Sasaran Balas Dendam

Sasaran Balas Dendam
Seorang Cicit?


__ADS_3

"Dev kamu mau kemana?" tanya Gendis saat Devan sudah rapi dengan setelan kerjanya.


Perempuan tua itu terus saja memperhatikan penampilan cucu sulungnya yang sama sekali tidak ada perubahan setelah menikah sekalipun.


"Ke kantor, Oma," balas Devan dingin.


Gendis tentu saja tidak suka mendengar jawaban yang barusan dikatakan Devan untuk membalas pertanyaannya.


Sebagai pasangan pengantin baru, seharusnya Devan merencanakan kepergian untuk berbulan madu. Bukan malah bekerja seperti ini.


"Kamu tidak ingin melakukan bulan madu? Mengunjungi negara asal kakekmu misalnya," tanya Gendis sekaligus menyarankan Devan untuk mengunjungi negara asal suaminya yang tak lain adalah kakek Devan sendiri.


"Tak perlu jauh-jauh pergi ke luar negeri Oma. Aku bisa melakukannya di sini, kapanpun saat aku mau."


Gendis menghembuskan nafasnya pelan, cucu sulungnya masih saja keras kepala seperti semula.


"Mana Bia?" tanya Gendis berusaha mengalihkan pembicaraan yang tidak akan bisa merubah keadaan saat ini.


Sebagai orang yang paling dekat dengan Devan, tentu saja Gendis paling mengerti bagaimana sikap dan juga watak cucunya ini.


Kalau Devan sudah berkata begitu, sulit sekali untuk bisa mengalihkan haluannya.


"Masih tidur," jawab Devan dengan sedikit senyuman tipis di bibirnya.


"Karena kamu sudah menikahi Bia, saat ini kamu sudah memiliki tempat untuk kembali. Di saat hasrat dan keinginan kamu sedang meluap, pulanglah ke rumah. Jangan sampai kamu mencari rumah lain di luar sana," ucap Gendis syarat akan nasehat yang langsung saja menghunus tepat di hati sanubari Devan.


Devan mengganggu samar, dirinya paham kemana arah pembicaraan Gendis saat ini.


"Davin dan Jazlyn akan melanjutkan liburannya ke Raja Ampat, bujuk Davin untuk segera menikahi Jazlyn, Dev."


"Aku akan mencobanya."


"Oma yakin Davin akan menuruti perkataan kamu," kata Gendis sedikit lirih.


Dirinya sudah tidak muda lagi, usianya semakin lama semakin berkurang dan Gendis sadar betul saat ini yang namanya kematian pasti sudah mengintai dirinya.


Dan sebelum hari itu tiba, Gendis ingin melihat kedua cucunya menikahi gadis pujaannya masing-masing. Walaupun Gendis tahu Bia bukan gadis yang dinikahi Devan karena cinta, tapi setidaknya Devan sudah berjanji dihadapan Tuhan, kalau dirinya menerima kekurangan dan juga kelebihan yang ada dalam diri Bia sepenuhnya.


"Jangan banyak pikiran, sekarang Oma sudah ada teman. Oma tidak akan kesepian lagi jika ada di rumah, aku akan segera mengurus perusahaan bersama jajaran direksi dan para petinggi perusahaan," ucap Devan setelah menghabiskan sarapannya.

__ADS_1


"Segera beri Oma cicit, Dev. Oma rindu tangisan bayi di rumah ini." Senyum Gendis kembali mengembang lebar setelah dirinya mengutarakan permintaan yang langsung saja diangguki kepala oleh Devan.


*


Bia terbangun dengan tubuh yang terasa begitu pegal, pangkal pahanya terasa kebas dan juga cukup ngilu.


Bia mendesis begitu dirinya bangun dari tidurnya.


"Astaga jam sembilan," pekik Bia kaget begitu melihat jam dinding yang berukuran cukup besar yang ada di dekat pintu kamar.


Bia langsung saja mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar luas yang baru satu malam di tempati bersama dengan laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya, Devan.


"Ah rupanya kehidupan baru sudah di mulai," kata Bia pelan.


Menjadi nyonya muda dari keluarga Addison merupakan sebuah hal yang tidak pernah Bia bayangkan sebelumnya.


Kehidupan penuh kebebasan yang sebelumnya Bia impikan, harus kembali Bia kubur dalam-dalam dan Bia harus kembali menyesuaikan diri dengan penjara berjeruji emas, berlapiskan intan berlian ini.


Setelah membersihkan diri dan juga sedikit merias wajahnya, Bia perlahan menuruni anak tangga yang melingkar begitu megah di tengah rumah mewah yang begitu luas itu.


'Lebih sepi dan sunyi jika dibandingkan dengan rumah ayah,' batin Bia.


"Nyonya Muda sarapan anda sudah siap."


Bia cukup risih dengan perlakuan yang saat ini diterimanya, bagaimana juga di kehidupan sebelumnya derajat Bia tidak jauh beda dengan perempuan yang saat ini ada di hadapannya.


"Nanti saja sekalian makan siang," balas Bia, karena memang dirinya belum ingin mengisi perutnya.


"Tapi Nyonya Muda," sanggah perempuan berusia sekitar 30 tahunan itu.


"Tidak papa, Mbak, saya belum lapar," balas Bia yang mengurungkan niatnya yang hendak protes akan panggilan yang tersemat pada dirinya saat ini.


Tapi Bia kembali berpikir, takut malah membuat perempuan yang begitu sopan di hadapannya terlibat masalah hanya karena sebuah nama panggilan saja.


"Oma ada di mana ya?" lanjut Bia dengan cepat memotong perkataan yang hendak diucapkan oleh perempuan yang ada di hadapannya itu.


"Nyonya Gendis ada di halaman belakang, Nyonya, di rumah kaca."


"Rumah kaca?" ulang Bia setengah bergumam.

__ADS_1


"Anda mau kesana?" tanya perempuan yang belum sempat Bia tanyakan siapa namanya.


"Ya, boleh."


"Mari saya antar."


Sekali lagi Bia benar-benar dibuat tidak nyaman dengan perlakuan yang menurutnya sangat berlebihan itu.


Bagaimana mungkin perempuan yang usianya lebih tua jika dibandingkan dengan dirinya, memperlakukan dirinya begitu sopan.


Sangat berbanding terbalik sekali dengan Amel adiknya yang menurut dia minim etika dan sopan santun.


"Loh, Bi, ngapain kesini Sayang?" tanya Gendis yang menyadari kehadiran Bia menuju ke arah dirinya yang sedang merawat bunga-bunga peliharaannya.


"Aku bosan Oma," bohong Bia, padahal dirinya baru saja bangun. 


Bia ingin mengakui kalau dirinya terlambat bangun, tapi malu karena ini baru hari pertama tapi Bia sudah melakukan sebuah kesalahan.


Gendis yang memang menyadari kedatangan Bia tentu saja memperhatikan kedatangan cucu menantunya yang saat ini terlihat begitu segar.


Tapi perhatian Gendis tidak terfokus pada hal itu, melainkan pada cara Bia berjalan yang sedikit mengangkang.


Sebuah senyuman manis kembali menghiasi wajah tua Gendis, tentu saja perempuan itu senang karena harapannya yang tadi pagi disampaikan kepada Devan, mungkin saja akan segera terlaksana dan memang Gendis sangat mengharapkan hal itu.


"Sini duduk disini," ajak Gendis.


"Ina bawakan minuman dan camilan ke sini," lanjut Gendis.


Keduanya duduk di sebuah gazebo yang ada di tengah-tengah rumah kaca yang dikelilingi berbagai macam tanaman bunga koleksi Gendis.


Suasana asri tentu saja keduanya rasakan, mengalihkan hawa panas dari sang surya yang perlahan meninggi.


"Oma senang kamu mau menerima Devan terlepas dari pertemuan kalian yang begitu singkat," kata Gendis mengawali perbincangan keduanya.


"Bia senang kalau Oma juga senang," balas Bia tulus.


"Oma berharap kamu dan Devan bisa segera memberi Oma seorang cicit," ucap Gendis sambil mengusap punggung tangan Bia yang ada di atas pangkuannya.


Bia yang mendengar permintaan Gendis yang terdengar tulus di telinganya hanya mampu menganggukan kepalanya pelan.

__ADS_1


'Seorang cicit?' batin Bia yang belum memikirkan sampai ke arah sana.


Bersambung...


__ADS_2