
"Bi yakin gak mau di anterin?" tanya Devia saat di parkiran.
"Yakin," balas Bia. "Kasian kamu nanti harus muter-muter anterin aku sama Jani," lanjut Bia lagi yang mulai berjalan ke luar cafe.
"Ya udah, hati-hati dijalan, Bi," balas Devia yang sudah berada di samping mobil miliknya bersama Rinjani.
Bia hanya mengacungkan ibu jarinya dari kejauhan.
Kehadiran Devia dan Rinjani sedikit mengobati kegundahan dalam diri Bia, tapi sekarang Bia butuh waktu sendiri.
Bia ingin menghabiskan waktu bebasnya yang hanya tinggal hitungan hari lagi. Menikmati kebebasannya sendirian.
Hari masih belum larut, kendaraan dan para pejalan kaki masih banyak yang berlalu lalang. Bia memutuskan untuk berjalan kaki menikmati dunia luar sebelum mendiami sangkar emas milik lelaki yang akan menjadi suaminya.
"Hah! Suami?" gumam Bia seiring dengan langkah kakinya yang terus membawanya menjauh.
Rencananya Bia akan naik ojek setelah setengah perjalanan, lumayan untuk menghabiskan malam dengan berjalan kaki. Entahlah berada dirumah saat masih sore begini sangatlah malas, Bia tidak ingin jadi bulan-bulanan Lisa dan Amel.
Langkah Bia semakin jauh, Bia berjalan dengan kedua tangan yang menyilang di dada, Bia tidak mengenakan jaket, hanya kemeja oversize yang dipadukan dengan celana jeans yang warna nya sudah sedikit memudar. Jadi udara malam langsung saja terasa menusuk kulitnya.
CITTT!
Bia terlonjak kaget saat mendengar sebuah kendaraan berhenti mendadak tidak jauh darinya disertai dengan bunyi nyaring klakson dari kendaraan di belakangnya. Bia kira itu kecelakaan atau apa, dengan reflek Bia langsung saja menatap ke arah sumber suara.
"MASUK!"
Alangkah kagetnya Bia saat mendengar teriakan seseorang dari dalam mobil yang kini tengah Bia tatap.
"MASUK BIANDRA!" teriaknya lagi, membuat Bia tersadar dari keterkejutannya dan dengan cepat memasuki mobil sport mewah berwarna hitam itu.
Bia tidak kuasa menolak apalagi sorot tajam dari orang yang berada di balik kemudi mobil itu.
"Kenapa malam-malam masih saja keluyuran?" tanyanya dingin tanpa menoleh ke arah Bia.
"Aku, em-"
"Saya tidak suka BIANDRA!" ucapan Bia terpotong cepat dengan sorot mata tajam ke arahnya.
"Maaf," cicit Bia mulai merasa takut. Entahlah melihat tatapan nyalang itu sedikit membuat nyali Bia menciut.
Seterusnya hanya ada keheningan, Bia bahkan tidak berani menatap ke arah laki-laki yang duduk dibalik kemudi dengan wajah penuh amarah.
'Apa yang salah?' batin Bia.
Mobil mewah itu menepi di jalanan yang cukup lengang dan sepi.
Devan membuka seat belt yang menyilang di dadanya. Kemudian membalikan tubuhnya agar menghadap Bia yang tengah menundukan wajahnya.
__ADS_1
Devan mendengus dengan senyum miring kembali menghiasi wajah bulenya.
Mangsanya sudah mulai masuk ke dalam jerat permainannya dan itu sangat menyenangkan menurut Devan.
Sementara Bia mulai merasa tidak nyaman dengan situasinya, alarm dalam tubuhnya mulai bereaksi.
"Besok kamu tidak usah bekerja lagi," ucap Devan tiba-tiba.
Mendengar kalimat itu tentu saja mata Bia langsung saja membulat.
Mau apa dirinya kalau tidak bekerja?
Bia tidak ingin berada di rumah terus.
Devan tetap dengan ekspresi datarnya, tidak ada ekpresi lainnya melihat keterkejutan Bia.
"Kenapa?" tanya Bia memberanikan diri, sungguh tatapan Devan sangat mengintimidasi dirinya.
"Saya tidak suka kamu keluyuran," balas Devan. "Apa kata orang kalau tau perempuan yang akan menjadi istri seorang Addison bekerja di sebuah cafe?"
Bia membulatkan matanya mendengar penuturan Devan barusan, harga dirinya mulai terusik.
"Apa yang salah dengan pekerja cafe?"
"Yang salah adalah kamu anak Doni Subagja, kalau bukan itu tidak akan menjadi masalah," jawab Devan cepat.
"Aku mohon, biarkan aku tetap bekerja di cafe. Sebelum hari pernikahan itu tiba." Bia tidak ingin mengalah begitu saja.
"Dengan satu syarat."
"Apa?" tanya Bia cepat.
"Akan ada sopir yang mengantar jemput kamu," tegas Devan.
"Tapi-"
"Saya tidak suka penolakan, BIANDRA!"
Devan dengan ciri khasnya, kalau dia sedang marah maka dia akan berbicara dengan bahasa formal terhadap lawannya.
Dengan lemah Bia menganggukan kepalanya, asalkan dia masih bisa bekerja dan berada di luar rumah itu baginya sudah sangat cukup.
"Bagus, anak pintar!" Devan kemudian memposisikan dirinya lagi di depan kemudi, kembali mengenakan seat belt dan mulai melajukan kendaraannya.
Hanya keheningan yang menyelimuti perjalanan dua orang manusia yang sebentar lagi akan disatukan dengan ikatan tali pernikahan.
'Mau ke mana ini?' batin Bia saat mobil Devan melewati jalan komplek perumahannya.
__ADS_1
Bia sedang tidak ingin berdebat dengan Devan, Bia juga malas bertanya kepada Devan mengingat sikap laki-laki itu barusan.
Sementara Devan sendiri tidak peduli dengan Bia yang ada di sampingnya, perempuan itu menutup mulutnya lebih baik daripada banyak bicara yang akan membuat dirinya muak.
Lima belas menit kemudian Devan memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah restoran mewah di daerah itu.
"Bia ada bersama saya," ucapnya dan langsung saja mematikan sambungan teleponnya.
"Turun!" perintah Devan dan Bia menurutinya begitu saja.
Devan kembali mendengus, dia kira Bia akan mempertahankan sikap pemberaninya. Ternyata Bia kembali kepada dirinya yang pura-pura lemah.
'Dasar bermuka dua,' umpatnya dalam hati. 'Semua wanita sama saja!'
Devan berlalu begitu saja meninggalkan Bia yang baru saja keluar dari mobil miliknya, dengan terpaksa Bia menyusul langkah lebar Devan.
"Silahkan Tuan," ucap seorang pelayan yang menyodorkan buku menu kepada Devan yang sudah menempati privat room.
Pelayan restoran itu langsung saja mencatat pesanan Devan. "Kamu mau pesan apa?" tanya Devan saat melihat Bia masih membolak balikkan buku menu.
"Aku masih kenyang," balas Bia sambil menutup buku menu itu.
Devan mengangkat satu bahunya acuh. "Tambah jus alpukat saja."
"Baik, Tuan." Pelayan itu kemudian meninggalkan Devan dan Bia yang kembali saling diam.
Tidak ada obrolan yang keluar dari keduanya, selain memang tidak ada yang ingin mereka bicarakan.
Tanpa meminta persetujuan Bia, Devan langsung saja menyulut rokok miliknya. Asap putih langsung saja mengepul dari bibir pria berdarah campuran itu.
Bia mulai gelisah di tempat duduknya, seiring dengan kepulan asap putih yang terus berhembus dari bibir Devan.
"Em-" gugup Bia. "Aku ke toilet dulu," pamitnya yang sudah beranjak dari duduknya.
Devan hanya menganggukan kepalanya, laki-laki arogan itu masih di posisi santainya dengan punggung yang dia sandarkan ke sandaran kursi yang tengah dia duduki.
Bersamaan dengan pelayan restoran yang datang dengan pesanan Devan, Bia juga kembali dari toilet. Wajahnya sedikit memerah.
"Makanlah," Devan menyodorkan satu porsi steak kepada Bia. "Itu tidak akan membuat lambung kamu penuh," lanjut Devan tanpa memperhatikan perubahan pada raut wajah Bia.
Dengan gaya santai namun tetap elegan dan berkelas, Devan menyantap makan malam miliknya, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya Devan makan malam berdua bersama dengan seorang perempuan yang tak lain adalah calon istrinya sendiri.
Wanita yang sebentar lagi akan sah Devan nikahi.
'Heh, istri?' cibirnya dalam hati.
Bersambung…
__ADS_1