Sasaran Balas Dendam

Sasaran Balas Dendam
Makan Malam (Perayaan Kehamilan Bia)


__ADS_3

Kabar tentang kehamilan Bia sudah diketahui oleh keluarga inti Devan, Oma Gendis bahkan sudah menghubungi Davin dan menyampaikan kabar bahagia itu.


Malam ini Gendis bahkan mengadakan jamuan makan malam khusus untuk merayakan kebahagian keluarganya, tak lupa keluarga Doni Subagja yang notabenenya keluarga Bia juga ikut hadir karena memang sengaja diundang.


Tak tanggung-tanggung, Gendis bahkan mengirim sopir untuk menjemput keluarga besannya itu.


Amel yang baru kali ini datang ke kediamanan Devan sejak tadi tidak henti-hentinya berdecak kagum saat melihat kemewahan yang sangat memanjakan kedua bola matanya.


‘Aku harus bisa membujuk Bia supaya membujuk Kak Devan untuk mengizinkan aku tinggal disini, enak aja dia enak-enakan sendiri hidup mewah,’ batin Amel yang merasa muak melihat Bia yang sejak tadi diperlakukan bagaikan ratu.


‘Cih, manja banget sih. Dia hamil kan, bukan pesakitan?’ lanjut Amel yang hatinya semakin iri saat melihat Bia yang begitu dimanja.


“Ayo kita makan malam dulu, nanti saja sambung obrolannya,” ajak Gendis saat seorang pelayang datang dan mengabarkan kalau makan malam sudah siap.


Semua orang langsung saja menuju ke meja makan, termasuk Bia yang berjalan bersama Devan yang merangkul pinggangnya dengan begitu posesif. Seolah Bia adalah barang pecah yang wajib dijaga dengan begitu baik keamananya.


“Awas hati-hati,” kata Devan yang barusan menarikan sebuah kursi untuk Bia duduki.


“Terima kasih,” ucap Bia sedikit risih menerima perlakuan dari Devan yang tidak seperti biasanya.


Meja makan yang bisa menampung sampai sepuluh orang yang biasanya lebih sering ditempati oleh Gendis itu sampai penuh terisi malam ini. Pemandangan yang sudah lama tidak Gendis lihat ketika sedang makan, baik pagi, siang maupun malam.


Gendis menatap Devan yang begitu telaten melayani Bia yang sejak tadi dilarang banyak bergerak oleh Devan, senyum bahagia tentu saja terpancar di wajah senjanya. Gendis yakin Bia memang sudah ditakdirkan untuk Devan, buktinya setelah kehadiran Bia, Devan banyak mengalami perubahan.


“Ayo mari makan, kita nikmati jamuan ala kadarnya ini.”


Lisa dan Amel saling pandang setelah mendengar ucapan Gendis yang mengatakan makanan ala kadarnya, padahal di meja makan jamuan kelas restoran bintang lima sudah tersaji dan sangat menggugah selera.


“Kenapa?” tanya Devan dingin saat melihat Bia tidak menyentuh makanan di piringnya sedikitpun.


Bia sekilas menatap Devan bergantian dengan Gendis yang juga tengah menatap ke arahnya juga.


“Aku tidak ingin makan, maaf,” cicit Bia pelan, tidak enak dengan semua orang yang ada di meja makan.


“Kenapa? Apa makanannya tidak enak?” tanya Devan lagi, masih dingin seperti tadi.


Amel memutar bola matanya malas melihat tingkah Bia yang menurutnya sangat manja dan banyak drama.


‘Pasti sengaja,’ batin Amel dengan sangat yakin.

__ADS_1


“Ah, tidak, hanya saja aku tidak berselera makan,” balas Bia jujur, karena memang benar makanan yang ada di atas meja sama sekali tidak menggugah seleranya yang ada Bia malah merasa eneg dengan semua itu.


“Kamu mau makan apa Bi? Biar nanti Oma minta pelayan yang siapkan.”


“Gak usah repot-repot, Oma. Nanti kalau Bia lapar, Bia makan kok,” balas Bia yang benar-benar merasa tidak enak dengan semua orang, terutama Gendis yang sengaja mengadakan jamuan makan malam ini.


“Gak papa, Oma gak repot kok. Katakan apa yang kamu inginkan, ibu hamil memang biasanya agak sulit makan, benar kan Bu Lisa?” Gendis beralih bertanya pada Lisa yang sedang fokus dengan makanan di piringnya.


“Ah, iya benar Oma,” jawab Lisa sedikit gelagapan.


“Katanya tiap anak bawa kebiasaan tersendiri, sayangnya saya hanya satu kali hamil. Jadi gak bisa membedakan.”


Lisa mengangguk kaku.


*


Selesai makan malam, mereka semua kembali melanjutkan obrolan di ruang tengah. Bia juga masih ada disana dan tidak mau menuruti perkataan Devan yang menyuruhnya untuk beristirahat lebih dulu.


“Aku ke toilet sebentar,” izin Bia sambil berbisik di samping telinga Devan.


Amel yang melihat kepergian Bia tentu saja tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang tercipta. Dengan cepat Amel meminta izin untuk ke toilet dan menyusul Bia yang sudah lebih dulu berlalu.


Sementara obrolan lebih di dominasi oleh Gendis, Doni dan Lisa saja. Devan sendiri sejak tadi lebih banyak diam dan sekarang tengah memperhatikan kepergian Amel yang menyusul Bia ke toilet.


“Bia cepetan, gue kebelet pengen pipis,” ucap Amel yang sebisa mungkin menahan diri untuk tidak berteriak.


“Iya sebentar Mel,” sahut Bia dari dalam sana.


“Lama banget sih!” gerutu Amel yang menunjukan sifat aslinya kembali.


Tak perlu menunggu lama, pintu kamar mandi langsung saja terbuka. Amel yang sudah menunggu Bia sejak tadi langsung saja menarik sebelah tangan Bia dan langsung saja menghimpit Bia ke dinding.


“Ada apa Mel?” tanya Bia yang sudah biasa dengan perlakuan Amel yang kasar.


“Gue mau tinggal disini juga, gue gak mau tahu ya elu harus bujuk Kak Devan supaya izinin gue tinggal disini,” kata Amel langsung pada tujuannya untuk menemui Bia dan berbicara berdua.


Amel benar-benar tidak bisa membiarkan Bia hidup dengan nyaman begitu saja, karena sejak kecil apa yang Bia miliki pasti akan menjadi milik Amel.


Begitu juga dengan sekarang, Amel yakin bisa menggantikan posisi Bia sebagai istri Devan.

__ADS_1


Bagaimana dengan Haris?


Amel tidak terlalu memikirkan kekasihnya, apalagi masalah harta dan tahta Haris jauh berada di bawah Devan.


“Kamu ngomong aja langsung sama Devan,” balas Bia yang tidak mau menuruti permintaan Amel.


“Kalau gue yang ngomong mana di izinin lah. Lu ini gimana sih? Bego apa pura-pura bego? Percuma sekolah tinggi, nilah cum laude tapi bego!”


Bia menghela nafasnya pelan, heran dengan kelakuan Amel yang tidak mencerminkan seorang yang memiliki pendidikan.


Bia tahu sifat Amel yang seperti ini karena hasil dari didikan kedua orang tuanya yang sangat memanjakan Amel, bahkan sejak masih kecil.


“Pokoknya gue gak mau tahu, elu harus bilang sama Kak Devan buat izinin gue tinggal disini,” kata Amel memaksa.


“Aku gak bisa bilang,” balas Bia yang tidak ingin dimanfaatkan oleh Amel lagi, cukup selama ini dirinya mengalah pada adiknya yang selalu berbuat semena-mena.


“Lu berani sama gue sekarang?” Amel mendesak Bia semakin ke dinding.


Bia menghela nafasnya saat menyadari kalau Amel semakin berani kepadanya, Amel sejak dulu memang selalu bersikap kasar kepadanya, tapi sekarang menurut Bia, Amel malah berubah jadi bar-bar.


“Selama ini aku sudah sangat bersabar menghadapi tingkah kamu Mel, tapi tetap saja kamu tidak berubah. Malah semakin menjadi-jadi,” balas Bia.


“Elu ya!” Amel mencengkram dagu Bia dengan begitu kasar, Bia bahkan sampai menengadah ke atas.


“Mel aku ini kakak kamu, bisa hormati aku, setidaknya bersikaplah sopan padaku,” balas Bia yang sama sekali tidak takut dengan tingkah Amel yang saat ini sudah tersulut emosi.


“Gue gak butuh ceramah dari elu, Biandra! Gue cuman butuh elu bujuk Kak Devan, gue mau tinggal disini! Enak aja elu enak-enak tinggal di rumah mewah sendirian!”


“Kamu bujuk saja sendiri, aku gak mau.”


“Elu cari masalah sama gue hah?” tanya Amel dengan suara pelan tapi penuh tekanan. “Pantes aja ayah sama mamah gak sayang sama elu, karena emang elu itu bandel. Pembangkang!” sambung Amel semakin menjadi-jadi.


Bia menarik sebelah bibirnya, menciptakan sebuah seringai tipis yang tentu saja membuat Amel semakin murka.


Amel menghempaskan dagu Bia dengan cukup kasar, lumayan mengejutkan Bia yang sebelumnya sudah bersiap dengan apa yang akan dilakukan Amel kepadanya.


“Apa yang kamu lakukan?” Amel menghentikan gerakan tangannya, sebelah telapak tangannya masih melayang di udara.


Bersambung..

__ADS_1


**Hallo gengs, otor kembali menyapa setelah menghilang sekian purnama menghilang, semoga masih ada yang nungguin cerita receh ini😁


FYI more info bisa dikepoin di IG otor, **nurenurmalla. Biasanya jadwal update atau masalah pernopelan otor bagiin disana😉😘


__ADS_2