Sasaran Balas Dendam

Sasaran Balas Dendam
Berbicara Berdua


__ADS_3

Malam dimana acara pertemuan keluarga Addison dan Subagja akhirnya tiba.


Devan menatap Bia yang mengenakan dres yang dia kirimkan tadi siang. Dres putih model sabrina yang dipadukan dengan make up simpel dengan sentuhan blush on dan lipstik berwarna peach.


Sangat cantik untuk gadis yang biasanya jarang merias dirinya, tapi Devan sama sekali tidak tertarik dengan sosok sempurna Bia malam ini. 


Tidak ada gadis atau perempuan manapun yang berhasil menggetarkan hatinya. Mungin belum ada atau mungkin tidak akan pernah ada, semua itu hanya Devan dan Tuhan yang tahu.


Devan masih terbelenggu dengan jerat masa lalunya, gadis kecil yang dulu dia tinggalkan di taman saat sedang menangis.


Bayangan gadis kecil yang saat itu menggenggam tangannya dengan erat saat dirinya hendak pergi, selalu saja mengganggu dirinya saat melakukan pendekatan atau hendak menjalin hubungan dengan perempuan manapun.


Devan masih merasa bersalah meninggalkan gadis kecil yang saat itu tertinggal oleh orang tuanya di taman.


Gadis kecil yang tidak Devan ketahui siapa namanya dan dimana tempat tinggalnya.


"Dev, kamu yakin pernikahannya akan dilaksanakan dua minggu lagi?" tanya Oma Gendis meyakinkan.


"Iya, Oma. Lebih cepat lebih baik," balas Devan yang mulai jengah dengan situasi sekitarnya, apalagi dengan Amel yang sedari tadi terus saja mencuri-curi pandang ke arahnya.


"Ya sudah, karena Biandra sendiri sudah menyetujuinya. Kami ikut yang Nak Devan inginkan," balas Doni yang saat itu duduk berdampingan dengan Lisa dan Amel di seberang Devan dan Oma Gendis, sementara Bia duduk sendiri di sofa single.


Bia sedari tadi hanya menundukan wajahnya saja, Bia tidak banyak bersuara sedari tadi.


"Saya yang akan mengurus semuanya, saya tidak ingin rencana pernikahan saya berantakan kalau diurus pihak anda," ucap Devan dengan tatapan tajam ke arah Lisa dan Amel.


Lisa dan Amel langsung menatap tak percaya ucapan laki-laki tampan yang ada di hadapannya.


'Sial!' batin keduanya bersamaan.


Devan tersenyum miring ke arah Amel yang hampir tidak berkedip dari tadi saat memandangnya.


Gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu tersenyum malu, menundukan kepalanya dan menyelipkan rambutnya ke samping telinga.


'Menjijikan.'


Devan mengedarkan pandangannya ke penjuru ruang tamu yang digunakan untuk pertemuan mereka. Kening Devan sedikit berkerut saat melihat foto keluarga yang menggantung di ruangan itu hanya ada Doni, Lisa dan Amel.


Pandangan mata Devan beralih kepada beberapa foto yang ada di lemari pajangan, lagi-lagi tidak ada foto calon istrinya itu.


'Sepertinya ada yang terlewatkan?'

__ADS_1


Obrolan terus bergulir yang didominasi Oma Gendis, Doni dan Lisa. 


Lisa begitu antusias berbicara dengan perempuan tua yang masih terlihat cantik dan awet muda di hadapannya dan juga gaya dan penampilannya sangat fashionable. Jelas sekali menggambarkan sosok darah biru yang dia miliki.


Perhiasan simpel namun berharga fantastis yang di kenakan Gendis juga mencuri perhatian Lisa yang juga seorang sosialita, pastinya tau betul tren perhiasan yang populer masa kini dan juga perkiraan harganya.


Amel terus saja mencuri-curi pandang ke arah Devan.


'Tampan sekali laki-laki ini, beruntung baget Bia jadi istrinya,' batin Amel sekilas merilik ke arah Bia yang masih menundukan wajahnya tanpa ekspresi. 'Cih, sok lugu sekali dia!'


Semenyata Bia ingin segera lepas dari situasi yang tidak mengenakan ini, apalagi dengan baju yang dia kenakan. Terlalu terbuka dan membuatnya tidak nyaman.


"Biandra, bisakah kita bicara berdua?" tanya Devan tiba-tiba, membuat Bia mengangkat kepalanya dengan perlahan.


Bia menganggukan kepalanya tanda setuju.


"Saya permisi ke depan sebentar," ucap Devan pamit terlebih dahulu kepada orang-orang yang ada disekitar mereka.


Semua orang yang ada di sana menganggukan kepalanya tanda setuju.


"Ayo." Tanpa permisi Devan langsung menarik pergelangan tangan Bia.


Sementara ketiga orang tua yang masih ada di sana meneruskan obrolan mereka. Membahas mengenai pernikahan yang akan diselenggarakan dua minggu lagi itu.


"Kita bicara di mobil saya," ucap Devan setelah keluar dari pintu rumah Doni Subagja.


"Iya," balas Bia yang berusaha mengimbangi langlah lebar Devan.


Sopir Devan yang kebetulan menunggu di luar langsung saja menghampiri sang tuan yang tengah berjalan ke arah mobil mewah miliknya.


"Saya hanya ingin berbicara sebentar di dalam mobil," ucap Devan saat sopir itu membukakan pintu mobil untuknya.


"Baik, Tuan," balasnya kembali menutup pintu mobil dan membiarkan Devan bersama Bia di dalam sana.


Devan dengan gaya angkuh dan arogan, langsung duduk dengan punggung yang tersandar di sandaran kursi mobil dan kedua kakinya yang terlipat, sedangkan Bia menatap lurus ke depan. Wajahnya tak lagi tertunduk seperti tadi.


"Jadi apa yang ingin anda bicarakan kepada saya?" tanya Bia formal.


"Kita tidak usah bersikap formal seperti ini," balas Devan.


"Baiklah." Sekilas Bia melirik ke arah Devan yang juga tengah menatap dirinya.

__ADS_1


Sebagai seorang perempuan normal, Bia tentu saja terpesona dengan sosok yang kini tengah duduk di sampingnya itu. Wajah tampan, hidung mancung, tinggi proporsional, tubuh atletis dengan balutan kemeja berwarna putih yang dipadukan dengan celana kain warna hitam dan v-neck sweater berwarna navy. Tampilan semi formal yang membuat pria berdarah campuran itu semakin terlihat menawan.


Hanya saja Bia tidak ingin tergoda dengan pesona laki-laki yang ada di sampingnya itu.


"Kamu tau pernikahan apa yang akan kita jalani?" tanya Devan dengan kedua tangan yang sudah berlipat di dada.


"Pernikahan bisnis, dengan aku yang entah jadi jaminan atau penebus hutang," balas Bia lagi dengan tatapan lurus ke depan.


Devan sekilas tersenyum sinis, ternyata Bia sekuat yang dia kira. Sesuai dengan informasi yang dia dapatkan dari Kean.


Bia tidak sedikitpun merasa gentar apalagi terintimidasi dengan kehadiran Devan di sisinya, sangat berbeda sekali dengan Bia yang tadi saat di rumah.


"Ya kamu betul. Ini pernikahan bisnis dengan kamu yang saya minta sebagai imbalannya, bukan sebagai jaminan atau penebus hutang."


Bia tersenyum kecut dan Devan melihatnya.


"Kenapa harus aku?" tanya Bia lagi yang tidak ingin menatap Devan, Bia khawatir hati dan pikirannya tidak bisa sejalan dengan tubuhnya.


"Saya butuh perempuan tangguh untuk jadi pendamping saya," balas Devan jujur.


Bia menggelengkan kepalanya, memberanikan diri menatap Devan dan membalikan tubuhnya sehingga menghadap Devan.


"Aku tidak termasuk kriteria anda, Em Tuan," balas Bia ragu harus memanggil Devan dengan sebutan apa.


"Panggil nama saja." Devan yang memiliki kepekaan yang tinggi langsung paham dengan kondisi Bia.


"Itu tidak sopan."


"Terserah kamu," balas Devan mulai malas dengan pembahasan yang keluar dari jalur, Devan bukan tipe laki-laki yang suka berbasa basi.


"Jadi apa yang kamu mau bicarakan?" tanya Bia lagi.


Devan mengangkat sebelah alisnya dan juga satu sudut bibirnya. 'Berani juga dia, tadi katanya bilang tidak sopan. Cih!' cibir Devan dalam hati.


"Saya tidak akan menawarkan kontrak dalam pernikahan kita, tapi saya meminta beberapa hal kepada kamu," ucap Devan.


Bia sedikit terlonjak kaget, dia kira Devan akan memberlakukan kontrak pernikahan seperti pada drama-drama yang biasa Devia dan Rinjani lihat.


Bersambung...


Hallo, selamat datang di karya otor yang pertama disini, semoga suka dan semoga terhibur.

__ADS_1


__ADS_2