Sasaran Balas Dendam

Sasaran Balas Dendam
Julia


__ADS_3

Devan bersama dengan Kean sedang menuju ke tempat asing yang baru saja mereka datangi, sebenarnya Devan sedikit tidak yakin mendatangi tempat yang baru pertama kali mereka kunjungi.


Tapi menurut Kean mereka bisa mendapatkan sedikit informasi mengenai hal yang selama ini mengganggu pikiran mereka berdua.


Dua mobil hitam milik Devan terparkir di sebuah halaman rumah yang bisa dikatakan sangat sederhana, jauh sekali dari hiruk pikuk kota dan padatnya pemukiman penduduk. Lingkungan disekitarnya begitu asri dan sangat menyejukan.


“Tuan?” Panggilan dari Kean membuyarkan lamunan Devan yang sedang menikmati suasana di sekitarnya yang tiba-tiba membuat Devan nyaman.


Devan menyakinkan diri kalau kedatangannya ke sini untuk mencari informasi bukan untuk liburan ataupun menikmati suasana sejuk disini.


“Orang yang kita cari sudah menyambut kita, Tuan,” kata Kean yang kembali menyadarkan Devan.


Seorang perempuan paruh baya berdiri di teras rumah itu, kerutan di keningnya menandakan kalau perempuan tua itu heran dengan kedatangan dua mobil hitam yang saat ini terparkir sempurna di halaman rumahnya.


Devan dan Kean menghampiri perempuan itu dan langsung berbasa basi menyapanya.


“Maaf kalian siapa ya?” tanya perempuan itu setelah membalas salam dan ucapan basa basinya dari Kean.


“Saya Kean dan ini bos saya, Tuan Devan.”


Perempuan itu terlihat menganggukan kepalanya dengan kedua mata yang memicing, mengamati dua laki-laki yang saat ini berdiri dengan gagah di hadapannya.


Raut wajah bingung tentu saja terlihat dengan jelas, sebab selama ini tidak ada orang berada yang berkunjung ke rumahnya.


“Apa anda benar Nyonya Julia, yang dulu pernah bekerja di rumah Doni Subagja.”


“Darimana anda tahu masalah itu?” tanya perempuan yang ternyata bernama Julia itu.


Julia mundur satu langkah saat menanti jawaban yang akan keluar dari bibir dua laki-laki yang saat ini menatapnya dengan begitu lekat.


Julia tentu saja sedikit ketakutan apalagi saat ini di rumahnya tidak ada siapa-siapa dan dirinya juga jauh dari dari para tetangga yang mungkin saat ini sedang sibuk berada di kebun mereka.


Kedatangan dua laki-laki dengan postur tinggi dan tegap itu tentu saja membuat Julia memikirkan hal buruk yang mungkin saja bisa menghampiri dirinya.


“Boleh kami masuk Nyonya?” tanya Kean.


Julia tampak ragu mendengar permintaan Kean barusan. Kean yang mengerti akan raut wajah yang saat ini ditampilkan Julia tentu saja langsung meyakinkan perempuan itu kalau kedatangan mereka bukan untuk tujuan jahat.

__ADS_1


“Kami membutuhkan sedikit informasi yang mungkin saja anda ketahui,” lanjut Kean.


Julia mempersilahkan Kean dan Devan masuk, kedua laki-laki yang saat ini duduk di sofa usang yang ada di ruang tamu rumah milik Julia tengah memperhatikan sekeliling ruangan yang sebenarnya tidak ada apapun yang menarik untuk diperhatikan.


Tapi tidak bagi Kean dan Devan, bisa saja salah satu hiasan dinding di rumah itu bisa memberikan petunjuk bagi mereka.


“Apa yang ingin anda berdua tanyakan?” tanya Julia masih dengan raut wajah tegangnya.


“Sejak kapan anda bekerja di rumah Doni Subagja dan kenapa ada saat itu tiba-tiba berhenti bekerja?” tanya Kean langsung pada inti pembicaraan dan inti tujuan kedatangan mereka ke sini.


Julia yang mendengar pertanyaan itu jelas saja langsung menghela nafasnya dengan sangat pelan dan dalam. Raut wajah yang semula tegang berubah sendu dan itu semua tak luput dari pengamatan mata elang Devan.


“Perempuan yang mempekerjakan saya meninggal dan tidak ada alasan bagi saya untuk tetap bertahan di rumah mewah yang tiba-tiba berubah menjadi neraka,” balas Julia dengan nada pelan.


“Siapa orang yang anda maksud?” Kali ini Devan yang angkat suara.


“Nyonya Bahira.”


*


Perubahan pada Doni semakin menjadi setelah Bia menikah dengan Devan, alasan laki-laki itu semakin kuat ketika menyeret nama besar keluarga Addison yang juga akan ikut malu kalau sampai Amel berbuat onar.


“Kemana Amel pergi sebenarnya?” gumam Lisa yang benar-benar merasa gelisah.


“Roy.” Satu nama itu langsung saja melintas di kepala Lisa saat dirinya tengah diliputi rasa gelisah seperti ini. “Aku harus meminta dia menyelidiki kemana Amel pergi, jangan sampai Mas Doni tahu lebih dulu. Bisa gawat kalau sampai hal itu terjadi.”


Lisa langsung saja mengirimkan pesan pada laki-laki yang bernama Roy dengan bibir yang terus saja menggerutu, mengumpat dan sesekali memaki tingkah Amel yang sekarang mulai susah diatur dan dikendalikan.


Disaat Lisa sedang gelisah Doni pulang dan melihat tingkah aneh Lisa. Sepertinya Lisa tidak menyadari kepulangan Doni dan sibuk berkirim pesan dengan Roy sambil mondar mandir.


“Lisa.” Suara berat dan tegas Doni langsung saja membuat Lisa tersentak kaget.


“Ayah kapan tiba?” tanya Lisa dengan gugup. ‘Semoga Mas Doni gak dengar apa yang barusan aku katakan,’ lanjut Lisa dalam hati.


“Istri macam apa kamu ini, suami pulang kerja saja kamu tidak sadar. Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Doni sambil menatap ponsel yang ada di tangan Lisa.


“Ah, ini aku lagi chattingan sama teman arisan aku,” elak Lisa beralasan.

__ADS_1


“Mana Amel?”


Lisa menelan ludahnya dengan sangat kasar, pertanyaan Doni barusan benar-benar membuat Lisa kelimpungan sekaligus ketakutan. Takut kalau sampai Doni curiga dan mengetahui kalau akhir-akhir ini Amel selalu pulang larut malam kadang-kadang dengan keadaan yang begitu kacau.


“Kenapa kamu diam? Aku hanya mau bilang kalau uang jajan Amel aku potong, tiap hari masuk terus notifikasi belanja! Jangan taunya ngabisin duit orang tua saja.”


Lisa diam dan tidak mampu membalas perkataan Doni barusan, Lisa hanya mengangguk pasrah. Takut kalau sampai uang bulanan dirinya juga ikut dipotong.


Doni berlalu meninggalkan Lisa yang masih diam membisu di tempatnya, bukan hal yang aneh bagi Lisa saat Doni acuh dan mengabaikan dirinya. Semua kemesraan dan hal romantis yang biasa mereka umbar di depan publik sebenarnya semua itu hanyalah sebuah sandiwara dan sebuah keharusan yang harus Lisa jalani untuk kehidupan mewahnya.


Pukul sebelas malam pintu kamar Amel terbuka, menampilkan si pemilik kamar yang langsung saja membanting pintu kamar dan langsung saja berjalan ke arah tempat tidur. Cara berjalan Amel sempoyongan dan bisa dikatakan kalau Amel saat ini sedang berada dibawah kendali alkohol.


“Ah sialan!” maki Amel yang baru saja merentangkan tubuhnya di atas kasur empuknya.


Lampu kamarnya tiba-tiba saja menyala, membuat Amel merasakan silau pada kedua matanya dan membuat Amel terpaksa membuka kedua kelopak matanya dan harus kembali merasakan kepalanya yang berputar.


“Mah, ngapain sih ada di kamar aku. Gak ada kerjaan banget sih!” gerutu Amel yang tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang saat tengah berjalan ke arah dirinya.


“AMEL!!” bentaknya yang membuat Amel langsung saja duduk dari posisinya yang semula terlentang di atas ranjang.


“A-ayah,” kata Amel dengan suara terbata.


“Jadi begini kelakuan kamu setiap malamnya, HAH?” bentak Doni tanpa ampun.


Lisa yang sejak tadi menunggu kedatangan Amel ternyata keduluan oleh Doni yang lebih dulu tiba di kamar Amel. Lisa merutuki dirinya yang tadi ketiduran di ruang tengah.


 Dan sekarang Lisa dibuat panik saat melihat Doni memergoki kelakuan Amel yang selama ini berusaha Lisa tutup-tutupi.


“Ini yang kamu bilang anak kamu gadis baik-baik dan bisa menggantikan Bia untuk menjadi istri dari seorang pewaris Addison?” Kini Doni beralih pada Lisa yang berdiri dengan wajah pucat diambang pintu kamar Amel.


“Kalau sampai kamu buat malu, Ayah pastikan kamu dan mamah kamu pergi dari rumah ini,” kata Doni dengan telunjuk yang mengarah ke depan wajah Amel yang tengah tertunduk.


Doni dengan wajah yang mengeras melewati Lisa yang masih diam di ambang pintu kamar. Bukannya Doni tidak tahu apa yang selama ini dilakukan Amel diluaran sana, hanya saja Doni masih diam dan membiarkan Lisa mengatasi kelakuan Amel yang semakin diluar batas wajar.


Tapi rupanya Lisa tidak bisa berbuat tegas pada Amel dan malah membuat Amel semakin menjadi-jadi. Mau tidak mau Doni harus turun langsung, Doni tidak ingin nama baiknya tercoreng karena kelakuan Amel.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2