
"Tuan," sapa Kean saat Devan tengah bergelut dengan tumpukan dokumen di ruang kerjanya.
Devan sekilas melirik ke arah Kean yang datang dengan map di tangannya.
"Ini Tuan." Kean menyodorkan map yang dibawanya.
"Ck!" Devan berdecak sambil menggelengkan kepalanya. "Sejak kapan?"
"Sudah lama Tuan, sekitar tiga bulanan," balas Kean yang setia berdiri di seberang meja kerja Devan.
Lagi-lagi seringai sinis itu kembali menghiasi wajah tampan sang miliarder muda itu.
Senyum yang sarat akan makna penuh ejekan dan sangat meremehkan.
Terkadang Kean merasa ngeri tiap kali melihat wajah atasannya yang cukup menyeramkan, tapi mau bagaimana lagi Kean harus terbiasa dengan itu.
"Pantau terus, jangan sampai ada celah sedikitpun," ucap Devan yang mulai fokus dengan pekerjaanya lagi.
"Baik, Tuan," balas patuh Kean yang kemudian berlalu dari ruangan kerja Devan.
"Luar biasa ini jauh dari dugaan," gumam Devan saat Kean sudah meninggalkan ruangan miliknya.
"Ck!" Lagi-lagi decakan itu keluar dari mulutnya.
Tidak ada yang istimewa dari hari-hari yang dilewati Devan sebelum pesta pernikahan mewah yang akan digelar beberapa hari lagi itu.
Devan menghabiskan harinya seperti biasa. Bekerja, bekerja dan bekerja, pulang larut kemudian tidur.
Semua urusan pernikahannya dikerjakan Kean, laki-laki dengan wajah minim ekspresi itu yang sibuk ke sana ke sini, seperti dialah yang hendak menikah.
"Bagaimana?" tanya Kean kepada sambungan teleponnya, hari ini dia tidak bisa datang ke hotel bintang lima yang akan menjadi tempat pesta meriah itu akan digelar.
"Hm," balasnya, dengan mata yang fokus pada layar laptopnya.
Pekerjaan yang menumpuk mengharuskan Kean segera mengerjakannya dengan cepat.
"Lakukan dengan baik. Jangan sampai ada kesalahan," ucapnya. "Kalian tau konsekuensinya," lanjutnya lagi.
Cukup lama Kean berbincang dengan orang yang berada di seberang ponselnya.
***
Devan melangkahkan kakinya dengan gontai, menapaki beberapa undakan tangga yang menghubungkan halaman depan dengan teras rumahnya. Lebih tepatnya rumah Oma nya.
__ADS_1
Lampu di rumahnya sudah temaram, menyisakan beberapa lampu yang memiliki cahaya redup. Wajar saja waktu menunjukan angka sebelas sekarang dan Devan baru kembali ke rumah.
"Dev?" Ruangan tengah langsung saja terang saat seseorang berdiri di dekat saklar lampu, siapa lagi pelakunya kalau bukan Gendis karena tidak ada orang lain yang berani kepada nya di rumahnya.
"Pernikahan kamu akan digelar tiga hari lagi, Dev dan kamu masih saja pulang larut malam. Pamali Dev, harusnya pengantin itu dipingit," ucap panjang lebar perempuan tua itu dengan sorot mata tajam menatap ke arah cucu tertuanya.
"Aku harus segera membereskan pekerjaan aku, Oma," balas Devan seraya menghampiri Gendis, mengecup pipi perempuan tua itu kiri dan kanan bergantian.
"Ada Kean, Dev. Serahkan dulu pekerjaan kamu kepadanya."
"Dia sibuk mengurus persiapan pernikahan aku, Oma."
"Ck, kamu ini ada saja alasannya." Gendis menyerah. "Sana istirahat, besok Davin dan Jazlyn akan tiba di sini."
Devan menganggukan kepalanya. "Aku ke atas dulu, Oma," pamitnya.
"Iya."
Devan berlalu dengan cepat meninggalkan Oma nya.
Tidak ada yang spesial dari pernikahannya itu, maka dari itu Devan tidak terlalu antusias menyiapkan segalanya.
'Semuanya hanya masalah bisnis,' batinnya saat tiba di kamar miliknya.
Dengan gerakan kasar Devan mengusap wajahnya, entahlah akhir-akhir ini emosinya sangat sulit untuk dikendalikan.
Bersamaan dengan itu ponsel miliknya bergetar di saku celana yang dia kenakan.
"Ck!" Dengan malas Devan meraih benda pipih itu, membukanya dengan sidik jarinya.
Devan mendudukan tubuhnya di ujung tempat tidurnya. Mengamati layar ponsel yang sesekali gambar yang ada di sana dia zoom.
Tiba-tiba saja terdengar helaan nafas panjang, dengan ponsel yang melayang ke arah tempat tidurnya. Tubuh Devan langsung ambruk ke belakang.
Sekali lagi helaan nafas panjang kembali keluar dari mulutnya, pandangannya menatap ke arah langit-langit kamarnya. Kedua tangannya dia jadikan bantalan untuk menyangga lehernya.
"Pernikahan?" gumamnya. Devan memejamkan matanya dengan pikiran yang mulai melayang jauh.
Sungguh tidak ada niatan dirinya untuk mempermainkan yang namanya pernikahan, sebuah ikatan suci yang seharusnya dilaksanakan sekali seumur hidup itu.
Sebuah ikatan sakral yang menyatukan dua insan yang berbeda. Ikatan batin antara laki-laki dan perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membangun rumah tangga yang bahagia.
"Bahagia?" gumam Devan lagi. "Cih!"
__ADS_1
Bagi nya kebahagiaan miliknya sudah sirna seiring dengan tanah merah yang perlahan mengubur keempat jasad anggota keluarganya secara bersamaan.
Tidak ada lagi kebahagiaan yang nyata setelah nya, semuanya hanya kebohongan semu yang sengaja dia ciptakan.
Harta, tahta, wanita tanpa ikatan. Semuanya sudah cukup membuatnya bahagia. Lantas pernikahan macam apa yang akan dia jalani nantinya?
Devan sendiri tidak tahu jawabannya, semuanya terasa abu-abu.
Hembusan nafas itu berubah menjadi berat dengan sorot mata yang berubah sayu.
Devan merasakan kedua matanya memanas dan dengan buru-buru Devan beranjak dari tidurnya dan langsung menuju ke kamar mandi.
Entah apa yang mendasari tubuhnya bereaksi demikian, sudah lama dirinya tidak merasakan hal seperti ini.
Apa karena semua dosa-dosa yang sudah dia perbuat.
"Ah, sial!" Devan bukan tipe orang yang ingat akan yang namanya dosa.
Hidup dengan berlumur dosa sudah bagaikan santapan sehari-hari seorang Devan Manuello Addison. Dosa bagaikan teman hidup dan pendampingnya selama ini.
Dadanya tiba-tiba sesak saat kembali mengingat akan pernikahan yang sebentar lagi akan dia jalani dengan seorang perempuan yang sama sekali tidak dia inginkan, jangankan cinta suka saja tidak.
"Biandra," gumam Devan lagi, wajah perempuan yang berusia jauh di bawahnya itu lagi-lagi melintas tanpa permisi di pikirannya. "Berani kamu mengusik pikiran saya? Sialan!" maki Devan lagi.
Setelah perasaannya mereda Devan keluar dari kamar mandi hanya berbalutkan handuk putih saja. Devan tidak mandi atau berdiam diri di bawah guyuran air shower. Devan hanya membasuh wajahnya saja dan itu cukup ampuh untuk meredakan gejolak yang tiba-tiba menghampiri dirinya dan juga bayang Bia.
"Kamu sudah tidur?" tanyanya pada sambungan telepon yang baru saja diterima oleh orang di seberang sana.
"Kamu nangis?" tanyanya lagi bahkan Devan langsung saja berdiri dari duduknya di tepi ranjang.
Kening Devan berkerut seiring dengan isak tangis seseorang yang berada di balik sambungan teleponnya.
Sebelah tangan Devan terkepal di sisi kiri tubuhnya. 'Kurang ajar, berani-beraninya mereka,'
Dengan sabar Devan mendengarkan keluh kesah orang yang dia hubungi, tanpa ada umpatan kasar yang keluar dari mulutnya. Hanya makian yang Devan ucapkan dalam hatinya.
"Lebih baik kamu tidur, ini sudah malam. Besok saya yang akan urus semuanya," ucap Devan.
"Itu masalah kecil, kamu tidak usah khawatir."
"Hmmm." Devan memutus sambungan telepon dan langsung saja mengetik pesan singkat untuk seseorang lainnya.
Bersambung…
__ADS_1