Sasaran Balas Dendam

Sasaran Balas Dendam
Makan Malam


__ADS_3

"Bia?" sapa perempuan tua yang terlihat sangat cantik dengan gaun malamnya. "Ke sini kok gak bilang-bilang sama Oma?"


Perempuan tua itu menyambut Bia dengan pelukan hangatnya di depan meja makan. Pelukan hangat yang Bia rindukan dari keluarganya.


"Biar jadi kejutan," sambar Devan dengan malas, melihat respon berlebihan dari keluarganya.


"Kalian kesini bareng?" tanya Davin, sementara Devan tengah bercipika cipiki dengan perempuan bule yang tak lain adalah kekasih Davin, Jazlyn. 


Bia menganggukan kepalanya. Kemudian terkejut karena Davin langsung saja menariknya ke dalam pelukannya, pelukan selamat datang.


"Kuat sekali kamu berada di sampingnya?" sindir Devan yang melihat Davin memeluk Bia.


"Aku mencintainya, Kakak," balas Jazlyn dengan logat Inggris yang sangat kental, kini giliran Bia dan perempuan dengan rambut pirang itu berpelukan.


"Aku Jazlyn," bisiknya. "Calon adik ipar kamu." Dengan sebuah kerlingan di sebelah matanya


"Biandra," balas Bia yang sangat canggung bercampur senang dengan situasinya ini.


'Apa dengan ini aku diterima baik di keluarga ini?'


"Sudah ayo, kita makan malam dulu," potong Gendis saat keempat cucu-cucunya hanya berdiri saja. "Kita makan dulu."


Gendis duduk di ujung meja makan. Meja makan panjang yang cukup untuk enam orang, Bia duduk disamping Devan di sisi kanan Gendis sedangkan Davin dan Jazlyn duduk bersebrangan dengan mereka.


'Keluarga yang hangat,' pikir Bia.


Pelayan di rumah itu mulai menyajikan hidangan makan malam untuk para tuannya di atas meja.


"Dev, kalian sebentar lagi akan menikah. Seharusnya kalian itu sedang dipingit sekarang," ucap Gendis di sela-sela makannya.


"Ini zaman modern, Oma," balas Devan.


"Mana sanggup dia Oma, di pingit," sindir Davin.


Devan menanggapi sindiran adiknya dengan meneguk air putih di gelasnya, dengan gaya angkuhnya.

__ADS_1


Gendis menggelengkan kepalanya saat melihat perubahan pada diri Devan, biasanya saat dirinya di sindir oleh adiknya Devan akan membalasnya dengan sengit.


'Apa mungkin ini semua karena gadis cantik ini?' Gendis melirik ke arah Bia yang tenang dengan makanan miliknya. Seulas senyum tercetak di bibir tuanya.


Obrolan santai terus berlanjut sambil makan malam, yang lebih didominasi dengan sindiran dan ejekan dari Davin. Pemuda itu merasa menang karena sedari tadi kakaknya hanya menanggapinya sekilas.


"Kakak ipar, aku tunggu kamu di Miami."


Bia mekirik ke arah Devan sebelum mengangguk atas perkataan dari laki-laki yang merupakan adik dari calon suaminya.


"Segeralah menyusul Vin, kakak kamu sebentar lagi akan menikah."


"Itu pasti Oma, aku sengaja menunggu dia biar tidak pamali."


Devan mendengus lagi-lagi dirinya yang dijadikan alasan Davin kalau ditanya masalah pernikahan. Devan tau Davin dan Jazlyn belum siap jika dihadapkan dengan masalah pernikahan, pergaulan negara barat Devan tahu bagaimana dan adiknya itu sudah lama tinggal bersama kekasihnya.


"Kita akan segera ke Miami, menghadiri acara pernikahan kamu."


Davin terbatuk saat air yang dia teguk tiba-tiba masuk secara mendadak dan keluar lagi lewat hidungnya. Lebih tepatnya Davin kaget dengan perkataan Devan barusan yang baginya merupakan sebuah pukulan telak untuknya.


"Hati-hati di jalan, sebentar lagi kalian akan bersama. Bersabarlah sebentar lagi," ucapan Gendis mampu membuat Bia merona merah, sementara Devan tetap mempertahankan wajah datarnya, so cool yang membuat Davin mual dengan tingkah kakaknya.


Jelas-jelas tadi Davin melihat sorot mata tajam Devan saat dirinya memberikan pelukan selamat datang kepada Bia.


Ketiga orang itu mengantarkan kepergian Devan yang mengantar Bia pulang sampai ke teras depan, sampai mobil itu menghilang di balik gerbang hitam yang menjulang tinggi, barulah ketiganya kembali masuk ke dalam rumah.


"Oma yakin ini pernikahan bisnis?" tanya Davin saat memilih menemani wanita tua kesayangan nya duduk menikmati teh herbalnya di ruang tengah, sementara kekasihnya sudah lebih dulu beristirahat di kamar.


"Oma tidak tahu pasti, Vin, yang pasti Oma berharap pernikahan mereka diberkati."


Davin mengangguk setuju, bagaimana juga dia ingin melihat kakaknya yang selama ini mengambil peranan sebagai kakak dan juga orang tua untuknya bahagia dan Davin berharap kebahagian Devan ada pada Bia.


"Apa Oma sudah menyelidiki asal usul Bia?" tanya Davin dengan suara yang terdengar khawatir.


"Tentu saja, Bia perempuan baik-baik. Tidak seperti kebanyakan perempuan yang menjadi teman tidur kakakmu," balas Gendis sebal saat mengingat kebiasaan buruk cucunya. "Oma yakin akan banyak kejutan yang kakak mu dapatkan dari Bia."

__ADS_1


Davin menunjukan seringainya, seringai yang sama seperti milik Devan. Hanya saja tidak begitu menyeramkan karena sorot mata Davin tidak terlalu tegas.


Sementara di perjalan menuju hotel, Devan memberikan suit hitam miliknya untuk dikenakan Bia.


"Aku tidak kedinginan," ujar Bia salah tanggap.


"Itu untuk menutupi lekuk tubuh kamu yang menonjol sana sini!" balas Devan tegas, cenderung marah.


"Hah? Benarkah?" pandangan mata Bia turun ke tubuh bagian depan.


'Sepertinya tidak ada yang aneh?'


"Iya, sepertinya saya salah memilihkan gaun untuk kamu. Itu terlalu ketat."


'Hah ketat bagaimana? Ini jelas-jelas masih ada space nya,' batin Bia lagi.


"Jangan banyak protes gunakan saja," sambar Devan cepat.


Bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya, Bia dengan segera menuruti permintaan Devan barusan.


'Apa karena ini sedari tadi wajahnya berubah bengis dan menyeramkan.'


Devan merutuki kebodohannya dalam hati, kenapa sampai hal sekecil ini begitu detail di pikirannya dan untuk alasan apa Devan harus emosi saat gaun yang dikenakan Bia mencetak jelas lekuk tubuhnya.


Bia memilih menutup mulutnya dengan rapat, hidangan makan malam di rumah Devan sangat diperhitungkan gizinya membuat Bia ngantuk dari tadi.


'Beginikah rasanya hidup orang kaya? Kemana-mana diantar sopir dengan menumpangi mobil mewah dengan segala fasilitas canggih di dalamnya? Makan makanan sehat dengan kandungan gizi yang sangat diperhitungkan, apakah hidup bergelimang harta sangat menyenangkan? Sehingga Amel selalu saja mencari perhatian dari ayah?'


Bia gadis malang yang berasal dari keluarga terpandang. Hidupnya memang tidak seperti cerita Cinderella, yang dimana dia disiksa dan dijadikan pembantu oleh ibu dan adik tirinya. Bia masih diberikan kebebasan, tidak perlu bekerja seperti pembantu di rumah mewah orang tuanya. Hanya saja yang sama Bia tidak dianggap ada, kehadirannya hanya bagaikan benalu di keluarganya.


Matanya tiba-tiba terasa panas. Bia memalingkan wajahnya ke luar jendela, menatap banyak muda mudi yang tengah menghabiskan malam mereka dengan bergandengan tangan dengan pasangannya, hal yang tidak pernah Bia rasakan sebelumnya.


Hidupnya hanya berputar di sana-sana saja. Kuliah, bekerja part time dan pulang ke rumah untuk menumpang makan dan tidur.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2