Sasaran Balas Dendam

Sasaran Balas Dendam
Chapter 35


__ADS_3

Devan memanggil Kean untuk meminta hasil investigasi dadakan yang harus Kean selesaikan dalam waktu kurang dari 24 jam.


Pernyataan dari Bia yang Devan dapatkan tentu saja membuat Devan semakin penasaran, Devan yang tidak biasa menunggu tentu saja ingin segera mendapatkan hasilnya dengan segera.


“Ini Tuan.” Kean menyerahkan apa yang bisa didapatkannya dalam waktu singkat.


Devan dengan segera membuka hasil penyelidikan yang sudah dilakukan oleh Kean. Untuk pertama kalinya Devan tidak sabar dengan apa yang ingin diketahuinya.


Devan tidak ingin menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya, apalagi sampai menyakiti orang yang sama sekali tidak terlibat dalam masalah yang terjadi di masa lalu.


Beberapa foto yang ada di tangan Devan langsung saja jatuh berserakan ke atas meja kerjanya. Kean yang melihat itu semua hanya mampu menghela nafasnya dengan dalam.


“Kenapa kamu baru menemukan ini semua?” bentak Devan dengan suara yang menggelegar.


“Maaf Tuan,” hanya itu yang bisa Kean ucapkan saat ini.


“Jadi kemungkinan Biandra bukan anak dari Lisa melainkan dari perempuan yang bernama Bahira ini?” tanya Devan dengan kedua tangan yang terkepal di atas meja kerjanya.


“Iya, Tuan, sesuai dengan kecurigaan saya.”


“Ini kita yang kecolongan atau mereka yang licik dan menyembunyikan semuanya dengan begitu rapat?”


“Tidak dua-duanya Tuan,” balas Kean dengan nada suara datar. Sedikitpun Kean tidak takut dengan apa yang saat ini dihadapinya. Kemarahan Devan adalah hal yang biasa baginya.


“Orang-orang kita sedang menyelidiki siapa sebenarnya perempuan yang bernama Bahira itu dan apa hubungannya dengan Lisa Sutena.  Dimana keberadaan perempuan itu dan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.”


Devan mengangguk dengan helaan nafas kasar yang jelas terdengar di telinga Kean. Bukan cuman Devan saja yang merasa lengah juga ceroboh dengan apa yang selama ini sudah mereka susun dengan rapi.


Ternyata pihak lawan lebih cerdik dan satu langkah berada di depan mereka. Yang pasti saat ini baik Devan maupun Kean sendiri sama-sama memikirkan satu hal, mereka harus hati-hati dan mungkin saja harus menyusun rencana kedua dan ketiga yang sangat jauh dari rencana pertama.


Selepas kepergian Kean, Devan kembali mengingat beberapa kejadian yang terasa begitu janggal.


Bia yang tidak pernah menyandang nama besar Subagja pada nama belakangnya, lebih tepatnya perempuan itu tidak pernah menggunakannya.


Hanya Amel yang diketahui sebagai putri dari Doni Subagja dan Lisa.


Bia yang menangis dan pergi dari rumah beberapa hari sebelum pernikahan mereka dilangsungkan dan kedua orang tuanya yang sama sekali tidak peduli dengan kepergian Bia.

__ADS_1


Perlakuan kasar Amel pada Bia saat makan malam perayaan kehamilan Bia beberapa hari lalu.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku melewatkan beberapa kepingan penting?” gumam Devan sambil mengusap wajah dengan begitu kasar.


Bayangan wajah polos Bia yang kadang-kadang penuh misteri kembali membayangi pikiran Devan. Ada sebuah rasa sesal yang Devan rasakan pada bagian hatinya yang terdalam saat membayangkan bagaimana kehidupan Bia sebelum menikah dengannya.


Begitu juga dengan perkataan Bia kemarin malam yang menyebutkan tidak ingin membuka luka lama yang sudah ditutupnya dengan begitu rapat. Belum lagi Bia yang sengaja menyuruh Devan untuk mencari tahu kebenaran atas semuanya.


*


Bia mencari Gendis ke rumah kaca yang berisi dengan berbagai macam tanaman bunga-bunga antik yang selama ini menjadi koleksinya.


Rupanya perempuan tua itu sedang membersihkan sebuah pot yang berisi tanaman anggrek yang sedang berbunga, bunga dengan warna putih yang berpadu dengan warna ungu itu terlihat sangat cantik dan begitu memanjakan mata.


“Oma,” panggil Bia yang sudah berada di samping Gendis.


“Bi, kamu tahu Oma ada disini?” tanya Gendis.


“Kalau Oma tidak ada di kamar pasti Oma ada disini,” balas Bia yang sebelah tangannya langsung saja menyentuh kelopak bunga anggrek itu. “Cantik sekali Oma.”


“Ya, cantik dan terlihat berkelas,” gumam Bia tanpa sadar.


“Oma yakin janin yang kamu kandung pasti perempuan,” balas Gendis dengan senyuman di bibirnya.


“Iya kah?” Bia membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Gendis dengan tatapan yang berbinar. “Kenapa Oma bisa menyimpulkan begitu?” tanya Bia yang tentu saja penasaran.


“Dulu waktu Oma hamil mama Devan, mertua kamu. Oma sangat menyukai bunga-bungaan, makanya sampai sekarang Oma selalu merawat dan menambah koleksi bunga dan tanaman lainnya, itu semata untuk mengenang momen manis yang pernah Oma lalui,” balas Gendis dengan pikiran yang menerawang jauh, mengingat momen di masa lalu yang tidak bisa dilupakan begitu saja.


“Jadi mamanya Devan anaknya Oma, aku kira papanya Devan yang anak Oma.”


“Kamu belum tahu masalah ini Bi? Devan tidak cerita atau belum?” tanya Gendis penasaran.


“Dia tidak cerita dan tidak akan bercerita,” balas Bia acuh tanpa sedikitpun menoleh ke arah Gendis.


“Bi, Devan sebenarnya orangnya sangat baik. Kamu bisa menilai sendiri bagaimana perlakuan Devan pada Oma dan perhatian Devan yang berlebihan pada Davin. Davin tidak betah berada di dekat Devan karena sikap Devan yang selalu berlebihan dan selalu saja memperlakukan Davin seperti anak kecil.”


Bia mengangguk setuju.

__ADS_1


“Oma yakin dibalik sikapnya yang dingin, acuh, arogan, Devan juga sangat menyayangi kamu.”


“Benarkah?” tanya Bia yang sebenarnya terkejut dengan apa yang barusan di dengarnya dari Gendis.


Rasa tidak percaya tentu saja lebih dulu memenuhi seluruh pikiran Bia. Bagaimana mungkin Gendis bisa menyimpulkan Devan menyayangi dirinya?


Bia memang membenarkan sikap Devan yang selama ini tidak pernah menyakiti dirinya, tapi itu semua tidak bisa Bia kategorikan sebagai rasa sayang ataupun cinta.


“Oma boleh aku minta sesuatu?” tanya Bia yang sengaja mengalihkan topik pembicaraan.


“Mau apa? Katakanlah,” balas Gendis dengan begitu lembut.


“Aku mau minta izin mengundang teman-temanku ke sini, Devia dan Rinjani,” ucap Bia.


“Silahkan, ajak saja mereka ke sini.”


“Terima kasih Oma, nanti aku bilang sama Devan dulu,” balas Bia yang merasa wajib meminta izin juga pada laki-laki yang menjadi suaminya.


*


“Sayang kenapa kamu baru kesini? Apa kamu tidak merindukanku?” tanya Haris dengan nada manja menyambut kedatangan Amel yang baru saja tiba di apartemennya.


“Kamu tahu sendiri kan gimana kerasnya mamah aku. Aku rasa mulai muak tinggal di rumah,” balas Amel yang langsung saja memeluk tubuh Haris.


“Sayang gimana kalau kamu daftar kulian aja,” usul Haris.


“Kamu sendiri kan tau aku belum mau pusing sama yang namanya pelajaran,” balas Amel yang tentu saja tidak suka dengan usul Haris barusan.


Haris yang sudah membalas pelukan Amel mengusap punggung perempuan yang menjadi kekasihnya dengan penuh kasih sayang.


“Nah itu dia, kamu gak usah kuliah beneran. Bilang aja sama orang tua kamu kalau kamu kuliah, jadinya kamu bisa bebas berada di luar rumah dalam waktu lama tanpa dicurigai terus-terusan.”


Usulan Haris barusan tentu saja dibalas dengan sebuah pagutan bibir yang memang sudah Amel inginkan sejak tadi. Sebuah ide yang menurut Amel sangat briliant dan Amel tentu saja akan menyetujui ide Haris barusan.


Berada di rumah merupakan sebuah penjara untuk Amel, apalagi ditambah dengan sikap Lisa yang menurut Amel untuk ini dan itu, tidak boleh begini dan begitu, semakin memuakkan dengan berbagai macam aturan yang harus Amel patuhi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2