Sasaran Balas Dendam

Sasaran Balas Dendam
Informasi Tentang Amel


__ADS_3

Amel melemparkan ponselnya begitu saja, gadis itu baru saja mengirim pesan kepada Lisa kalau dia akan pulang nanti siang dengan alasan masih ingin tidur karena masih lelah sisa acara hari kemarin.


Padahal pada kenyataannya gadis itu ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama sang kekasih yang saat ini sedang mengajak dirinya kembali mengarungi nirwana.


"Aw, pelan-pelan Ris," kata Amel pada kekasihnya yang bernama Haris.


"Ini juga pelan-pelan, loh, Sayang," elak Haris kemudian membenamkan kembali wajahnya pada puncak dada Amel.


"Kamu makin nakal Sayang," racau Amel yang sudah kehilangan kewarasan dalam dirinya.


Amel dan Haris benar-benar memanfaatkan waktu kebersamaan mereka yang bebas dari pantauan Lisa yang begitu overprotektif kepada Amel.


Bagaimana juga Amel ingin merasakan kebebasan dan jauh dari pantauan ibunya yang selalu saja melarang dirinya untuk melakukan hal yang ada di luar batas seperti saat ini.


Tapi yang namanya setan tidak mengenal waktu dan tempat, apalagi mau berkenalan dengan orang yang ingin disesatkan olehnya.


Amel dan Haris larut dalam kegiatan ranjang yang membuat tubuh keduanya dibanjiri dengan keringat. Penuh kenikmatan yang tanpa sadar akan membawa keduanya pada lembah yang semakin dalam, semakin gelap semakin hitam. Tanpa ada jalan ataupun penerangan yang akan membawa keduanya kembali pada permukaan.


"Ah Ris kenapa kamu keluarkan di dalam?" protes Amel saat Haris mendapatkan pelepasan.


"Nanggung Sayang, kalau di luar mana enak. Lagian pengaman kita juga udah abis," elak Haris.


"Ish, kamu ini!" Amel buru-buru saja mendorong tubuh Haris yang masih berada di atas tubuhnya. Dengan sisa kekuatan yang masih tersisa di tubuhnya, Amel langsung saja berlari ke kamar mandi untuk membersihkan area kew4nitaannya.


Amel dengan cepat membersihkan cairan penuh benih milik Haris, lelaki yang sudah menjadi kekasihnya selama enam bulan ini.


"Aku gak mau hamil, aku masih muda. Masih ingin menikmati masa bebas!" kata Amel sambil membersihkan tubuhnya.


***


Devan kembali dari ruang kerjanya dan langsung saja disuguhkan dengan pemandangan tenang dari wajah perempuan yang kemarin pagi dinikahinya.


Devan mendudukkan tubuhnya di pinggiran tempat tidur. Kemudian memperhatikan wajah tenang Bia yang sepertinya tidak terganggu dengan kehadiran dirinya.


'Kamu terlihat begitu polos ketika sedang terlelap seperti ini, tapi ketika kamu sedang terjaga kamu terlalu banyak teka-teki yang membuatku menyesali keputusan yang telah aku ambil,' batin Devan dengan kedua bola mata yang terus saja menetap ke arah Bia.


Dering dari ponsel yang ada di saku celananya sontak saja membuyarkan lamunan Devan yang sedang menyusun ulang rencana yang sebelumnya sudah matang, lebih tepatnya menyusun rencana kedua jika rencana yang pertama gagal.


"Saya ada di bawah, Tuan," kata si penelepon begitu Devan menempelkan benda pipih itu di telinganya.

__ADS_1


Tanpa ingin menjawab perkataan dari si penelpon yang tak lain adalah Kean, Devan langsung saja memutus panggilan itu secara sepihak dan dengan cepat bergegas menemui asistennya.


Benar saja Kean sudah menunggu di teras depan dan laki-laki itu sedang fokus dengan benda pipih yang ada di tangannya.


"Informasi apa yang kamu bawa?" kata Devan langsung pada inti pembicaraan.


"Ini, Tuan," balas Kean sambil menyodorkan sebuah amplop coklat ke arah Devan.


"Sisanya menyusul," lanjut Kean.


Devan menyeringai ketika melihat isi amplop yang diberikan Kean kepadanya barusan. Devan merasa puas karena tidak sia-sia mengeluarkan uang banyak untuk membayar tenaga Kean yang memang sangat luar biasa.


"Keduanya sudah berhubungan enam bulan terakhir dan seperti yang anda lihat, hubungan keduanya semakin tidak sehat dan sudah melampaui batas."


"Apa motif anak ingusan ini?" tanya Devan dengan sebelah alis yang terangkat.


"Tentu saja uang, karena Amel begitu loyal kepadanya."


Ya, informasi yang Kean bawa tak lain adalah informasi yang diinginkan oleh atasannya.


Dan foto-foto yang saat ini ada di tangan Devan adalah foto-foto kebersamaan Amel dan Harris yang sudah melampaui batas wajar sebagai pasangan kekasih.


Devan yang mengerti ke mana arah pembicaraan barusan hanya mendengus saja.


'Sepertinya kehancuran semakin mendekati!' batin Devan begitu yakin.


Selepas kepergian Kean, Devan kembali ke kamar. Ternyata Bia sudah bangun dari tidurnya.


Melihat kedatangan Devan, Bia sepertinya hendak mengutarakan sesuatu. Devan yang memiliki kepekaan tinggi tentu saja langsung menyadarinya.


"Ada apa?" tanya Devan dengan ekspresi wajah datarnya.


Bukannya langsung menjawab, Bia malah menatap Devan. Kemudian wajahnya langsung saja menunduk.


"Kenapa?" ulang Devan sedikit tidak sabar.


"Em itu, pakaian dan barang-barangku yang di hotel. Aku melupakannya," kata Bia sangat hati-hati.


"Lihat di sana," tunjuk Devan pada pintu dengan cat coklat yang tidak jauh dari jarak keduanya berdiri.

__ADS_1


Bia langsung saja menuruti perkataan Devan, membuka pintu ruangan itu dengan hati-hati.


Bia langsung saja dikejutkan dengan pemandangan yang ada di ruangan yang Bia ketahui sebagai walk in closet.


Disana beberapa lemari berjajar dengan rapi, belum lagi beberapa etalase kaca dan laci-laci penyimpanan lainnya.


Bia tentu saja terpukau dan mengagumi pemandangan indah layaknya di sebuah toko ternama yang ada di pusat perbelanjaan, yang saat ini ada di hadapannya.


'Kamu ini!' tegur Bia pada dirinya sendiri saat dirinya mulai terlena dengan keindahan yang jelas-jelas semu ini.


Bia mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan, koper kecilnya ada di sudut ruangan.


Buru-buru saja Bia menghampiri dan mengecek isi di dalamnya.


Bia menghembuskan nafasnya pelan, semuanya masih komplit karena saat di hotel Bia memang tidak pernah membongkar ataupun mengacak-acakan isinya. Bia hanya mengambil barang-barang seperlunya saja kemudian kembali memasukkan barang yang sudah tidak digunakan.


"Berharga sekali sepertinya isinya?"


Bia kaget saat di belakangnya Devan bertanya dengan nada menyebalkan.


"Tentu saja."


"Saya tidak mengijinkan kamu menggunakan barang-barang itu lagi, simpan saja. Kalau perlu kamu musiumkan sekalian."


Bia langsung saja bangkit dari posisi jongkoknya. Kalau dirinya tidak boleh menggunakan beberapa pakaian miliknya, terus dirinya harus menggunakan apa.


"Aku tidak bawa baju ganti lainnya," ucap Bia pelan. Sungguh tatapan Devan saat ini sangat mengintimidasinya.


"Lihat di sana," kata Devan sambil menunjuk sebuah lemari menggunakan dagunya.


Sikap arogannya tidak pandang bulu, kecuali pada Gendis, omanya.


Bagaikan terhipnotis, Bia langsung saja menuruti perkataan Devan barusan, menggeser pintu lemari berwarna putih yang menjulang tinggi di hadapannya.


Kedua pipinya kembali bersemu saat melihat isi dari lemari yang ada di hadapannya, banyak sekali gaun malam dengan bahan transparan dengan warna yang begitu lengkap.


"Persiapkan diri kamu malam ini, saya ingin melihat sosok lain yang ada pada dirimu," bisik Devan tepat di samping telinga kanan Bia, hembusan nafas Devan langsung saja membuat tubuh Bia meremang sepenuhnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2