Sasaran Balas Dendam

Sasaran Balas Dendam
Mainan Baru Devan


__ADS_3

Tidak ada yang spesial di dalam kehidupan Devan, setelah dirinya merubah statusnya yang semula lajang menjadi suami dari anak gadis orang.


Pekerjaan tetap menjadi prioritas utama seorang Devan Addison.


"Kak?"


Devan yang semula sedang fokus pada layar laptop yang ada di hadapannya sontak saja mengangkat wajahnya ketika mendengar seseorang memanggil dirinya.


Davin sang adik sedang berjalan dengan santai ke arah dirinya, seperti biasa adik laki-lakinya itu memasuki ruangan miliknya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Sibuk terus kerja, bulan madu nya kapan?" tanya Davin setengah mengejek Devan.


"Memangnya harus?" Devan balik bertanya dengan pandangan yang kembali fokus pada layar laptopnya.


"Harus dong, biar aku cepet dapet ponakan," balas Davin.


Mendengar perkataan dari adiknya barusan Devan jadi teringat akan permintaan dari Gendis satu minggu yang lalu.


"Davin dan Jazlyn akan melanjutkan liburannya ke Raja Ampat, bujuk Davin untuk segera menikahi Jazlyn, Dev."


"Aku akan mencobanya."


"Oma yakin Davin akan menuruti perkataan kamu," kata Gendis sedikit lirih.


"Vin," panggil Devan.


"Yes?"


"Kapan rencana kamu akan menikahi Jazlyn?" tanya Devan dengan raut wajah serius.


Davin yang mendengar pertanyaan dari kakaknya langsung saja menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, pertanyaan dari kakaknya barusan adalah sebuah hal yang ingin sekali Davin hindari.


Davin merasa dirinya masih terlalu muda untuk membina yang namanya rumah tangga dan saat ini dirinya maupun Jazlyn sama sekali belum membahas atau memikirkan sampai ke arah sana.


Davin dan Jazlyn masih menikmati hubungannya yang sekarang.


'Tumben kakak tanya hal ini, biasanya juga no komen,' batin Davin yang belum menjawab pertanyaan dari kakaknya.


"Kakak harap kamu akan segera mempertimbangkan hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius."


"Tumben Kakak bahas hal ini? Biasanya juga gak pernah. Apa karena kakak ipar?" tanya Davin penasaran.


"Tentu saja bukan!" balas Devan dengan ketus.

__ADS_1


"Terus?" tanya Davin.


"Oma, karena Oma yang meminta."


Jika sudah disangkut pautkan dengan Gendis, baik Devan maupun Davin sendiri sama-sama tidak akan bisa berkutik. Sama seperti halnya Davin saat ini, pemuda itu hanya menundukkan kepalanya tanpa bisa menjawab perkataan kakaknya sama sekali.


*


Amel terbangun dengan perasaan yang tidak nyaman pada seluruh tubuhnya, gadis yang baru saja lulus SMA itu langsung saja loncat dari atas kasurnya saat perutnya terasa bergejolak begitu hebat.


Amel berdiri di depan wastafel sambil mengeluarkan seluruh isi perutnya, aroma menyengat dari alkohol kembali memenuhi indra penciuman Amel.


"Si4lan, selalu saja begini. Dasar br*ngsek!" Amel memaki dirinya sendiri yang selalu hangover setiap kali menegak minuman beralkohol.


"Mel?"


Amel yang baru saja merasa nyaman di perutnya kembali dikejutkan dengan panggilan dari Lisa di luar sana.


"Bentar Mah," jawab Amel.


Buru-buru saja Amel membersihkan wajahnya juga beberapa kali berkumur untuk menghilangkan jejak alkohol yang masih tertinggal di mulutnya.


Walaupun tadi malam Amel mabuk cukup parah, tapi dirinya bisa mengingat dengan jelas kalau tadi malam Lisa mengomeli dirinya habis-habisan.


"Iya, Mah, ada apa?" tanya Amel dengan wajah santainya, seolah tidak terjadi apa-apa tadi malam.


"Kamu ini masih aja tanya kenapa?" Lisa sepertinya benar-benar kesal dekat tingkah Amel yang semakin lama semakin sulit diatur.


Tentu saja Lisa ketakutan kalau sampai Amel benar-benar jauh dari kendalinya. Lisa tidak ingin kehilangan apa yang selama ini sudah dimilikinya.


"Emang kenapa sih, Mah?" tanya Amel yang malah kesal dengan raut wajah Lisa.


"Jangan pura-pura bodoh Amel, ingat kalau sampai ayah tahu kelakuan kamu akhir-akhir ini. Mamah yakin uang jajan kamu bakalan Ayah potong."


"Gitu aja repot, kan masih ada Mamah yang akan kasih aku uang jajan."


"Kamu ini ya, kok Mamah perhatiin makin kesini kamu semakin ngelawan aja? Kamu mau hidup susah kalau ayah marah? Apalagi sampai mengetahui kelakuan kamu di luar sana?" tanya Lisa sengaja mencecar Amel.


"Repot amat sih, Mah. Mana mungkin begitu lah, ayah mana tega sama kita," elak Amel yang memang sudah terkontaminasi dengan pergaulan yang saat ini, sehingga dirinya berani melawan Lisa.


"Kamu ini susah banget di bilangin!"


"Mamah aja yang repot, kalau ayah mau potong uang jajan aku. Aku tinggal minta aja sama Bia, dia kan hidupnya udah enak. Jadi istri orang kaya, masa iya adiknya minta uang jajan nggak dikasih?" tanya Amel dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


Lisa berdecak, sama sekali tidak mengerti perubahan yang terjadi pada anaknya itu. Semakin diperhatikan, Amel memang banyak berubah apalagi setelah lulus sekolah.


"Udah lah Mah, aku tahu kok apa yang harus aku lakuin. Mamah tenang aja gak usah rempong gitu!" lanjut Amel dengan gaya santainya.


"Pokoknya Mamah minta jangan sampai kamu kelewat batas. Mamah nggak bisa berbuat apa-apa kalau sampai itu terjadi," kata Lisa kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Amel.


"Ih rempong banget sih Mamah. Kayak orang yang tidak pernah merasakan masa muda saja," ucap Amel yang sama sekali tidak peduli dengan kekesalan Lisa.


Bunyi notifikasi di ponselnya semakin membuat Amel tidak menghiraukan Lisa yang memang sudah berlalu dari kamarnya.


Haris kekasihnya mengirimkan pesan kepadanya, dengan sebuah foto berisikan reservasi sebuah kamar hotel.


"Tau aja kamu," kata Amel dengan girang.


*


"Tuan," panggil Kean begitu tiba di depan meja kerja Devan, Kean langsung saja menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat kepada atasannya itu.


Tanpa banyak berkata, Devan langsung saja membuka amplop yang berisikan informasi yang dibawakan asisten pribadinya itu.


"Ck!" Hanya itu yang keluar dari mulut depan begitu melihat beberapa foto yang saat ini ada di tangannya.


"Saya berikan langsung kepada siapa, Tuan? Doni Subagja atau istrinya?" tanya Kean.


"Tunggu dulu, saya ingin yang lebih dahsyat daripada ini," balas Devan.


"Baik, Tuan."


Tanpa perlu dijelaskan lagi, Kean sudah mengerti apa yang diinginkan oleh atasannya itu.


Tidak ingin berlama-lama berada di ruangan atasannya, Kean langsung saja pamit undur diri untuk melakukan tugas selanjutnya.


Tugas mulia yang pastinya akan membuat sang atasan senang.


"Dinda Amelia Subagja," gumam Devan sambil memandang foto yang ada di tangannya.


"Sepertinya kamu mainan baru yang lebih menyenangkan!" lanjut Devan dengan seringai mengerikan di bibirnya.


"Cih! Dasar gadis ingusan!"


Devan menjatuhkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya. Foto-foto berisi informasi yang dibawakan Kean langsung saja Devan masukan ke salah satu laci yang ada pada meja kerjanya.


"Lisa? Aku rasa kamu sudah hidup nyaman selama ini, waktunya sudah dekat mama mertuaku sayang. Aku sangat berharap kamu merasakan sakit lebih parah dariku!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2