Sasaran Balas Dendam

Sasaran Balas Dendam
Emosi Devan pada Amel


__ADS_3

Devan yang melihat gelagat Amel sejak tadi tentu saja tidak bisa tinggal diam membiarkan gadis itu bertindak sesuka hatinya di wilayah kekuasaannya. Apalagi sampai mengganggu ketenangan Bia yang saat ini sedang membawa makhluk kecil yang tak lain adalah darah dagingnya sendiri.


Tanpa berpamitan pada Gendis, Doni dan Lisa, Devan bangkit dari duduknya begitu saja dengan alasan menerima panggilan telepon.


Sepertinya ketiga orang dewasa itu tidak menyadari kemana arah Devan pergi.


Dari jarak empat meter Devan memperhatikan Amel yang tengah mengetuk pintu kamar mandi yang sedang digunakan oleh Bia, Devan sengaja membiarkan Amel melakukan aksinya dan ingin mengetahui apa yang akan Amel lakukan pada Bia. 


Devan yakin Amel pasti akan memperlakukan Bia sama seperti ketika sedang berada di rumahnya. Devan sangat penasaran apakah Bia akan diam saja atau akan melawan.


“Bodoh,” gumam Devan saat melihat Bia hanya pasrah dan sepertinya tidak ada niatan untuk melawan.


“Ck, mau apa dia meminta Bia untuk membujuk saya supaya mengizinkannya tinggal disini? Saya tidak sudi menampung benalu seperti itu, apalagi yang sama sekali tidak ada gunanya,” sarkas Devan saat mendengar Amel yang memaksa Bia untuk membujuknya supaya mengizinkannya tinggal disini juga.


“Kamu ngomong aja langsung sama Devan.” 


Devan menyeringai saat mendengar balasan yang Bia ucapkan, Devan kira Bia akan diam saja dan tidak akan melawan.


“Good girl,” puji Devan.


“Kalau gue yang ngomong mana di izinin lah. Lu ini gimana sih? Bego apa pura-pura bego? Percuma sekolah tinggi, nilai cum laude tapi bego!”


Devan sampai menggelengkan kepalanya saat mendengar kalimat kasar yang barusan Amel katakan pada Bia. Devan semakin heran dengan tingkah Amel yang sama sekali jauh dari kata sopan.


Padahal Bia jelas-jelas kakak dari Amel sendiri tapi bisa-bisanya Amel berkata seperti itu pada Bia. Juga sikap keduanya yang sangat bertolak belakang.


Tanpa sadar Devan mengepalkan kedua belah telapak tangannya. Devan tentu saja tidak terima dengan perlakuan Amel yang memperlakukan Bia seenaknya.


Dengan alasan janin yang dikandung Bia, Devan merasa perlu turun tangan untuk melindungi anak dan juga istrinya. Padahal sebenarnya Devan tidak terima dengan perlakuan Amel kepada Bia.


Tanpa Devan sadari juga, sebenarnya nama Bia perlahan-lahan terukir dengan jelas di hatinya.


Devan melotot dengan tajam saat Amel dengan berani mencengkram dagu Bia. 


“Mel aku ini kakak kamu, bisa hormati aku, setidaknya bersikaplah sopan padaku.” 

__ADS_1


“Gue gak butuh ceramah dari elu, Biandra! Gue cuman butuh elu bujuk Kak Devan, gue mau tinggal disini! Enak aja elu enak-enak tinggal di rumah mewah sendirian!”


“Kamu bujuk saja sendiri, aku gak mau.”


“Elu cari masalah sama gue hah?  Pantes aja ayah sama mamah gak sayang sama elu, karena emang elu itu bandel. Pembangkang!” 


Dari jarak semakin dekat Devan bisa mendengar dengan jelas apa saja yang Amel katakan pada Bia. 


Devan mendekat dengan kedua tangan yang semakin terkepal dengan erat. Bia sepertinya tidak menyadari kehadiran Devan atau memang pura-pura saja, Devan tidak tahu. Tapi seharusnya posisi Bia bisa cukup jelas melihat kedatangan Devan. 


Amel menghempaskan dagu Bia dengan kasar, Devan murka bukan main. Amel memang perempuan sekaligus adik iparnya. Tapi Devan tidak mau tahu, Devan tidak peduli, siapa yang berani mengusik orang-orang terdekatnya berarti orang itu cari mati!


“Apa yang kamu lakukan?” teriak Devan tepat di belakang tubuh Amel yang sedang mengayunkan telapak tangannya di udara.


“K-kak Devan,” ucap Amel dengan gugup, gadis itu refleks menarik telapak tangan kanannya yang tadi hampir saja mendarat di pipi Bia.


“Kamu mau mencelakakan istri saya yang sedang hamil muda, HAH?” sentak Devan yang tidak bisa menahan emosinya yang sudah meluap.


“T-tidak, Kak, tadi di pipi Kakak ada semut,” elak Amel yang panik bukan main.


“Kamu kira saya bodoh Dinda Amelia Subagja?” tanya Devan, suaranya masih tinggi dan tentu saja terdengar sampai ke ruangan tempat Gendis, Doni dan Lisa sedang berbincang.


“Nyonya Lisa silahkan bawa anak kesayangan anda pulang, tolong didik putri mahkota anda dengan baik. Terutama bagian attitude-nya,” ucap Devan yang mengabaikan pertanyaan dari Gendis barusan.


Amel menelan ludahnya dengan kasar, apalagi saat melihat tatapan Doni yang terlihat sangat nyalang.


“Ini pasti salah paham saja Nak Devan.” Lisa angkat suara.


“Anda kira saya bodoh, Nyonya?” tanya Devan dengan nada sinis.


“Dev sudah, aku gak papa.” Bia berusaha menengahi.


“Kamu bilang tidak apa-apa?” tanya Devan dengan tatapan tajam ke arah Bia. “Ini apa, Biandra? Kamu gak mungkin kan melukai diri kamu sendiri untuk menyalahkan adik kamu?”


Bia sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan Devan barusan, Bia juga tidak menyangka cengkraman Amel di dagunya akan sampai meninggalkan bekas.

__ADS_1


Lisa yang melihat dagu Bia sedikit memerah tentu saja panik bukan main, sama paniknya dengan Amel yang saat ini wajahnya sudah memucat. Lisa sedikit melirik Doni, ternyata suaminya sedang menatap Amel dengan tatapan tajam. 


Sudut mata Lisa tak sengaja melihat sebelah tangan Doni yang terkenal di sisi tubuhnya.


“Nyonya Lisa?”


“Ah, ya?” Lisa tersentak kaget saat mendengar panggilan dari Devan yang terdengar sangat dingin di telinganya.


“Silahkan bawa pulang putri anda. Sekali lagi saya tegaskan jangan macam-macam pada istri saya, anda tahu konsekuensi apa yang akan putri anda dapatkan apalagi kalau sampai melukai calon anak saya.”


Amel dan Lisa sama-sama menelan ludahnya dengan kasar. Mereka berdua hanya bisa mengangguk dengan terpaksa.


“Ayo kita pulang,” ucap Doni tegas dan dingin, semakin membuat Lisa dan Amel ketar ketir di tempatnya. “Maafkan Ayah, Dev, Ayah pastikan kejadian ini tidak terulang lagi.”


“Harus!” sahut Devan dengan sangat tegas.


*


“Lisa?” panggil Doni saat di perjalanan pulang. “Sudah berapa kali aku katakan, didik anak kamu dengan baik?!”


“Yah, Mamah yakin ini hanya salah paham saja,” kata Lisa yang sengaja membela Amel.


Sementara Amel sendiri sejak tadi hanya diam dengan kepala yang tertunduk, Amel dalam hati terus saja merutuki Bia yang dianggapnya sengaja menjebaknya.


‘S!alan, awas aja kamu Bia!’


“Bela aja terus, jangan lupa apa yang sudah aku wanti-wanti kepadamu selama ini,” balas Doni sambil mengemudikan mobilnya.


“Iya, Yah.” Hanya itu yang bisa Lisa ucapkan saat ini, melawan pun percuma. Doni sudah termakan hasutan Devan.


Sama halnya dengan Amel, Lisa bukannya menyadari kesalahan apa yang sudah dilakukan Amel malah ikut mencaci dan memaki Bia dalam hati. Kebencian Lisa pada Bia semakin besar dan semakin menjadi-jadi.


‘Dasar anak pembawa sial, tau gini aku tidak sudi merawatnya sampai besar!’


Di hadapan Doni, sikap Lisa dan Amel sama-sama kompak menundukan wajahnya, bukan karena takut. Tapi mereka berdua sama-sama sedang memikirkan cara yang bisa mereka lakukan untuk membalas perbuatan Bia yang mereka anggap semena-mena.

__ADS_1


‘Awas saja Bia, kamu harus dapat balasan. Seharusnya Amel yang jadi nyonya muda Addison, bukan kamu!’


Bersambung...


__ADS_2