
Sejak kasus besar yang pernah menimpa perusahaannya, Doni semakin berubah terhadap Lisa.
Lisa yang menyadari perubahan yang terjadi pada suaminya tentu saja tidak bisa tenang, apalagi setelah pulang dari rumah Gendis, tingkah Doni semakin mengalami banyak perubahan.
Pagi ini saja misalnya, Doni berangkat ke kantor tanpa memperdulikan Lisa yang tengah menyiapkan sarapan pagi untuknya.
“Ayah buru-buru,” ucap Doni saat Lisa mengerjakan sampai ke teras depan.
“Nanti Mamah ke kantor anterin makan siang ya, Yah,” bujuk Lisa.
“Gak usah, kamu di rumah aja. Awasin anak kamu yang mulai gak bisa diatur,” balas Doni dengan begitu ketus.
“Tapi kan Amel anak kamu juga Mas, harusnya kamu juga ikut mengawasi tumbuh kembangnya,” balas Lisa yang selalu saja tersudutkan jika Doni sudah membalas masalah Amel.
“Kamu yakin Amel anak saya saja?” tanya Doni dengan nada dingin. “Sekali lagi saya tegaskan sama kamu jangan sampai anak kamu buat malu keluargaku.”
“Mas!” teriak Lisa saat Doni meninggalkannya begitu saja.
Usaha yang selama ini dilakukannya untuk bisa menjadi istri satu-satunya dari Doni Subagja ternyata tidaklah cukup. Bahkan sampai saat ini Lisa tidak bisa mendapatkan hati Doni sepenuhnya.
“Bahira!” gumam Lisa dengan amarah yang mulai memuncak.
*
“Tuan?” panggil Kean yang datang ke ruangan Devan.
Devan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya hanya melirik sekilas kedatangan Kean. Devan sudah tahu pasti ada sesuatu yang penting jika Kean datang ke ruangannya tanpa perintah darinya dan juga tanpa ada map atau apapun di tangannya.
Kean yang sudah berada di depan meja kerja Devan langsung saja membuka ponsel pintarnya yang tadi disimpan di saku celana yang digunakannya.
“Saya kirimkan hasil penyelidikan tim kita ke ponsel anda Tuan.”
Devan tidak menyahut dan sengaja membiarkan Kean mengerjakan tugasnya. Ponsel Devan yang ada di meja langsung saja berbunyi dengan notifikasi yang begitu beruntun.
Sementara Kean masih berada di posisinya dan belum akan beranjak, Kean masih menunggu perintah selanjutnya yang harus dikerjakan olehnya.
Devan melihat pesan yang dikirimkan oleh Kean barusan, bibirnya langsung saja menyeringai saat melihat satu buah video yang ada pada urutan paling atas.
“Menurut salah satu orang kita yang bekerja di rumah Doni Subagja, hubungan pasang suami istri itu sudah tidak baik-baik saja bahkan sejak lama.”
Devan yang sedang menatap layar ponselnya tentu saja sambil menyimak apa yang barusan dikatakan oleh Kean, kening laki-laki itu langsung saja berkerut begitu mendengar penuturan Kean selanjutnya.
__ADS_1
“Hubungan keduanya semakin renggang apalagi setelah pulang makan malam waktu itu di rumah anda, Tuan,” lanjut Kean.
“Apalagi?” tanya Devan yang sedikitpun tidak menoleh ke arah Kean.
“Yang selalu menjadi bahan perdebatan keduanya adalah Nona Amel yang sekarang sikapnya semakin keluar jalur.”
“Pela*ur?” tanya Devan dengan sinis.
“Saya sedang menyelidiki satu hal Tuan,” lanjut Kean.
“Apa?” tanya Devan yang akhirnya mengarahkan pandangannya ke arah Kean.
“Hubungan darah antara Nona Bia dan Lisa Sutena.”
Devan menajamkan kedua matanya ke arah Kean yang masih memasang tampang datarnya. Pikiran Devan langsung saja menduga akan satu hal.
“Jangan bilang Bia bukan anak kandung Lisa?” tanya Devan dengan kedua mata yang semakin berkilat penuh amarah.
“Saya masih mencari sebenarnya Tuan....”
Belum selesai Kean berbicara, Devan lebih dulu menggebrak meja kerjanya. Kean yang sudah biasa dengan sikap Devan sama sekali tidak merasa terkejut. Bahkan Kean tidak sedikitpun mundur dari posisinya berdiri.
“Saya akan memastikan secepatnya Tuan, tapi saya minta bantuan anda. Saya butuh sampel dari Nona Bia, rambut, air liur atau darah.”
“Jangan gila kamu! Saya gak mau mengambil setetes pun darah istri saya yang sedang mengandung!”
Kean yang sedang tertunduk langsung saja menarik sebelah sudut bibirnya, menciptakan sebuah senyuman tipis yang hanya akan terlihat jika diperhatikan dengan seksama.
“Kalau begitu rambutnya saja Tuan, tapi hasilnya akan lama keluar jika dibandingkan dengan tes yang menggunakan darah.”
Hanya dengan sebuah delikan di mata Devan, Kean tidak berani membantah lagi atasannya.
Kean yang sudah lama mengabdi pada Devan tentu saja sudah hafal dengan karakter dari Devan dan Kean tidak ingin memperumit dirinya dan memilih pamit dari ruangan Devan.
Devan selepas kepergian Kean tentu saja tidak fokus dengan pekerjaannya. Perkataan Kean tadi tentu saja terus menari di kepalanya.
“Kenapa aku seceroboh ini?”
Devan menghela nafasnya pelan, 18 tahun bukan waktu yang sebentar untuk menyusun semuanya dengan begitu matang. Tapi pada kenyataannya Devan ternyata melewatkan banyak hal.
Ambisinya akan semua yang sudah menimpa dirinya membuat Devan hanya terfokus akan misinya saja.
__ADS_1
“Padahal selama ini aku sudah mempertimbangkan semuanya dengan begitu matang. Aku sudah mempersiapkannya dengan begitu sempurna.”
Devan merasa fokusnya semakin terpecah, lanjut bekerja pun rasanya tidak akan berjalan dengan benar. Dengan otak yang terus mencerna semuanya, Devan memilih pulang.
*
“Kenapa kamu melihatku dengan tatapan seperti itu?” tanya Bia saat Devan terus saja memperhatikannya sejak tiba di rumah.
“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Devan dengan hati yang sebenarnya ragu.
“Silahkan, biasanya juga kamu tidak pernah meminta izin lebih dulu,” balas Bia setengah mencibir kelakuan Devan.
Devan mengabaikan cibiran Bia, dirinya harus memastikan satu hal. Untuk apa bersusah payah melakukan tes DNA kalau bisa bertanya langsung pada sumbernya.
“Apakah Lisa ibu kandung kamu?” tanya Devan sambil memperhatikan raut wajah Bia.
“Kenapa kamu menanyakan hal itu? Apakah ada sangkut pautnya dengan perjanjian yang kamu lakukan dengan ayah?” Bia malah balik bertanya.
Devan menghela nafasnya saat menyadari ternyata Bia memang bukan gadis lugu yang seperti selama ini Devan kira.
Kenyataan demi kenyataan yang di dapatkannya setelah menikahi Bia, membuat Devan benar-benar menyesali keputusannya yang ternyata sudah gegabah. Misi, ambisi dan keinginan balas dendam yang ada di hatinya benar-benar membuat Devan tidak meneliti semuanya dari akar.
Devan hanya terfokus akan tujuannya saja untuk membalaskan semua sakit hatinya pada keluarga Doni Subagja, terutama pada Lisa.
‘Kalau jawabannya iya, maka yang seharusnya menikah denganku itu Amel.’
Ditengah semua rasa yang berkecamuk dalam dirinya, Devan masih setia menunggu jawaban yang akan keluar dari Bia dan Devan tidak akan menyerah begitu saja.
“Tidak ada, jadi apa jawabannya?”
Bia tersenyum ke arah Devan kemudian meletakan piring berisi buah segar yang sejak tadi ada di tangannya.
“Aku sebenarnya tidak tahu apa tujuan kamu menikahiku, yang jelas aku rasa bukan hanya masalah kepercayaan akan dana yang sudah kamu suntikan ke perusahaan ayah. Tapi apapun itu, sekarang kamu suamiku. Laki-laki yang harus menjaga dan melindungi aku sebagai wanita yang menjadi istrimu.”
Devan menghela nafasnya melihat Bia yang sekarang lebih berani dan menurutnya semakin agresif. Entah ini sikap asli Bia atau faktor bawaan janin yang saat ini ada di perut Bia, Devan sama sekali tidak tahu.
“Jika kamu penasaran dengan hal itu, cari tahu saja sendiri. Aku tidak ingin membuka luka lama yang sudah aku kubur dalam-dalam.” Selesai mengatakan kalimat itu, Bia yang semula duduk di pangkuan Devan langsung saja meninggalkan Devan begitu saja.
Bersambung...
Hola epribadi, Sasaran Balas Dendam akan update dua hari sekali yes, love sekebon.
__ADS_1