
Devan kembali menyeringai sambil mengatur pernafasannya, dadanya terlihat naik turun dengan nafas yang masih memburu.
"Kamu harus banyak berlatih," ucapnya dengan mata masih terpejam kepada Stevani yang tengah terbatuk-batuk di hadapannya.
Devan kembali merapikan celana hitamnya, berlalu begitu saja meninggalkan Stevani yang masih duduk bersimpuh diatas lantai dengan wajah yang memerah.
'Sial!' umpat perempuan itu dalam hati.
Semuanya diluar dugaan nya, dia kira Devan akan menggagahi dirinya. Tapi nyatanya laki-laki arogan itu malah menyiksanya sendirian. Stevani harus berjuang lebih keras untuk membuat Devan melepaskan hasratnya.
"Ambil ini!" Devan menyerahkan selembar cek kepada sekretarisnya. "Kamu boleh kembali ke tempat kamu," lanjutnya dingin seolah tidak terjadi apa-apa diantara keduanya.
Stevani tersenyum lebar saat melihat cek yang barusan Devan berikan, jumlahnya lebih besar dari gaji dia selama sebulan bekerja sebagai sekretaris Devan.
"Saya permisi," ucap Stevani sebelum meninggalkan ruang kerja Devan dengan sang pemilik yang sedang berdiri dekat kaca besar di ruangannya.
"Panggilkan OB."
"Baik, Tuan."
Stevani sekilas melirik ke arah atasannya, kemudian tersenyum simpul berlalu dari ruangan Devan.
'Pengendalian yang luar biasa,' batinnya sambil meraih gagang telepon untuk menghubungi OB dan menyuruhnya membersihkan ruang kerja Devan begitu tiba di meja kerjanya.
***
Devan berlalu menuju ruang istirahatnya yang ada di dalam ruang kerjanya. Sementara seorang OB tengah membereskan kekacauan yang tadi dibuat olehnya.
Dibawah guyuran air dingin, Devan berusaha meredam hasrat kelelakiannya.
Entah sejak kapan dia hanya melakukan pelepasan saja dengan perempuan bayaran yang harus bekerja keras untuk membuatnya puas.
Dengan uang yang berlimpah, Devan dengan mudah menggelontorkan uang dalam jumlah besar untuk membayar wanita-wanita panggilan itu.
Devan sadar betul, tidaklah mudah untuk membuat dirinya merasakan pelepasan.
"Apa yang sebenarnya kamu cari, Dev?" tanyanya dengan air yang terus mengguyur tubuhnya yang masih berbalut kemeja dan juga celananya.
Devan berkali-kali mengusap wajahnya yang basah dengan air dari shower.
"Dimana kamu? Bagaimana kabar kamu sekarang?" tanyanya lagi entah kepada siapa.
Tiba-tiba terlintas begitu saja wajah Bia dalam benaknya.
__ADS_1
"Ck!" decaknya kesal, kenapa harus wajah Bia yang melintas.
Setengah jam kemudian Devan keluar kamar mandi dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya, menunjukan postur tubuhnya yang seperti binaragawan itu. Sebelah tangannya tengah menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
Waktu menunjukan sudah sore hari dan Devan sedang tidak ingin bergelut dengan pekerjaannya.
Kita bertemu di cafe biasa. Sebuah pesan singkat berhasil Devan kirim dari ponsel pintarnya.
Devan bergegas mengambil kaos hitam dan celana jeans pendek miliknya.
***
"Astaga mimpi apa gue?" Anton memegang sebuah undangan dengan tangan yang gemetar.
"Jo gue gak lagi mimpi kan?" tanyanya kepada sang teman yang juga tengah memegang undangan di tangannya.
"Gak tau gue juga bingung ini asli atau prank," balas Johan.
"Ck!" Devan berdecak sambil menatap malas ke arah kedua temannya yang dianggapnya terlalu berlebihan.
"Sejak kapan keluarga Subagja punya dua anak?" tanya Johan kemudian.
"Gue gak tau," balas Anton yang masih mengatasi keterkejutannya atas undangan yang diberikan Devan kepadanya. "Dev, lu mau nikah kontrak?"
"Ya, kali elu mau nikah kontrak ala-ala drama yang selalu bini gue lihat," elak Anton.
"Emang ini gak konyol, Dev? Gak ada ujan gak ada angin. Tiba-tiba ada badai," balas Johan.
"Ck, gue gak nikah salah. Gue mau nikah juga salah, mau kalian apa sih?" tanya Devan yang mulai jengah dengan sikap berlebihan kedua sahabatnya.
"Gue juga bingung."
"Sama," balas Anton.
Devan tidak ingin melayani kasak kusuk kedua sahabatnya itu, Devan memilih meneguk kopi pahit miliknya.
Rasa pahit mulai terasa di lidahnya, kemudian melewati kerongkongannya. Rasa pahit yang selalu dia nikmati, selain rasa menyengat dari minuman beralkohol yang selalu di teguknya.
"Dev serius gue tanya, ada apa sampai-sampai kalian mau nikah dadakan gini?" tanya Anton kemudian. "Elu gak MBA kan?"
"MBA apaan?" Pernyataan Johan mewakili pertanyaan Devan juga.
"Married By Accident," balas Anton santai.
__ADS_1
Satu batang rokok yang hendak di sulut Devan melayang ke arah wajah Anton.
"Sialan!" maki Devan.
Johan dan Anton tergelak bersama saat melihat ekspresi murka sahabatnya, entahlah tidak ada takut-takutnya dua orang ini dengan wajah murka Devan. Malah kedua laki-laki dewasa itu merasa sangat terhibur.
"Siapa tau aja cebong elu mendarat di rahim tu cewe," balas Anton setelah tawanya mereda.
Devan memilih menghembuskan asap putih ke udara, menimpali ucapan Anton dan Johan hanya akan membuat dirinya semakin terpojok.
Anton dan Johan adalah kelemahan Devan, kedua sahabatnya itu yang paling bisa membuat dirinya semakin terpojok dan kalah. Maka dari itu cara terbaik agar terhindar dari cemoohan keduanganya, adalah diam dan kembali memasang tampang datar dan dingin.
"Gue duluan," pamit Devan setelah bosan mendengarkan celoteh kedua sahabatnya yang sudah seperti perempuan itu.
"Kuy cabut lah, gue juga mau pulang."
"Bayarin, Dev," ucap Anton yang ikut beranjak dari duduknya.
Ketiga lelaki dewasa itu memasuki kendaraan masing-masing, Devan mengemudikan mobilnya sendiri dengan diikuti mobil bodyguard di belakangnya.
Devan melajukan mobilnya menuju kediaman miliknya. Pelan namun pasti mobil hitam itu perlahan berbaur dengan kendaraan lainnya.
Saat di perjalanan pulang Devan tidak sengaja melihat perempuan yang tengah berjalan berlawanan arah dengan dirinya.
Awalnya Devan hendak membiarkannya sendirian, bukan urusannya juga. Tapi entah kenapa hatinya tergerak untuk menghampiri perempuan itu.
Devan memutar mobilnya diikuti mobil hitam yang menjaga jarak di belakangnya.
Saat mobilnya sudah searah dengan perempuan itu, Devan malah menghentikan mobilnya di pinggir dalam, memandang rambut panjang yang tergerai dan beriak di terpa angin malam.
Devan mendengus kesal, saat menyadari dirinya tengah memperhatikan perempuan yang terus berjalan menjauh dari pandangannya.
Untuk beberapa saat Devan masih berdiam diri di posisinya, tidak ada pergerakan sama sekali. Matanya juga menatap kosong ke depan, tidak lagi memperhatikan perempuan yang sudah menghilang dari pandangannya.
Sorot mata yang menatap kosong tapi terlihat jelas memancarkan kemarahan dan kebencian yang mendalam. Wajahnya mulai terlihat menggelap, dengan kasar Devan menginjak pedal gasnya, sehingga mobil miliknya melaju mendadak dengan kencang.
Devan mencengkram erat kemudi mobilnya, amarahnya mulai naik ke ubun-ubun dan dengan kasar juga Devan menginjak rem mobilnya, menciptakan decitan nyaring antara ban mobil dan aspal yang saling bergesekan.
Bunyi klakson dari kendaraan di belakangnya membuat Devan semakin murka.
Dengan kasar Devan menurunkan kaca mobilnya, menatap nyalang perempuan yang tengah terkejut dan juga tengah menatap ke arahnya.
"MASUK!" teriak Devan terdengar menggelegar, membelah gelapnya malam yang belum larut kala itu.
__ADS_1
Bersambung…