setuju gak sama usulan aku?"
"Tentu aku setuju dong, asal kita berdua ama. Aku nggak masalah," balas Amel sambil mengalungkan kedua tangannya pada leher Haris.
"Tapi kamu bantuin uang sewanya ya. Kan kamu tahu sendiri jatah aku dari orang tuaku berapa, belum lagi Aku kan belum punya pekerjaan."
"Masalah itu kamu tenang aja, nggak usah dipikirin. Yang penting kita senang dan sekarang kita senang-senang," balas Amel sambil mendorong tubuh Haris, kemudian dengan gerakan cepat Amel sudah berada di atas tubuh Haris.
*
Langkah lebar Devan langsung saja membawa tubuhnya ke kamar miliknya yang ada di lantai dua kediaman megah milik Gendis.
Walaupun tidak banyak perubahan dalam diri Devan, tapi sepertinya kepulangannya ke rumah kini ada tujuan dan tidak seperti beberapa waktu ke belakang. Pulang ke rumah Devan hanya untuk tidur dan mengerjakan sisa pekerjaannya.
__ADS_1
"Kamu sudah pulang?" sambut Bia yang semula sedang menonton televisi di kamar.
Devan hanya mengangguk samar, kemudian memberi kode kepada Bia untuk membantunya melepaskan jas yang hampir seharian membalut tubuh atletisnya.
"Kamu tunggu sebentar, aku siapin dulu air mandinya," kata Bia yang belajar memposisikan diri sebagai seorang istri yang baik yang melayani suaminya dengan begitu telaten.
Devan membiarkan Bia berlalu ke kamar mandi dengan sedikit senyuman yang terlihat samar di bibirnya.
Entah apa yang saat ini ada dalam pikiran Devan yang pasti Devan merasa kalau saat ini dirinya memiliki mainan yang bisa menghilangkan rasa penatnya setelah seharian bergelut dengan pekerjaannya.
"Aku tidak sabar melihat reaksi ibu kamu begitu melihat fakta-fakta tentang anak kesayangannya." Sorot mata Devan menatap pintu kamar mandi dengan tatapan begitu nyalang, kedua tangan Devan yang berada di sisi tubuhnya terkepal dengan begitu erat.
Rasanya tidak puas hanya menikahi Bia saja, karena ternyata Bia tidak terlalu mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya.
Seringai kembali menghiasi bibir Devan seiring dengan langkah kakinya menuju ke kamar mandi. Tentunya untuk menyusul wanita yang sudah sah menjadi istrinya.
"Aaaaa!" pekik Bia saat Devan mendorongnya ke dalam bathtub yang sudah terisi penuh oleh air.
"Devan!" pekik Bia lagi, wajahnya sedikit memucat saat tubuhnya keluar dari dalam air.
"Kenapa?" tanya Devan santai, seolah apa yang barusan dilakukannya bukan sesuatu yang membahayakan.
Bia hendak keluar dari dalam bathtub tapi Devan lebih dulu menahan tangannya dan kembali membawa dia masuk ke dalam bathtub.
"Temani saya mandi dan mari bersenang-senang sebentar."
"Dev..." Bia hendak protes, tapi bibir Devan lebih dulu membungkam bibir Bia yang hendak protes.
Tentu saja Bia hanya bisa pasrah mengikuti semua permainan yang Devan lakukan bersamanya, menolak pun tidak ada gunanya. Karena Devan pasti akan mengeluarkan jurus pamungkas yang selalu membuat Bia kalah dan tak bisa berkata-kata.
Setelah hampir satu jam lebih keduanya menghabiskan waktu di kamar mandi, Devan keluar dengan Bia yang berada di dalam gendongannya.
"Menyusahkan saja!" kata Devan sambil berdecak.
Bia berusaha tidak memperdulikan perkataan Devan barusan, Bia memilih menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Besok pagi Davin akan kembali ke Amerika, kalau kamu mau ikut mengantarkan ke bandara. Besok pagi siap-siap," kata Devan setelah selesai menggunakan pakaiannya.
Bia mengangguk pasrah, tubuhnya lemas membuat bibirnya enggan untuk berkata-kata. Walaupun cuma sebatas mengucapkan kata iya saja.
Devan melenggang pergi keluar dari kamar meninggalkan Bia begitu saja seorang diri, setelah Devan tadi menggempur Bia tanpa ampun di kamar mandi.
"Mana Bia?" tanya Gendis yang tidak melihat keberadaan cucu menantunya.
__ADS_1
"Tidur," balas Devan singkat.
"Jangan berlebihan Kak, kasihan kakak ipar," sahut Davin.
"Ck!" Devan berdecak dan memilih mengabaikan perkataan adiknya barusan, sementara Gendis dengan sibuk berbincang dengan Jazlyn. Setelah barusan hanya tersenyum simpul menanggapi jawaban dari Devan.
Keempat orang itu makan malam dengan tenang diselingi dengan obrolan Gendis dengan Jazlyn.
"Oma harap kalian segera memikirkan masa depan kalian dengan serius. Vin, kakak kamu sudah menikah, sekarang giliran kamu meresmikan hubungan dengan Jazlyn."
Davin yang mendengar perkataan Gendis barusan hanya diam tanpa berani menanggapi perkataan sekaligus permintaan dari Omanya. Begitu juga dengan Jazlyn yang melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Davin. Sebab sekali lagi, keduanya belum memikirkan ke arah yang lebih serius. Apalagi di sana, di negara asal Jazlyn hubungan bebas bukanlah suatu masalah besar.
"Kakak harap kalian mau mempertimbangkan apa yang barusan Oma usulkan." Devan ikut menimpali, membuat Davin dan Jazlyn kompak saling lirik.
*
Devan kembali ke kamar dengan diikuti satu pelayan yang membawa sebuah nampan berisi makan malam untuk Bia.
"Sampai sini saja," balas Devan singkat. Kemudian mengambil alih nampan yang ada di tangan pelayan rumahnya.
Devan menghembuskan nafasnya, sepanjang sejarah Devan baru pertama kali melayani perempuan dan sialnya perempuan yang saat ini di layaninya tak lain adalah wanita yang sudah sejak lama Devan incar, untuk dijadikan penuntas atas hasr*t balas dendam yang sudah lama di pendamnya.
Rahang Devan mengeras saat melihat wajah tenang Bia dalam tidurnya. Sisi jahatnya memerintahkan Devan untuk melenyapkan Bia dalam lelapnya.
"Sial!" gumam Devan yang hampir saja menuruti bisikan jahatnya.
"Kamu tidak boleh mati dengan mudah, aku belum bosan denganmu sekaligus tubuhmu ini," lanjut Devan sambil memindai wajah Bia.
Devan mengukung tubuh Bia yang masih terlelap, wajahnya langsung saja diposisikan di sebelah telinga Bia.
"Biandra," bisik Devan. "Bangun makan malam dulu."
Bia tentu saja terusik, apalagi saat merasakan hembusan nafas Devan mengenai daun telinganya.
"Bangun, makan malammu sudah saya bawakan. Kamu mau makan atau mau saya makan?"
Bia langsung saja membuka matanya lebar-lebar dan dengan cepat mengumpulkan kesadarannya.
Bia belum siap harus jadi santapan singa lapar yang saat ini masih mengukung tubuhnya.
"Gadis baik, ayo bangun. Makan dan persiapkan diri kamu untuk sesi kedua," bisik Devan lagi yang membuat Bia langsung menelan ludahnya dengan kasar.
Bersambung...
__ADS_1