
"Apa yang terjadi?" tanya Devan dengan intonasi penuh penekanan.
Devan menatap lekat Bia yang nampak kusut, entah kenapa rasanya Devan benar-benar murka darahnya serasa langsung mendidih.
Wajah perempuan muda itu tampak pucat dan matanya sembab. "Kamu menangis semalaman?" tanya Devan lagi dan langsung dibuat terkejut dengan Bia yang langsung berhambur ke pelukannya.
"Bawa aku pergi dari sini, aku mohon!" ucapnya disertai dengan isak tangis dan punggung yang kembali bergetar "Aku udah gak tahan!"
Sejenak Devan terdiam dengan tangan yang mengelus punggung Bia yang semakin bergetar di pelukannya.
Pandangan matanya menatap ke sekeliling ruangan, mengamati kamar perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
"Bereskan barang-barang kamu, kita ke hotel sekarang. Kamu bisa menunggu disana," ucap Devan sambil mengurai pelukannya.
"Aku sudah membereskannya," jawab Bia yang menyeka air mata yang membanjiri wajahnya. "Maafkan aku."
"Aku tunggu di bawah," ucap Devan dan berlalu meninggalkan Bia yang masih mematung di kamarnya.
Semalam, bukan hanya Amel yang merusak gaun pernikahannya. Tetapi Lisa juga yang ikut menyudutkan dirinya dan Doni yang sama sekali tidak peduli dengan tingkah Lisa dan Amel yang merundung Bia lagi.
Bia yang tidak tahan akhirnya memutuskan untuk segera keluar dari rumah ayahnya, bertepatan dengan itu semalam Devan menghubungi dirinya.
Siang ini laki-laki yang akan menjadi suaminya datang bahkan menggedor pintu kamar Bia yang sedari semalam sengaja dia kunci dari dalam.
Keadaan seakan berpihak kepadanya saat ini, tanpa diminta Devan bahkan menyuruh Bia untuk mengemasi barang-barangnya yang memang sudah dari semalam Bia masukan ke dalam koper kecil.
Tidak banyak yang dia bawa, karena memang tidak ada barang-barang yang harus dia bawa sudah pasti di sana Devan akan menyediakan seluruh kebutuhannya.
"Selamat tinggal," gumam Bia sambil menatap sekeliling ruangan yang selama ini menjadi saksi bisu penderitaan dan kesedihannya selama tinggal disini.
Bia berjalan ke arah meja riasnya, membuka laci demi laci takutnya ada barang penting yang tertinggal di sana, seperti ijazah atau dokumen penting lainnya.
Semuanya sudah kosong, karena memang Bia sudah memasukkannya ke dalam koper kecilnya.
***
"Apa yang terjadi? Kenapa Bia murung?" tanya Devan kepada salah satu pekerja rumah Doni.
Terlihat di mata Devan kalau perempuan paruh baya itu terlihat ketakutan saat Devan bertanya begitu kepadanya.
"Lupakan saja," ujar Devan lagi saat Bia terlihat berjalan menuruni tangga dengan menenteng koper kecil dan sebuah tas punggung kecil yang di bawa nya juga.
__ADS_1
"Sudah?" tanya Devan saat Bia sudah berada di ujung tangga.
Bia mengangguk lemah, nyatanya meninggalkan rumah ini tidak semudah bayangannya.
"Bi aku pergi," pamit Bia kepada pekerja rumah yang tadi sempat diinterogasi Devan.
"Iya, Non, hati-hati. Maafkan Bibi," balasnya dengan suara bergetar, Devan membuang mukanya sebal saat mendengar perempuan itu menjawab ucapan Bia.
Bertepatan dengan itu datang Amel dan Lisa dengan barang belanjaan di kedua belah tangan mereka.
"Nak Devan," sapa Lisa dengan sedikit gugup.
"Saya sudah memasukan tagihan gaun yang sobek karena di coba putri Nyonya ke perusahaan suami anda."
Lisa membelalakan matanya.
Amel menganga.
"A-aku-" Amel gagap. "A-aku tidak sengaja kakak ipar,"
"Sengaja atau tidak saya tidak peduli," balas Devan sinis. "Kamu tahu berapa harga gaun itu?"
Wajah Amel semakin memucat.
"Dia akan ikut saya," Devan kembali berujar. "Ayo."
Bia pasrah saat Devan menarik pergelangan tangannya.
Berjalan melewati Lisa dan Amel yang Bia tahu keduanya sedang menahan geram kepadanya.
"Mah, gimana ini, kalau iya tagihan itu sampai ke perusahaan ayah?" tanya Amel saat Bia dan Devan sudah menghilang di balik pintu rumahnya.
"Kamu sih, ngapain juga harus di robekin segala. Coba ya coba aja."
"Aku-"
"Sudahlah, jangan buat Mamah pusing, mending pikirin alasan buat nanti bilang ke Ayah. Biar Ayah gak salahin kamu."
"Mah," ucap Amel lagi saat Lisa malah meninggalkan dirinya sendirian. "Dasar anak pembawa sial," desisnya sambil melangkah ke arah tangga.
***
__ADS_1
"Kamu sudah makan?" tanya Devan saat di perjalanan.
Bia menggelengkan kepalanya, Bia tidak memiliki selera makan dari semalam.
"Kita makan siang dulu, habis itu kita ke butik," ucap Devan lagi kemudian memberikan perintah kepada sopir yang mengendarai mobil mewahnya, satu mobil van hitam juga mengikuti Devan dari kejauhan.
"Maafkan aku, kalau saja gaun itu di kirim langsung ke hotel pasti kejadian ini tidak akan terjadi," ucap Bia lagi merasa bersalah terhadap Devan.
"Gak usah di pikirkan, itu bukan masalah besar untuk saya," balas Devan yang tengah fokus dengan ponsel yang baru di ambilnya dari saku celana yang dikenakannya.
Setelah mendengar perkataan Devan barusan, Bia memutuskan untuk menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil. Tubuhnya terasa sangat lelah, lelah bukan karena habis bekerja, tapi lelah karena keadaan.
Untuk sekarang saja entah memutuskan keluar dari rumah adalah keputusan yang benar atau malah sebaliknya.
Tidak ada yang tau kedepannya, siapa tahu saja Bia malah terperangkap ke dalam sarang buaya.
Memikirkan semua itu, rasanya membuat Bia semakin merasa pusing. Tubuhnya juga sedikit merinding.
Sementara Devan tengah berbicara dengan sambungan telepon milik nya, entah apa yang tengah dibicarakan yang pasti Bia tidak ingin ikut campur.
Lagian sekarang atau nanti dirinya pasti akan segera meninggalkan rumah itu juga.
"Ayo."
Sesampainya di sebuah restoran Devan menunggu Bia terlebih dahulu, tidak seperti saat fitting baju dulu Devan yang tidak peduli sama sekali dengan Bia dan memilih meninggalkan Bia.
Sosok tinggi dan gagah itu berjalan dengan seorang perempuan yang langsung saja menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar, apalagi restoran yang didatangi Devan bukan restoran sembarangan.
Restoran mewah yang sering digunakan oleh beberapa pebisnis untuk melakukan pertemuan dan perjamuan terhadap kliennya. Termasuk Devan sendiri.
"Silahkan, Tuan," ujar seseorang karyawan yang menyambut kedatangan Devan dan langsung mengarahkan Devan beserta Bia ke ruang privat.
"Pesanlah sepuas mu," ucap Devan saat sudah duduk sempurna di kursi restoran mewah itu. "Saya tidak ingin punya istri kurus kering karena kurang makan."
Ternyata sikap manis Devan hanya bertahan sebentar saja dan langsung kembali ke mode semula, sinis dan sarkas.
Bia merenggut, mendengar perkataan Devan barusan.
"Jangan cemberut, saya hanya ingin yang terbaik setelah kamu keluar dari rumah orang tua kamu," ucap Devan lag. "Saya juga tidak ingin dicap tidak bertanggung jawab, bagaimana juga saya ikut andil dalam kepergian kamu."
Perkataan demi perkataan Devan semakin menyebalkan di telinga Bia, tapi untuk kali ini Bia tidak peduli. Air liurnya tiba-tiba saja memenuhi mulutnya saat melihat foto-foto aneka makanan yang ada di buku menu yang kini tengah dia pegang.
__ADS_1
"Jangan lupa semua ini tidaklah gratis!"
Bersambung…