Sasaran Balas Dendam

Sasaran Balas Dendam
Cara Bia


__ADS_3

Setelah lulus sekolah bukannya bersiap untuk mendaftar ke universitas, Amel malah sering membuat Lisa kelimpungan sendiri di rumah, seperti malam ini misalnya. Anak gadisnya susah sekali dihubungi padahal jam dinding sudah menunjukkan angka 9 malam.


"Mel kamu kemana sih? Jangan buat Mamah khawatir begini," monolog Lisa sambil terus mengirim pesan untuk Amel. Sayangnya pesan yang dikirimkan Lisa hanya bercentang satu.


"Yah, Amel kemana ya jam segini belum pulang juga. Mamah khawatir banget." Lisa berusaha menghampiri suaminya yang sedang bersantai di kamar.


Doni kembali santai seperti semula setelah pernikahan Bia dengan Devan, karena tentunya perusahaannya kembali stabil seperti sedia kala. Walaupun masih berada di bawah tinjauan Badan pengawas Obat dan Makanan.


Laki-laki paruh baya itu sontak menghembuskan nafasnya saat mendengar rengekan sekaligus keluhan yang keluar dari bibir istrinya.


"Bukannya Amel biasa keluyuran gak jelas?" tanya Doni, sama sekali tidak menghiraukan keluhan istrinya.


"Yah, Ayah kok gitu sih? Gak khawatir apa sama Amel?" tanya Lisa, perempuan itu hampir saja menangis.


"Aku hanya khawatir Amel buat malu keluargaku saja!" Sinis dan sarkas. Kalimat Doni barusan tentu saja menggores hati Lisa begitu dalam.


'Kamu tidak berubah Mas!' jerit Lisa dalam hati.


"Pastikan pergaulan Amel tidak melampaui batas, kalau sampai itu terjadi kamu tahu akibatnya apa Lisa!" lanjut Doni bagaikan sebuah hantaman susulan yang mengenai hati Lisa.


"Mas Kamu kenapa sih tidak pernah bisa menerima Amel sebagai anakmu, kamu selalu saja cuek kepadanya. Tidak peduli kepadanya?" cecar Lisa yang kali ini tidak bisa mengontrol emosinya di hadapan Doni.


"Jangan lupakan satu kenyataan Lisa, kamu juga jangan lupa kalau selama ini perlakuan kamu pilih kasih terhadap Bia. Aku rasa Aku tidak salah karena aku adil memperlakukan Bia dan Amel."


Mendengar perkataan Doni yang begitu enteng membuat Lisa semakin tidak tahan dan memilih meninggalkan suaminya di kamar. Lisa kembali menghubungi Amel, namun hasilnya masih sama. Tidak ada satupun balasan yang dikirimkan Amel kepadanya.


"Amel kamu kemana sih?!" tanya Lisa.


Jangankan bisa tidur, bisa tenang saja Lisa tidak. Hari semakin larut tapi Amel belum kembali sama sekali.


Lisa sedari tadi terus saja mondar-mandir dari ruangan tengah ke ruangan tamu, dari ruangan tamu kembali ke ruangan tengah. Berharap Amel segera pulang atau setidaknya membalas pesan yang sudah banyak dia kirimkan.


Pukul dua dini hari pintu rumah terbuka, menampilkan sosok Amel yang begitu berantakan. Cara berjalan gadis yang baru saja lulus SMA itu juga sempoyongan.


Tapi sepertinya gadis itu masih memiliki kesadaran karena berjalan sedikit mengendap-endap, layaknya seorang maling yang takut ketahuan. Tidak tahu saja sedari tadi Lisa terus mengamati penampilannya.


"Dari mana kamu?" bentak Lisa.


"Ma-mamah." Amel gelagapan di tengah sisa kesadarannya.

__ADS_1


"Mamah tanya kamu dari mana?" ulang Lisa sambil menghirup aroma menyengat yang keluar dari mulut Amel. "Kamu mabuk?"


"Aku cuma minum dikit kok, Mah, ini aja dipaksa sama teman-teman. Kan aku lagi ngerayain kelulusan sama mereka," elak Amel.


"Ayo naik!" Lisa menarik paksa sebelah tangan Amel.


Amel yang berada di bawah pengaruh alkohol tentu saja kewalahan dalam mengimbangi langkah ibunya itu.


*


"Kamu belum tidur?" tanya Bia pada Devan yang masih mengutak atik ponselnya.


Devan hanya melirik Bia sekilas dengan tatapan malasnya. Menurutnya pertanyaan Bia barusan tidak perlu dirinya jawab.


"Kenapa belum tidur?" tanya Bia yang baru saja kembali dari kamar mandi.


Satu minggu menjadi istri Devan, Bia memang tidak mengamati jam tidur suaminya itu, karena dirinya lebih dulu terlelap setelah digempur oleh suaminya.


"Saya punya insomnia parah," balas Devan singkat bahkan tatapannya sedikitpun tidak teralihkan dari layar ponsel yang saat ini sedang dipegangnya.


Bia yang mendengar perkataan Devan barusan langsung saja meraih benda pipih yang sedari tadi terus diperhatikan Devan.


"Ayo tidur," ajak Bia tanpa menghiraukan protes Devan barusan, Bia sudah bisa beradaptasi dengan sikap suaminya yang memang kerap kali sulit ditebak.


Sejauh ini walaupun sikap Devan ketus dan juga acuh kepadanya, tapi setidaknya Devan tidak melakukan kekerasan kepadanya.


Walaupun Bia tahu Devan menikahinya karena sebuah bisnis saja, bisa dikatakan dirinya juga menjadi jaminan entah penebus hutang yang diberikan kepada ayahnya. Tidak ada cinta di dalam rumah tangga yang baru satu minggu keduanya jalani dan Bia tidak berharap Devan mencintainya.


Menurut Bia perlakuan Devan yang baik kepadanya itu sudah lebih dari cukup. Apalagi dengan adanya Gendis yang memperlakukan dirinya jauh lebih baik daripada Devan. Bia sudah sangat bersyukur dengan hal itu.


"Mau apa kamu?" tanya Devan saat Bia menarik sebelah lengannya.


Belum reda kekesalan Devan karena Bia mengambil paksa ponselnya, kini Bia juga dengan berani menarik sebelah tangannya.


"Bobo sini." Bia menepuk pangkuannya.


Devan masih saja menatap Bia dengan sedikit tajam.


"Ayo," ajak Bia lagi. Walaupun tidak yakin, tapi Bia penasaran ingin mencobanya.

__ADS_1


Devan menurut tapi ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah dan Devan juga sudah tidak memperdulikan Bia yang tidak takut ataupun merasa terintimidasi dengan tatapan tajamnya.


Bia melingkarkan tangan Devan ke pinggangnya, memaksa laki-laki dingin itu supaya menghadap ke arah perutnya dan memeluk pinggangnya.


Walaupun sempat mendapatkan penolakan tapi Bia tetap memaksa Devan untuk mengikuti arahan darinya.


"Kamu bukan ahli terapi," protes Devan.


"Coba aja," kekeh Bia.


"Awas jangan aneh-aneh!" peringat Devan.


"Nggak, kok. Gak ada salahnya mencoba kan?" tanya Bia.


"Hem."


Devan mengalah, lebih tepatnya tidak ingin melayani ocehan Bia yang mulai berani kepadanya..


Bia mulai menyisir rambut Devan yang rapi dengan jari-jari lentiknya. Sesekali Bia juga mengelus rambut hitam legam itu.


Devan yang sebelumnya hendak protes mengurungkan niatnya kembali, apalagi saat merasa dirinya mulai nyaman.


Walaupun kantuk belum menghampirinya, tapi Devan sengaja menutup kedua kelopak matanya berharap cara aneh yang diusulkan oleh Bia bisa mempan kepadanya.


Kalau boleh jujur Devan lelah dengan pola tidurnya yang selalu saja berantakan.


Entah kapan terakhir kali dirinya tidur dengan mudah, Devan sendiri sudah lupa.


Entah magic apa yang digunakan Bia untuk bisa membuat Devan terlelap setelah 15 menit berada di posisinya.


'Bu aku rindu,' batin Bia saat mengintip wajah lelap Devan.


Ikatan yang sengaja Devan lakukan untuk menuntaskan h4srat akan misi besar yang selama ini sudah dirinya susun rapi, perlahan berubah haluan dan Devan tidak se-terobsesi seperti dulu lagi.


Tanpa keduanya sadari hubungan pernikahan yang keduanya jalani sudah selayaknya hubungan pernikahan pada umumnya.


Waktu dan kebersamaan yang keduanya lewati, perlahan menciptakan kesan-kesan tersendiri, terutama untuk Devan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2