Sasaran Balas Dendam

Sasaran Balas Dendam
Jaga Anak Saya Baik-baik!


__ADS_3

Amarah dan dendam yang lebih dulu menguasai, kerap kali membuat Devan memperlakukan Bia dengan kasar ketika sedang di atas ranjang.


Devan kadang tidak peduli dengan rintihan yang keluar dari bibir Bia.


Yang terpenting hasr*tnya terpenuhi, Devan rasa itu sangat cukup.


Tapi tak jarang Devan juga memperlakukan Bia dengan begitu lembut, seakan penuh kasih sayang yang selalu membuat Bia terlena untuk sesaat.


Sama seperti saat ini misalnya, Bia tengah menikmati permainan Devan yang begitu lembut. Seolah-olah Devan begitu menyayangi dirinya dan memperlakukannya bagaikan sebuah telur yang rentan pecah.


'Andai saja selamanya kamu begini,' batin Bia menatap wajah Devan yang nampak memerah.


Devan berguling ke sisi tubuh Bia, kemudian membawa tubuh mungil Bia masuk ke dalam dekapannya.


Sungguh hal yang selalu membuat Bia kerap kali terlena dan selalu saja menganggap kalau semua ini nyata.


'Aku bahkan belum bisa memahami kamu walaupun pernikahan kita sudah berjalan lebih dari satu bulan." Bia kembali membatin saat berada di dalam dekapan Devan.


*


"Bi, Biandra!" Devan memanggil Bia seiring dengan gedoran pada pintu kamar mandinya.


"Biandra!" panggil Devan lagi setengah berteriak.


Waktu terus saja bergulir, biasanya Devan jam segini sudah siap dengan tampilan rapinya. Tapi saat ini Devan bahkan belum mandi.


Devan yang tidak bisa sabar tentu saja terus mengetuk pintu kamar mandi itu dengan bibir yang terus saja menyerukan nama Bia.


"Astaga kenapa perempun ini? Tumben sekali?!" gerutu Devan.


Devan hampir saja mandi dan membersihkan diri di kamar lain, tapi baru saja Devan melangkahkan kaki dari depan pintu kamar mandi, pintu kamar mandi itu lebih dulu terbuka.


Devan yang kesal tentu saja hampir menegur Bia yang sudah berani membuat dirinya menunggu.


"Kamu..." Devan menggantung kalimatnya saat melihat wajah Bia yang sangat pucat.


"Kamu kenapa?" Kekesalan Devan yang semula memuncak, kini berganti dengan rasa khawatir yang sangat luar biasa.


"Aku, ahh." Belum sempat Bia menyelesaikan kalimatnya, tapi Bia lebih dulu kembali ke kamar mandi.


Devan tentu saja tidak membiarkan Bia begitu saja dan membuntutinya dari belakang.


"Ck, kamu ini kenapa? Makan apa kok bisa muntah-muntah gini?" tanya Devan sambil memijat tengkuk Bia yang sedang berusaha mengeluarkan isi perutnya lagi.


"Menyusahkan saja!" gerutu Devan tanpa menghentikan gerakan tangannya di tengkuk Bia.

__ADS_1


Setelah merasa kembali lega, Bia beberapa kali membersihkan mulutnya yang terasa pahit dengan cara berkumur-kumur.


Bia langsung saja memeluk tubuh Devan yang sedari tadi berada di belakangnya.


"Aku mual banget," rengek Bia di dalam pelukan Devan. Kali ini Bia tidak peduli akan sikap Devan yang selama ini masih dingin kepadanya.


"Lepas, saya mau mandi dulu. Habis itu kita ke rumah sakit!" kata Devan tegas.


Bia mengangguk dalam dekapan Devan dan dengan berat hati Bia harus melepaskan tubuhnya dari tubuh Devan.


"Tunggu dulu di luar."


Walaupun selama menikah sikap Devan kepada Bia bisa dikatakan cukup acuh. Tapi tetap saja sisi kemanusiaan yang ada di dalam diri Devan tergugah, apalagi saat melihat wajah pucat Bia. Bagaimana juga Devan bertanggung jawab atas hidup Bia.


Entah belum ada benih-benih cinta yang tumbuh di antara keduanya atau memang keduanya sengaja menahan rasa itu supaya tidak mencuat ke permukaan. Karena teringat akan pernikahan yang keduanya jalani hanyalah sebuah pernikahan bisnis semata, terutama untuk Devan yang memang memiliki misi dan ambisi yang saat ini sedang depan tuntaskan kepada keluarga Doni Subagja.


Devan bersiap dengan hati yang sedikit menggerutu, pasalnya karena Bia yang lama di kamar mandi dirinya harus terlambat datang ke kantor dan harus mengantar Bia ke rumah sakit terlebih dahulu, tapi walaupun begitu sedari tadi Devan terus saja memperhatikan Bia yang sedang menyandarkan tubuhnya dengan mata terpejam di atas sofa.


'Hah! Merepotkan saja!' keluh Devan dalam hati.


Sebagai seorang manusia normal, Devan tentu saja memiliki hati dan perasaan.


Selama ini Devan selalu mengklaim kalau hati dan perasaannya sudah mati seiring dengan tanah merah yang menimbun beberapa anggota keluarganya sekaligus. Tapi tetap saja rasa itu kerap kali muncul dan mencuat ke permukaan hati Devan, sama seperti halnya saat ini Devan sebenarnya begitu khawatir akan kondisi Bia.


*


Bia sedang ditangani oleh salah satu dokter perempuan, setelah sebelumnya dokter pribadi Devan yang kebetulan praktek di rumah sakit itu menyarankan Devan membawa Bia ke bagian obstetri dan ginekologi.


"Wah selamat Tuan, Nyonya, sebentar lagi kalian akan segera menjadi orang tua," kata dokter perempuan yang sedari tadi begitu fokus memeriksa kondisi Bia.


"Benarkah?" Raut wajah Devan yang semula kesal kini berubah sumringah seiring dengan kabar baik yang memang selama ini sudah dinantinya.


"Betul Tuan, menurut perhitungan ini sudah memasuki minggu ke enam," balas dokter perempuan itu.


Bia menatap Devan, ternyata laki-laki itu sedang menatap layar monitor yang menampilkan janin mungil yang saat ini masih berbentuk titik yang tampak monitor.


Sebagai seorang perempuan yang kodratnya mengandung dan juga melahirkan. Tentu saja Bia sangat senang mendengar kabar yang sangat membahagiakan ini.


"Banyak hal yang harus dihindari terutama di trimester pertama kehamilan, janin yang sedang berkembang masih begitu rentan. Apalagi terhadap beberapa guncangan, saya sarankan Tuan dan Nyonya sedikit mengurangi intensitas hubungan suami istri kalian." Jelas dokter perempuan itu setelah selesai memeriksa kondisi Bia.


Devan yang mendengar penjelasan dokter barusan tentu saja langsung mendengus kesal.


"Harus begitu?" tanya Devan singkat dan datar.


"Seharusnya memang begitu Tuan, tetapi selama Nyonya Biandra tidak ada keluhan ketika sedang atau sesudah melakukan hubungan badan, kegiatan itu tetap aman dilakukan. Asal anda melakukannya dengan lembut dan hati-hati," balas dokter perempuan itu yang sepertinya sadar telah menyinggung sosok terkenal yang saat ini ada di hadapannya.

__ADS_1


Devan mengangguk samar.


Setelah Kean mengambil resep obat dan vitamin untuk Bia, kini mobil yang ditumpangi Devan dan satu mobil yang selalu mengawal Devan ke mana pun pergi, sudah tiba di kediaman Gendis Adiratna.


Gendis yang dari tadi cemas akan kondisi Bia langsung saja menghampiri kedua cucunya begitu Bia dan Devan tiba di rumah.


"Bagaimana? Bia sakit apa? Tidak ada yang seriuskan?" cecar Gendis.


"Oma tidak perlu khawatir, Bia baik-baik saja dan..." Devan sengaja menggantung kalimatnya.


Sementara Bia hanya mampu mengulas senyum tipis di bibirnya.


"Dan ada Dev?" Sesuai dugaan Devan sebelumnya, Devan memang sudah menebak reaksi Gendi saat ini.


"Dan Oma sebentar lagi akan mendapatkan seorang cicit," balas Devan.


"Benarkah?" tanya Gendis memastikan, kedua bola mata perempuan tua itu langsung saja tertuju kepada Bia yang saat ini tengah menganggukkan kepalanya.


"Astaga, puji syukur. Oma sudah mengiranya dan ternyata tebakan Oma benar," kata Gendis yang langsung saja memeluk Bia dengan penuh kasih sayang. "Selamat Sayang, sebentar lagi kamu akan jadi seorang ibu. Jaga baik-baik cicit Oma."


"Iya, Oma," balas Bia.


Devan yang melihat pemandangan itu tentu saja tidak tinggal diam, melihat punggung Gendis yang bergetar, Devan langsung saja mengusap punggung wanita yang selama ini selalu ada di sampingnya.


"Dev, bawa Bia ke kamar. Perempuan hamil harus banyak istirahat, apalagi hamil muda begini," perintah Gendis sambil menyeka air mata bahagianya.


"Baik, Oma."


Devan langsung sana menuruti perkataan Gendis dan membawa Bia ke lantai atas.


"Jangan naik turun tangga, kalau ada apa-apa telepon Oma atau pelayan."


"Iya, Dev," balas Bia patuh.


"Minum obatnya, habis itu tidur. Saya harus ke kantor," sambung Devan sambil melirik jam yang melingkar di tangan kirinya.


"Iya."


"Satu lagi, jaga anak saya baik-baik!"


"Iya," balas Bia singkat, dengan senyuman yang sedari tadi terus saja terulas di bibirnya.


Bia berharap kehamilannya bisa memberikan dampak baik untuk rumah tangganya dengan Devan. Terlepas dari tujuan Devan menikahinya karena tujuan apa, Bia hanya berharap pernikahannya selalu diberkahi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2