Sasaran Balas Dendam

Sasaran Balas Dendam
Fitting Baju Lagi


__ADS_3

"Perhitungan sekali!" balas Bia saat pelayan restoran tadi sudah meninggalkan mereka berdua.


"Itu harus, saya tidak mau rugi."


"Nanti aku cicil, kamu rinci saja," balas Bia acuh, tidak ingin suasana hatinya yang baru membaik kembali buruk.


Devan menunjukan seringainya di hadapan Bia. "Kamu pasti akan menyukai metode pelunasan hutangnya," ujar Devan dengan wajah yang menyebalkan.


"Ma-maksud kamu?" Bia tergagap saat menyadari ekspresi wajah Devan yang …


M3sum!


"Jangan lupa perjanjian pra nikah yang kita buat." Devan menjatuhkan bahunya ke sandaran kursi.


Pikiran Bia langsung saja terbang melayang, berputar kembali mengingat satu persatu apa yang diucapkan Devan saat itu.


Lakukan tugas kamu sebagai seorang istri.


Mengikuti semua aturan yang dia buat dan tau batasan.


Lahirkan keturunan dan pewaris kerajaan bisnis miliknya.


Yang artinya …


"Ya, aku mengingatnya. Kamu gak usah khawatir dengan hal itu," balas Bia pasrah.


Dan Devan sangat menyukai sikap penurut seperti ini.


"Anak manis."


Tak berselang lama, pelayan restoran tadi datang kembali dengan dua orang di belakangnya yang mendorong troli berisi makanan dan minuman pesanan mereka berdua, lebih tepatnya pesanan Bia.


Bia langsung saja melahap makanan yang dia pesan, tanpa ada rasa jaim, malu-malu kucing atau sifat cari muka yang umum dilakukan banyak perempuan yang mendekati Devan.


Devan menggelengkan kepalanya. 'Tidak ada anggun-anggunnya sama sekali dan itu lebih baik.'


"Kamu tidak makan?" tanya Bia saat Devan hanya menyantap salad saja.


"Takut baju pengantin saya gak muat," sindirnya.


"Hem," balas Bia dengan mulut penuh makanan.


Satu lagi fakta baru yang Devan ketahui tentang Bia, Bia sosok orang yang mudah bergaul dan tidak punya malu.


'Apa dia bisa diajak ke acara resmi?' tanya Devan dalam hati saat memperhatikan cara makan Bia.


"Kamu pernah belajar table manner?"


Bia mengangguk.


"Kapan terakhir kamu makan?"


"Kemarin pagi."

__ADS_1


'Astaga!' Devan tidak habis pikir dengan perempuan yang akan dia nikahi. 'Perempuan jenis apa ini?'


"Kamu pasti sedang berpikir kalau aku tidak akan bisa diajak ke jamuan resmi," tebakan Bia benar.


'Seperti tau aja kata hatiku,' batin Devan lagi.


"Hem," jawabnya singkat.


"Tenang saja, aku tau kapan harus bersikap anggun dan kapan harus menjadi sosok aku sendiri," balas Bia sambil mengelap bibirnya dengan ujung serbet.


"Ya itu harus."


"Aku lupa akan satu hal," ucap Bia tiba-tiba.


"Apa?"


"Apa aku boleh tetap berhubungan Devia dan Rinjani setelah kita menikah?" Bia lupa menanyakan hal ini. "Berkomunikasi bahkan bertemu?"


"Asal tau batasan."


"Oke!" balas Bia sambil menyeruput jus avocadonya, minuman ke sukaannya.


"Habiskan makanan kamu cepat," ucap Devan saat melihat dessert milik Bia masih utuh.


"Kita harus segera ke butik," lanjutnya lagi sambil melihat Rolex keluaran terbaru yang bertengger di pergelangan tangan kirinya.


***


"Bisakah kamu memilih kan satu untukku?" pinta Bia saat sudah berada di butik yang waktu itu mereka datangi.


Devan menjatuhkan pilihannya kepada gaun putih tanpa ekor, yang mengembang di bagian bawah dan berlengan pendek. Gaun simpel tapi terlihat sangat mewah dengan beberapa mutiara pada kain brokat di bagian dadanya. Gaun yang hampir sama persis seperti gaun pilihan Bia dulu, hanya saja berbeda pada tambahan brokat di bagian dadanya.


Kali ini Devan melihat Bia antusias saat memilih gaun pernikahannya, tidak seperti saat waktu itu. Bia terlihat murung dan tak bersemangat.


"Dasar rubah licik," gumam Devan saat Bia tengah mencoba gaun yang barusan di pilihkan Devan.


"Teruslah tersenyum, kedepannya tidak akan ada yang tau kamu masih sanggup tersenyum atau tidak?!" gumam Devan lagi, matanya menatap tajam tirai ruangan ganti yang dipakai Bia dengan kedua tangan yang terkepal erat di atas pahanya.


Amarah kembali menguasai dirinya.


Sakit hati kembali menutup mata dan hatinya yang barusan sedikit berbunga karena kehadiran Bia.


"Pilihkan satu gaun untuk acara makan malam." Perintah Devan kepada pekerja butik itu. "Yang sopan, simpel tapi elegan."


Devan berusaha menormalkan ekspresi dan suasana hatinya yang tiba-tiba memburuk.


Hampir saja Devan terlena dan bersimpati akan kehidupan miris yang dialami Bia, sehingga Devan melupakan tujuan awalnya untuk menikahi Bia.


"Sial!" maki nya pelan saat Bia keluar dari ruang ganti di temani pemilik butik ini.


"Bagaimana, Tuan?" tanya pemilik butik saat melihat Devan yang langsung memalingkan wajahnya saat Bia keluar dari ruang ganti.


"Ya, bagus, kita ambil yang ini saja," balas Devan cepat.

__ADS_1


Dadanya tiba-tiba saja berdegup dengan kencang.


Debaran-debaran halus mulai menjalar dari hati menghampiri jantungnya.


'Ini tidak boleh terjadi,


Ini tidak bisa dibiarkan,


Dev ingat tujuan awal kamu!' batinnya.


Dengan isyarat tangannya, pemilik butik itu paham arti gerakan tangan yang diberikan Devan narusan.


Membawa Bia kembali ke ruang ganti.


"Kean akan mengurus pembayarannya," ucap Devan saat Bia sudah berganti pakaian kembali. "Kirimkan ke hotel tepat waktu," lanjutnya lagi dingin dan datar.


"Baik, Tuan," balas sopan pemilik butik itu.


Akhirnya Devan bisa bernafas dengan lega, kembali terbebas dari perasaan aneh yang tiba-tiba menghinggapinya tadi.


"Saya antar kamu ke hotel, bersiaplah nanti malam saya akan jemput kamu lagi."


"Untuk apa?"


"Makan malam di rumah," balas Devan dengan datar lagi.


"Tapi aku gak punya baju buat nanti." Tiba-tiba saja Bia teringat akan hal itu, Bia jarang sekali bepergian ke acara formal maupun semi formal.


Makan malam dirumah, yang artinya akan bertemu dengan Oma Gendis. Masa iya Bia harus mengenakan pakaian yang waktu itu dikenakannya saat acara lamaran Devan.


"Saya sudah membelikan nya, kamu hanya tinggal bersiap dan jangan coba-coba menghindar," ucap Devan sambil mencondongkan wajahnya ke arah Bia.


Bia reflek menjauh.


Berada di dekat Devan sudah seperti ancaman tersendiri bagi kesehatan jantung dan matanya.


Perempuan mana yang bisa menolak pesona seorang pengusaha kaya raya yang sukses di usia mudanya.


'Sadar Bi, Sadar!'


"I-Iya," balas Bia dengan gugup.


"Bagus," puji Devan yang tengah menikmati wajah tegang Bia. "Jadilah anak manis yang penurut dan tidak banyak bertanya."


Bia meneguk salivanya dengan kasar saat Devan sekilas mengacak rambutnya, Bia tidak gugup dengan usapan lembut barusan tapi Bia gugup dengan wajah Devan yang sangat menyeramkan.


Wajah yang mengisyaratkan sebuah kelicikan.


Perjalanan kembali di hiasi dengan keheningan, sampai mobil yang mereka tumpangi tiba di halaman sebuah hotel bintang lima yang akan dijadikan tempat untuk mereka mengucap janji suci dihadapan Sang Pencipta.


Tidak ada yang mengeluarkan suara.


Bia larut dalam lamunan dan Devan sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2